JOMBANG — Duduk berdampingan di tempat kerjanya, berbincang santai tanpa sekat, itulah momen yang dialami Bapak Tarmudi, warga Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, saat Serda Surateman menyempatkan diri berkunjung dan mengobrol langsung dengannya, Minggu (1/11/2026). Di sela sela kesibukan menyelesaikan urusan sehari hari, kehadiran anggota Satgas TMMD ke 130 ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan pertemuan yang menyentuh hati.
Bapak Tarmudi menceritakan, awalnya ia mengira anggota TNI hanya fokus pada pekerjaan pembangunan fisik di lokasi proyek. Namun saat Serda Surateman datang, duduk bersama, dan bertanya dengan tulus mengenai kehidupannya, ia merasa diperhatikan secara pribadi, bukan sekadar sebagai warga yang ditemui di jalan.
“Beliau datang bukan untuk menanyakan hal yang berat, melainkan bertanya kabar, kesibukan sehari hari, serta apa yang menjadi kendala kami. Cara bicaranya sangat ramah, persis seperti saudara sendiri yang berkunjung. Saya merasa nyaman bercerita, tidak ada rasa canggung sama sekali,” ujar Bapak Tarmudi.
Ia menambahkan, komunikasi yang akrab seperti ini membuat kehadiran Satgas TMMD terasa jauh lebih dekat dan bermakna. Bagi warga, kedekatan batin ini sama pentingnya dengan pembangunan fisik yang sedang dikerjakan di desanya.
“Bangunan memang bisa terlihat mata, tapi keakraban yang terjalin ini menyentuh hati. Semoga hubungan kekeluargaan ini tetap terjaga meski program TMMD nanti telah selesai,” tambahnya.
Serda Surateman menjelaskan bahwa kegiatan komsos humanis ini dilakukan untuk memastikan kehadiran TNI benar benar dirasakan di tengah kehidupan masyarakat. Komunikasi yang terbuka dan santai menjadi jembatan agar warga tidak ragu menyampaikan aspirasi maupun kendala yang dihadapi.
“Kami ingin warga menyadari bahwa kami ada di sini untuk mereka, bukan hanya sebagai pelaksana tugas, melainkan bagian dari mereka. Semakin kami saling mengenal, semakin kuat pula kemanunggalan TNI dengan rakyat,” tegasnya.
Bagi warga Desa Klitih, pertemuan sederhana ini menjadi bukti nyata: kebersamaan yang tulus lahir bukan dari hal yang megah, melainkan dari kehadiran yang hadir mendengarkan dan peduli.(*)



