JAKARTA – Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kembali menjadi perhatian pasar di tengah perkembangan negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran serta kondisi pasokan minyak global. Pada awal perdagangan pekan ini, harga minyak menguat lebih dari 1% setelah AS dan Iran belum mencapai kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, dari sisi teknikal, pergerakan WTI masih menghadapi potensi tekanan bearish.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures, harga minyak WTI pada timeframe Daily mulai memasuki tren bearish baru setelah belum mampu ditutup di atas zona resistance sebelumnya pada level 96.78–99.05. Kegagalan harga untuk menembus dan bertahan di atas area tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih berpotensi mendominasi pergerakan WTI.
Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, mengatakan kondisi tersebut membuka peluang bagi harga minyak untuk melanjutkan pelemahan menuju zona support terdekat di 88.70–86.54. Level tersebut menjadi area yang perlu diperhatikan apabila tekanan bearish kembali menguat pada perdagangan hari ini.
Selain level support dan resistance, struktur teknikal WTI juga menunjukkan terbentuknya pola ABC Correction. Pola tersebut semakin diperkuat oleh kemunculan Bearish Engulfing yang mengindikasikan adanya tekanan jual setelah harga mengalami fase kenaikan sebelumnya. Dengan kombinasi kedua pola tersebut, potensi pelemahan WTI masih terbuka selama harga belum mampu kembali menembus resistance 96.78–99.05.
Meski demikian, pergerakan minyak tetap sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak pada Senin, 28 September 2026, naik lebih dari 1% setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian Iran yang berkaitan dengan penyelesaian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi tersebut mempertahankan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut.
Reuters melaporkan bahwa Brent naik sekitar 1,27% menjadi US$105,64 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$93,11 per barel pada awal perdagangan Senin. Pasar juga masih menunggu perkembangan negosiasi AS-Iran yang diperkirakan berlanjut pada pekan ini.
Di sisi lain, terdapat faktor yang dapat membatasi kenaikan harga minyak. Arus ekspor minyak Timur Tengah mulai mengalami pemulihan setelah sebelumnya terganggu akibat konflik. Reuters mencatat peningkatan aliran minyak melalui kawasan tersebut, termasuk pemulihan aktivitas ekspor Arab Saudi, sehingga perbaikan pasokan dapat mengurangi tekanan kenaikan harga apabila berlangsung lebih jauh.
Kondisi tersebut membuat pasar minyak berada di antara dua sentimen yang berlawanan. Risiko gangguan pasokan akibat konflik dan ketidakpastian Selat Hormuz memberikan dukungan terhadap harga WTI, sedangkan pemulihan arus minyak berpotensi menahan penguatan lebih lanjut.
Menurut Dupoin Futures, perkembangan negosiasi AS-Iran dan arus pasokan melalui Selat Hormuz akan menjadi katalis utama yang perlu diperhatikan. Dari sisi teknikal, resistance 96.78–99.05 menjadi area penting untuk menentukan perubahan struktur harga.
Dengan demikian, prediksi harga minyak WTI hari ini masih menghadapi risiko pelemahan dari perspektif teknikal. Selama WTI belum mampu menembus dan bertahan di atas resistance 96.78–99.05, harga berpotensi melanjutkan tren bearish menuju support 88.70–86.54. Namun, perubahan signifikan pada kondisi geopolitik atau gangguan baru terhadap pasokan dapat meningkatkan volatilitas dan mengubah dinamika pergerakan minyak.



