Mengungkap perbedaan global mengenai bagaimana biaya dan stigma memengaruhi akses terhadap layanan kesehatan mental profesional
LONDON – Penelitian terbaru dari Mind Health Report 2026 oleh AXA Global Healthcare, yang berjudul ‘Mendapatkan Dukungan yang Tepat’ (Reaching the Right Support), menemukan bahwa sepertiga (33%) orang yang memiliki masalah kesehatan mental namun belum menemui tenaga profesional menyatakan bahwa biaya konsultasi medis dan pengobatan menghalangi mereka untuk mencari bantuan.
Sementara itu, 15% lainnya menyebutkan rasa takut akan stigma atau penilaian negatif dari orang lain sebagai kendalanya. Namun, tingkat hambatan ini bervariasi di setiap negara.
Biaya konsultasi medis dan pengobatan menjadi hambatan yang lebih besar di negara-negara tertentu dibandingkan negara lainnya. Sebanyak 50% responden di Meksiko dan 49% di Filipina menyatakan bahwa biaya menghalangi mereka untuk mencari bantuan, angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan di Jerman (15%) dan Turki (17%).
Penelitian ini mengaitkan perbedaan tersebut dengan sistem pendanaan layanan kesehatan mental. Di negara di mana masyarakat harus membayar langsung untuk konsultasi dan pengobatan, mencari dukungan akan menimbulkan beban finansial yang lebih berat dibandingkan di negara yang menyediakan layanan kesehatan melalui pendanaan publik atau asuransi kesehatan wajib.
Stigma sebagai hambatan juga bervariasi dan sering kali berakar pada sikap sosial serta budaya. Penelitian ini menemukan bahwa stigma menjadi hambatan yang lebih besar di negara-negara seperti Inggris, Korea Selatan, dan Hong Kong, dibandingkan di Swiss, Turki, dan Thailand.
Stigma secara luas diakui sebagai alasan mengapa seseorang menunda untuk mencari bantuan, dan penelitian ini mengaitkannya dengan seberapa baik kondisi kesehatan mental seseorang dikelola.
Di Inggris, di mana seperempat (25%) responden menyebutkan stigma sebagai kendala, hanya sekitar sepertiga (36%) dari mereka yang memiliki masalah kesehatan mental menyatakan bahwa kondisi mereka tertangani dengan baik.
Sebaliknya, di Thailand, di mana 13% responden menganggap stigma sebagai hambatan, angka orang yang menyatakan kondisi mereka tertangani dengan baik mencapai lebih dari setengahnya (52%).
Hambatan-hambatan tersebut juga memengaruhi ke mana seseorang mencari dukungan.
Data menunjukkan sebuah pola: di negara dengan hambatan biaya yang lebih besar, penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligenc/AI) cenderung lebih tinggi.
Sebagai contoh, di Filipina, tujuh dari sepuluh orang (71%) menggunakan perangkat berbasis AI untuk mendukung kesehatan mental mereka.
Individu yang terkendala oleh stigma cenderung lebih sering memanfaatkan AI; 60% di antaranya menggunakan teknologi ini untuk mencari informasi mengenai pengelolaan kesehatan mental, dibandingkan dengan 52% dari mereka yang tidak mengalami kendala tersebut.
“Sebagai seorang dokter, saya tidak memandang AI sebagai pengganti terapis, psikolog, atau psikiater. Saya melihatnya sebagai pintu gerbang potensial menuju layanan kesehatan. Bagi banyak orang, AI bisa menjadi langkah awal yang mudah diakses untuk mencari bantuan. Namun, masa depan AI dalam bidang kesehatan mental harus diukur berdasarkan kemampuannya dalam membantu seseorang mendapatkan perawatan yang tepat lebih dini, mendeteksi risiko lebih cepat, serta meningkatkan hasil kesehatan secara aman,” ujar Dr. Anne Lepetit, Chief Medical Officer di AXA Health Business.
Mereka yang tinggal atau bekerja di luar negara asal sering kali menghadapi tantangan tambahan saat mencari layanan kesehatan mental profesional—mulai dari kendala bahasa dan jarak dengan orang-orang terkasih, hingga ketidaktahuan mengenai sistem layanan kesehatan setempat.
Menentukan ke mana harus mencari bantuan bisa menjadi lebih sulit, dan bagi banyak orang, AI telah menjadi bagian dari proses pencarian tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa dua dari lima orang (40%) menggunakan AI untuk menemukan tenaga medis atau fasilitas kesehatan yang sesuai.
Selain itu, kelompok ini juga lebih cenderung menggunakan AI untuk mencari informasi tentang pengelolaan kesehatan mental dibandingkan penduduk lokal (52% berbanding 47%).
Biaya konsultasi dan perawatan menjadi hambatan utama bagi mereka untuk mendapatkan dukungan profesional (36%); hal ini mungkin mencerminkan kompleksitas tambahan dalam memahami sistem layanan kesehatan, ketentuan kelayakan, serta asuransi di negara lain.
Baik karyawan bekerja di dalam maupun luar negeri, pemberi kerja memiliki peluang untuk mengurangi hambatan-hambatan tersebut.
Membangun budaya yang penuh kepercayaan dan keterbukaan—di mana setiap orang dapat membicarakan kesehatan mental mereka tanpa rasa takut akan penghakiman atau dampak negatif terhadap karier—dapat membantu mengatasi stigma.
Namun, budaya saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan dukungan yang tepat saat seseorang memutuskan untuk mencari bantuan.
Penyediaan solusi yang menjamin kerahasiaan serta meringankan beban biaya konsultasi dan perawatan akan memastikan bahwa dukungan tersedia tepat saat karyawan siap untuk mencarinya.
Laporan Kesehatan Mental (Mind Health Report) tahun ini menegaskan pentingnya mempermudah akses terhadap dukungan kesehatan mental profesional.
Delapan dari sepuluh karyawan menyatakan bersedia mengikuti program dukungan kesehatan mental di tempat kerja, namun dua pertiganya mengatakan bahwa program tersebut tidak tersedia atau mereka tidak mengetahui keberadaannya.
Menjembatani kesenjangan ini merupakan bagian penting dalam meningkatkan akses terhadap dukungan, dan dalam hal ini, organisasi memiliki posisi unik untuk membawa perubahan nyata.
“Di AXA, kami membantu organisasi menciptakan lingkungan kerja di mana kesehatan mental dapat dibahas secara terbuka, individu dapat mengenali kapan mereka membutuhkan dukungan, serta layanan yang mereka perlukan menjadi lebih mudah ditemukan dan diakses. Mulai dari pelatihan kesadaran kesehatan mental dan perangkat pemeriksaan mandiri hingga layanan khusus untuk mendukung karyawan, solusi global kami membantu perusahaan menjadikan kesehatan mental sebagai prioritas bisnis, bukan sekadar tunjangan,” ujar Alain Zweibrucker, Chief Executive Officer AXA Health Business dan AXA Health International.



