Bandung — Jangan menunggu seorang anak menjadi mampu atau sempurna terlebih dahulu baru kemudian memberinya kesempatan mencoba, seperti disampaikan oleh Yuly Twins kepada awak media pada Jumat (6/11/2026).
Baginya, pemikiran tersebut bukan sekadar prinsip pengasuhan, melainkan gagasan yang mendasari perjalanan kreatifnya sebagai produser, promotor, penyanyi, penulis lagu, sekaligus salah satu pendiri TEMANHEBAT RECORDS.
Yuly Twins pada Jumat (30/10/2026) merilis official lyric video lagu terbarunya yang berjudul “Tak Bisa Melepasmu” di kanal YouTube Senada Studios. Lagu tersebut menjadi original soundtrack buku Tutur Rasa 3.
Melalui musik, Yuly ingin membangun ruang yang memungkinkan setiap anak menemukan potensi dirinya tanpa harus memenuhi standar kesempurnaan yang ditetapkan orang lain.
Berangkat dari pengalamannya mendampingi Kenneth Trevi, putranya yang merupakan remaja dengan disleksia, ia mengembangkan inisiatif kreatif yang membuka kesempatan bagi lebih banyak anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, untuk belajar, berkarya, dan memperoleh pengakuan atas kemampuan mereka.
Bersama TEMANHEBAT RECORDS dan Senada Music Group, Yuly membangun ekosistem kreatif yang menempatkan keberanian mencoba sebagai bagian penting dari perjalanan bermusik.
Baginya, musik bukan hanya tentang menghasilkan karya atau menghadirkan hiburan, tetapi juga tentang menciptakan kesempatan, membangun kepercayaan diri, dan membantu talenta muda menemukan suara mereka sendiri.
Yuly memandang berbagai perannya di industri musik sebagai bagian dari perjalanan yang saling terhubung. Ia menikmati proses ketika sebuah gagasan berkembang menjadi karya, seorang talenta menemukan panggung, dan musik menjadi medium untuk menyampaikan sesuatu yang tidak selalu mudah diungkapkan melalui kata-kata.
Visi tersebut menjadi landasan TEMANHEBAT RECORDS dalam memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar sekaligus menghasilkan karya sendiri. Label yang lahir dari perjalanan Yuly sebagai seorang ibu ini dirancang sebagai ruang bagi anak berkebutuhan khusus untuk mencoba, berkembang, dan berkarya tanpa harus merasa perlu menjadi hebat terlebih dahulu.
“Anak-anak berkebutuhan khusus juga memiliki potensi dan layak mendapatkan kesempatan untuk berkarya,” ungkap Yuly. Ia berharap semakin banyak anak berani memulai perjalanan kreatif, menikmati proses belajar, dan menemukan sesuatu yang dapat mereka banggakan melalui karya sendiri.
Sebagai promotor, Yuly juga ingin menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna daripada sekadar pertunjukan. Melalui AntiBully Fest, misalnya, kampanye antiperundungan dipadukan dengan aktivitas yang memungkinkan anak-anak tipikal dan anak berkebutuhan khusus berinteraksi, saling membantu, serta membangun pertemanan.
Mereka juga memperoleh kesempatan tampil dan membawakan karya orisinal di hadapan teman-temannya. Bagi Yuly, panggung dapat menjadi ruang belajar yang membantu anak membangun keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan menghargai perbedaan.
Perjalanan mendampingi Kenneth mengubah cara pandang Yuly terhadap perkembangan anak. Ia belajar bahwa setiap anak memiliki jalur pertumbuhan yang berbeda dan tidak seharusnya dipaksa mencapai kemampuan atau standar yang sama dengan anak-anak lainnya.
Pengalaman tersebut mengajarkannya untuk tidak hanya melihat kesulitan yang dihadapi seorang anak, tetapi juga mengenali kemampuan yang dapat menjadi kekuatannya. Yuly percaya bahwa waktu, pendekatan yang tepat, kepercayaan, dan kesempatan mencoba dapat membantu anak menemukan potensi yang sebelumnya belum terlihat.
