Jakarta – Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL), organisasi perdamaian internasional yang berkomitmen mewujudkan perdamaian dunia melalui pendidikan, dialog, dan kerja sama, bersama International Peace Youth Group (IPYG), organisasi kepemudaan global yang berfokus pada pemberdayaan generasi muda sebagai agen perdamaian, menyelenggarakan Youth Interfaith Dialogue Training secara daring pada Sabtu (4/7).
Pelatihan ini merupakan tahapan lanjutan dari Youth Empowerment Peace Class (YEPC) yang memberikan kesempatan kepada peserta terpilih untuk mempraktikkan dialog lintas agama sebagai bagian dari pengembangan kepemimpinan perdamaian.
Ketua IPYG Indonesia, Tiurma, mengatakan bahwa program YEPC dirancang untuk membekali generasi muda Indonesia agar mampu menjadi pemimpin perdamaian yang membawa perubahan positif di tengah masyarakat.
“Melalui program YEPC, kami ingin membentuk generasi muda menjadi Peace Envoys dan Peace Ambassadors yang dapat mewakili Indonesia. Kami juga berharap semakin banyak pemimpin muda yang terlibat aktif dalam berbagai inisiatif perdamaian sehingga nilai-nilai perdamaian dapat diwujudkan dalam tindakan nyata di masyarakat,” ujarnya.
Pelatihan tersebut dikemas dalam bentuk dialog lintas agama dengan menghadirkan narasumber dari tiga latar belakang agama, yakni Darmadi, Pembina Komunitas Gurukula, mewakili agama Hindu; Abdullah Ubaid, Ketua ISNU Tangerang, mewakili agama Islam; serta Thomas, pengajar Komunitas Berean, mewakili agama Kristen.
Setiap sesi mengajak peserta membandingkan perspektif berdasarkan kitab suci masing-masing tanpa memperdebatkan perbedaan doktrin. Melalui pendekatan dialog yang saling menghormati dan pembelajaran komparatif, peserta diajak menemukan nilai-nilai universal yang dapat menjadi landasan hidup berdampingan secara damai.
Dalam paparannya, Darmadi menekankan bahwa perdamaian berawal dari kesadaran akan hubungan antara manusia, Tuhan, dan seluruh ciptaan.
“Tuhan adalah pemilik segala sesuatu dan hadir dalam setiap bagian dari ciptaan-Nya. Sebagaimana orang tua tidak menginginkan perpecahan di dalam keluarganya, demikian pula Tuhan menghendaki umat manusia hidup dalam persatuan dan saling peduli,” katanya.
Sementara itu, Abdullah Ubaid menjelaskan pentingnya menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sesungguhnya Allah itu dekat, bahkan lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Allah tidak dibatasi oleh ruang, waktu, ataupun dimensi alam semesta. Karena itu, kita hendaknya senantiasa mengingat kebesaran-Nya dan menyadari bahwa Dia selalu bersama kita,” ujarnya.
Dari perspektif Kristen, Thomas menyampaikan bahwa perdamaian sejati dimulai dari perubahan dalam diri manusia.
“Peperangan sering kali bermula dari konflik di dalam diri manusia. Karena itu, peperangan terbesar adalah peperangan rohani yang dimenangkan bukan melalui kekerasan, melainkan melalui kasih dan firman kebenaran. Dalam Alkitab, api juga digunakan sebagai lambang Firman Tuhan,” jelasnya.
Sepanjang pelatihan, para peserta aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta merefleksikan berbagai nilai yang dimiliki bersama oleh setiap tradisi keagamaan. Banyak peserta mengaku memperoleh pemahaman baru tentang pentingnya dialog yang saling menghormati serta semakin menghargai keberagaman agama.
Melalui program Youth Empowerment Peace Class (YEPC) dan Youth Interfaith Dialogue Training, HWPL dan IPYG berupaya mencetak generasi muda yang mampu menjadi pelopor perdamaian dengan membangun dialog antarumat beragama, memperkuat kerja sama lintas komunitas, serta mendorong terciptanya kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.




