JAKARTA – Tepat pada 27 September 2026, Gedung Legiun Veteran Lt. 12B Lippo Mall Nusantara Semanggi, Jakarta, menjadi saksi perayaan Hari Ulang Tahun ke-10 Perkumpulan Alumni Mahasiswa Tuah Sakato (ALTO). Dengan tema Satu Dekade Alto Menyala, rangkaian acara mempertegas kembali semangat persaudaraan, soliditas, dan kontribusi para alumni PERMATO bagi daerah dan bangsa.
Perayaan itu dimulai dengan Jalan Santai Kebersamaan Keluarga Besar Alumni PERMATO yang bergerak dari Pelataran Gedung Legiun Veteran Lippo Mall Nusantara Semanggi menuju kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Lebih dari 125 peserta dari Jabodetabek, Banten, Jawa Barat, Sumatera Selatan, dan Riau turut berpartisipasi dalam kegiatan yang dibuka dengan pelepasan bendera start oleh Ketua Panitia, Ir. Japri, MM.
Japri didampingi Sekretaris Umum Ir. H. Jasyanto, MM; Wakil Ketua Umum II sekaligus Koordinator Perwakilan Sumbagsel Drs. Herri Supriadi Sikumbang; Wakil Ketua Umum III Ir. H. Falahuddin, MM; Bendahara Umum Revi Andri, SE; serta Ketua Dewan Pengawas Ir. H. Ekariza, MM. Para anggota Dewan Penasehat dan Dewan Pengawas juga hadir menemani perayaan ini.
Ketua Umum DPP ALTO, Ir. Indrieffouny Indra, MM, tidak dapat hadir karena menjalankan tugas di Sumatera Barat dan Sumatera Utara sebagai Direktur Utama PT Semen Indonesia Group Tbk. Sementara itu, Wakil Ketua Umum I Jufrihadi, ST, MT, sedang menjalankan tugas dinas di Basra, Irak.
Dari Mahasiswa Perantau menjadi Keluarga Besar
Dalam sambutannya, Drs. Herri Supriadi Sikumbang mengenang cikal bakal berdirinya PERMATO (Persatuan Mahasiswa Tuah Sakato). Ia menceritakan bahwa organisasi tersebut lahir dari kegelisahan mahasiswa Minang perantau yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Palembang, Sumatera Selatan.
“Berawal dari rasa senasib seperjuangan, jauh dari orang tua dan keluarga, mahasiswa Minang di perantauan merasa perlu memiliki wadah untuk berkumpul, berkomunikasi, dan bersosialisasi,” ungkap Herri.
Ide tersebut kemudian berkembang setelah adanya pertemuan mahasiswa Minang di Bandung. Melalui komunikasi dengan ninik mamak dan sesepuh Minang di perantauan yang bernaung di Badan Musyawarah Keluarga Minang (BMKM), pada 23 Maret 1985 lahirlah PERMATO. Sekretariat pertama organisasi ini berada di Balayudha, Palembang, dan hingga kini tetap eksis.
Seiring waktu, PERMATO berkembang menjadi wadah bagi ide, aspirasi, dan pemikiran inovatif mahasiswa Minang perantau. Untuk mempererat persaudaraan, organisasi kemudian menjadikan Villa Bocho di Puncak Sekuning, Palembang, sebagai tempat pertemuan yang lebih representatif dan berkesinambungan.
ALTO Lahir sebagai Wadah Alumni
Perjalanan itu tidak berhenti ketika para anggota PERMATO menyelesaikan pendidikannya. Mereka kemudian tersebar di berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri, dengan beragam latar belakang disiplin ilmu dan profesi.
Kebutuhan untuk tetap menghimpun dan mempererat silaturahmi para alumni kemudian diwujudkan melalui Musyawarah Besar Alumni Mahasiswa Tuah Sakato Sumatera Selatan di Jakarta pada 6 Oktober 2016. Dari musyawarah itu, terbentuk Perkumpulan Alumni Mahasiswa Tuah Sakato sebagai badan hukum.
Keberadaan ALTO dikukuhkan melalui Akta Pendirian dan Anggaran Dasar Nomor 05 tanggal 26 September 2016, yang dibuat di hadapan notaris Yunita Permatasari, SH, di Jakarta. Sejak saat itu, ALTO menjadi rumah bersama bagi para alumni PERMATO yang tersebar dari Nanggroe Aceh Darussalam hingga Timika, Papua Tengah.
“Kami percaya organisasi ini harus terus berkembang di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujar Herri.
Misi untuk Daerah dan Bangsa
ALTO menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai misi utama. Organisasi ini berkomitmen mencetak dan meningkatkan kualitas SDM yang beriman, berilmu, kreatif, mandiri, dan profesional, serta menyiapkan generasi unggul menghadapi persaingan global.
Lebih dari itu, ALTO ingin mendorong kemajuan Indonesia yang bersih, maju, berkeadilan sosial, dan berkepribadian Indonesia. Semangat tersebut dipahami organisasi sebagai pengamalan pepatah adat, *bersandi sara’, sara’ bersandikan Kitabullah.
Dalam praktiknya, ALTO juga berupaya mempermudah mahasiswa Minang maupun mahasiswa lain yang akan melakukan penelitian, kerja praktik, kuliah praktik, atau kuliah kerja lapangan di berbagai institusi tempat para alumni bernaung. Langkah ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengabdian masyarakat.
“Ada panggilan nurani bagi Alumni PERMATO untuk mengembangkan ilmu, pikiran, dan kemampuannya demi kemajuan Sumatera Selatan khususnya, serta Indonesia pada umumnya,” kata Herri.
Kerja Sama untuk Mahasiswa
Puncak acara HUT ke-10 ALTO ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara ALTO dan PT JAPA Indotama. Kerja sama ini berfokus pada fasilitasi kerja praktik, penyusunan skripsi, dan kunjungan lapangan bagi mahasiswa PERMATO yang dikoordinasikan oleh ALTO.
Ketua Dewan Pengawas ALTO, Ir. H. Ekariza, MM, menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, MoU ini merupakan terobosan penting dari DPP Alumni PERMATO bersama PT JAPA Indotama yang perlu dimanfaatkan secara maksimal.
“ALTO harus selalu memberikan kontribusi untuk mendukung adik-adik PERMATO dan para alumni, di mana pun mereka berada,” ujarnya.
Makna di Balik Logo ALTO
Herri juga menguraikan makna filosofis yang terkandung dalam logo ALTO yang tampil pada spanduk dan banner acara. Tiga elemen utama dalam logo tersebut mewakili perjalanan panjang para alumni.
Rumah Gadang melambangkan akar budaya Minangkabau di Sumatera Barat sebagai asal-usul para alumni. Jembatan Ampera merepresentasikan masa kuliah mereka di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Sementara Tugu Monas melambangkan keberadaan banyak alumni yang kini bekerja dan mengembangkan diri di Jakarta serta sekitarnya, sekaligus menegaskan kuatnya solidaritas ALTO.
Di tengah hiburan dan ramah tamah keluarga besar, perayaan ini menjadi lebih dari sekadar peringatan ulang tahun. Ia menjadi momentum ALTO untuk menegaskan kembali arah perjalanan berikutnya: tetap menjadi wadah persaudaraan, ruang pengembangan diri, dan kekuatan kolektif yang berkontribusi bagi masyarakat, daerah, serta Indonesia.