“Keberhasilan seorang anak bukan tentang seberapa jauh ia mampu mengejar anak lain, tapi seberapa jauh ia telah bertumbuh dari diri dia yang dulu,” tuturnya.
Pemikiran tersebut menjadi dasar pandangannya terhadap inklusivitas di industri musik. Menurut Yuly, anak berkebutuhan khusus perlu memperoleh kesempatan yang tidak terbatas pada panggung khusus, tetapi juga ruang yang sama untuk menunjukkan kemampuan dan mendapatkan apresiasi.
Ia memahami bahwa panggung khusus memiliki manfaat dalam menyediakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Namun, ruang tersebut seharusnya menjadi salah satu pilihan, bukan satu-satunya tempat bagi mereka untuk berkembang.
Inklusivitas, bagi Yuly, berarti mengubah cara pandang masyarakat dari melihat kondisi menjadi mengenali potensi. Anak berkebutuhan khusus perlu dikenal melalui karya, proses, dan pencapaiannya, bukan semata-mata melalui kondisi yang dimiliki.
Dalam perjalanan musikal Kenneth, Yuly berusaha menjaga keseimbangan antara perannya sebagai ibu dan produser. Ia menyadari bahwa mendampingi seorang anak dalam berkarya tidak berarti membentuknya menjadi musisi sesuai dengan keinginan orang tua.
Sebagai ibu, ia ingin memastikan Kenneth merasa aman dan nyaman menjalani proses kreatif. Sementara sebagai produser, ia perlu melihat kemampuan putranya secara objektif, mengenali hal-hal yang masih dapat dikembangkan, dan mengarahkan proses berkarya tanpa menghilangkan karakter personal Kenneth.
Yuly ingin musik menjadi ruang bagi putranya untuk menemukan identitas, membangun kepercayaan diri, mencoba hal-hal baru, dan belajar menyampaikan keinginannya. Ia juga ingin Kenneth memiliki kebebasan untuk membuat kesalahan dan belajar dari pengalaman tersebut.
Baginya, hasil akhir sebuah karya memang penting, tetapi proses yang dijalani Kenneth memiliki arti yang lebih mendalam. Setiap lagu harus menjadi sesuatu yang dapat dikenali, dimiliki, dan dibanggakan Kenneth sebagai bagian dari dirinya sendiri.
Pada 2026, Yuly kembali menulis album penuh kedua untuk Kenneth. Berbeda dari album pertama yang banyak berbicara tentang perjuangan menghadapi tantangan dan menjaga kekuatan diri, album kedua ini bergerak menuju wilayah yang lebih personal dan reflektif.
Keenam lagu dalam album tersebut tidak sejak awal dirancang untuk membentuk sebuah alur cerita. Lagu dan liriknya lahir secara terpisah, sebelum akhirnya memperlihatkan hubungan emosional yang menyatukan keseluruhan album.
Yuly menemukan bahwa keenam lagu tersebut membentuk perjalanan untuk mengenali diri, menerima diri, dan menyadari bahwa seseorang sudah cukup dan utuh tanpa harus menjadi orang lain. Melalui album ini, ia ingin menyampaikan bahwa pertumbuhan tidak harus selalu diukur melalui perbandingan dengan orang lain.
Pada 31 Oktober 2026, Yuly meluncurkan buku Tutur Rasa 3 sebagai salah satu penulis sekaligus merilis single terbarunya, “Tak Bisa Melepasmu”, yang menjadi soundtrack buku tersebut. Kedua karya ini mempertemukan dunia literasi dan musik melalui pengalaman personal tentang perjalanan seorang ibu bersama anaknya.
Proses kreatif bermula dari tulisan mengenai perjalanan Yuly dan Kenneth yang kemudian menjadi bagian dari kumpulan cerita para ibu dalam buku tersebut. Setelah buku selesai, Yuly diminta menciptakan sekaligus menyanyikan lagu yang dapat menjadi soundtrack, sehingga lahirlah “Tak Bisa Melepasmu”, yang ditulisnya bersama Rulli Aryanto.
