PURBALINGGA — Terik matahari mulai terasa di Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara, saat sejumlah warga dan Satgas TMMD Reguler ke-128 Kodim 0702/Purbalingga terlihat sibuk di satu titik yang sama, yakni di atap Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik Misdi yang tengah dibangun.
Di ketinggian itu, satu orang Satgas TMMD bersama warga berdiri di atas rangka, mereka menyeimbangkan tubuh sambil menerima material hebel yang diangkat dari bawah. Sementara di bawah, tangan-tangan lain bekerja tanpa henti, mengangkat dan meneruskan material dengan penuh perhitungan. Gerakan mereka pun terlihat seperti saling terhubung satu sama lain.
Sesekali, terdengar aba-aba sederhana, memastikan setiap angkatan sampai dengan aman.
Bagi yang melihat, pekerjaan itu bukan sekadar pembangunan rumah. Ada kehati-hatian yang menyertai setiap langkah. Sebab, sedikit saja lengah, risiko bisa datang dari ketinggian yang mereka pijak.
Babinsa Desa Krangean, Serma Jarwono, berdiri tak jauh dari lokasi, ia memperhatikan jalannya pekerjaan. Di sela-sela itu, ia terus mengingatkan agar semua tetap waspada.
“Pelan tapi pasti. Yang di atas dan di bawah harus saling memperhatikan, jangan sampai ada yang jatuh,” ujarnya saat mengawasi proses pembangunan, Sabtu (2/5/2026).
Peringatan itu bukan sekadar formalitas. Ia menjadi bagian dari ritme kerja di hari itu. Sehinga setiap orang tampak lebih sigap, memastikan pijakan aman, hingga memastikan tangan yang menerima sudah siap sebelum material dilepas.
Di balik proses tersebut, gotong royong terasa lebih dari sekadar bekerja bersama. Ada rasa saling menjaga yang tumbuh, bahwa pekerjaan ini bukan hanya tentang menyelesaikan atap, tetapi juga memastikan semua orang tetap selamat hingga pekerjaan usai.
Kini, rumah Misdi perlahan berubah. Dari rangka yang terbuka, kini mulai terbentuk bagian demi bagian yang akan melindungi penghuninya kelak. Namun, di atas atap itu, yang dibangun bukan hanya fisik rumah. Ada kebersamaan, kehati-hatian, dan kepedulian yang ikut disusun menjadi fondasi lain yang tak terlihat, namun justru paling terasa. (anr)