Meskipun lahir melalui proses berbeda, kedua karya tersebut membawa pesan emosional yang sama. Buku menjadi ruang untuk menceritakan perasaan, sementara lagu menjadi medium untuk menyuarakan perasaan tersebut.
Di balik keduanya terdapat refleksi tentang cinta seorang ibu yang ingin selalu menjaga anaknya, tetapi juga harus belajar memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh. Bagi Yuly, pengalaman tersebut bukan hanya tentang kasih sayang, melainkan juga keberanian untuk mempercayai perjalanan anak dalam menemukan kehidupannya sendiri.
Sebagai penulis lagu, Yuly biasanya memulai proses kreatif dari pengalaman, cerita, atau perasaan yang kuat. Ia menyukai pendekatan storytelling, dengan lirik yang memiliki alur dan mampu membawa pendengar mengikuti perjalanan cerita serta emosi yang ingin dihadirkan.
Pengalaman personal sering menjadi titik awal penciptaan lagu, tetapi ia berusaha mengemasnya agar pendengar dari latar belakang berbeda tetap dapat menemukan pengalaman dan perasaan mereka sendiri. Dengan demikian, sebuah cerita yang berangkat dari kehidupan pribadi dapat berkembang menjadi pengalaman bersama melalui musik.
Di balik berbagai perannya, Yuly mengakui bahwa membangun ekosistem musik inklusif bukanlah proses yang mudah. Keterbatasan waktu, tenaga, dan sumber daya menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika ia harus menyeimbangkan tanggung jawab profesional dengan perannya sebagai ibu yang mendampingi perjalanan Kenneth.
Ia belajar mengenali batas diri, menentukan prioritas, dan menerima bahwa tidak semua hal dapat dilakukan sekaligus. Namun, keinginan membangun ruang yang aman dan mendukung bagi Kenneth tetap menjadi alasan utama yang mendorongnya melanjutkan perjalanan tersebut.
Pada awalnya, Yuly hanya ingin membangun sebuah dunia kecil bagi putranya, tempat Kenneth dapat bertumbuh, berkarya, dan memiliki lingkungan yang mendukung. Seiring waktu, ia menyadari bahwa banyak anak lain mungkin memiliki kebutuhan dan harapan serupa, sehingga ruang yang dibangunnya dapat memberikan manfaat lebih luas.
Yuly ingin apa yang dibangun hari ini tidak hanya menjadi panggung bagi Kenneth, tetapi juga fondasi yang dapat membantu putranya berpijak di masa depan. Ia berharap ruang tersebut terus berkembang dan menjadi tempat bagi lebih banyak anak untuk menemukan kesempatan yang mungkin belum mereka dapatkan sebelumnya.
Bagi Yuly, warisan tidak harus selalu berupa sesuatu yang besar atau nama yang terus dikenang. Ia berharap karya dan ruang yang dibangunnya dapat memberikan manfaat serta tetap memiliki arti bagi orang lain di masa mendatang.
Ia ingin meninggalkan nilai bahwa setiap anak memiliki potensi, setiap orang memiliki proses pertumbuhan masing-masing, dan setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk mencoba serta berkarya. Nilai tersebut diharapkan dapat terus dibawa oleh Kenneth dan para talenta yang pernah memperoleh dukungannya.
Melalui TEMANHEBAT RECORDS, Senada Music Group, karya-karya musikal Kenneth, serta berbagai inisiatif sosial dan kreatif yang dijalankannya, Yuly Twins menawarkan perspektif lebih luas tentang masa depan industri musik. Sebuah masa depan ketika keberhasilan tidak hanya diukur melalui popularitas atau pencapaian komersial, tetapi juga melalui kesempatan yang diciptakan, potensi yang dikembangkan, dan kehidupan yang dapat berubah melalui musik.
(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)



