PALEMBANG — Bayangkan menjalani operasi otak, tetapi pasien tidak sepenuhnya tertidur. Justru dalam kondisi tertentu, pasien tetap sadar, dapat diajak berbicara, mengikuti instruksi dokter, hingga menggerakkan anggota tubuh.
Kondisi tersebut belakangan menjadi perhatian publik setelah video tindakan operasi otak dengan pasien tetap sadar beredar di media sosial.
Dalam video itu, pasien terlihat mampu merespons instruksi tim medis, mulai dari membuka mata, menggenggam tangan hingga menggerakkan bagian tubuh tertentu.
Namun, kondisi tersebut bukan adegan film ataupun sekadar tontonan medis yang tidak lazim.
Dalam dunia kedokteran, prosedur tersebut dikenal sebagai awake brain surgery atau awake brain craniotomy, yakni teknik pembedahan otak dengan pasien tetap sadar pada bagian tertentu dari rangkaian operasi sehingga fungsi neurologis dapat dipantau secara langsung.
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tk. II Mohamad Hasan Palembang, Kombes Pol DR. dr. Budi Susanto, Sp.BS, QHIA, menjelaskan, awake brain surgery memungkinkan tim medis melakukan komunikasi dengan pasien selama tindakan berlangsung.
“Satu prosedur di mana kita melakukan tindakan operasi, tetapi dengan kondisi pasien dalam kesadaran yang full atau penuh. Jadi dia bisa kita monitoring, bisa kita ajak komunikasi, bahkan kita bisa lakukan perintah-perintah yang akan diikuti oleh pasien selama tindakan pembedahan,” kata Dr Budi, Senin (7/9/2026).
BUKAN SEKADAR PASIEN SADAR, TAPI BAGIAN DARI PEMANTAUAN FUNGSI OTAK
Tetap sadarnya pasien bukan berarti dokter bekerja tanpa pembiusan atau membiarkan pasien merasakan sakit.
Justru, prosedur tersebut dilakukan dengan perencanaan anestesi dan tahapan medis tertentu agar pasien dapat tetap memberikan respons ketika fungsi neurologis perlu diperiksa.
Menurut Dr Budi, respons pasien selama operasi menjadi bagian penting dalam pemantauan fungsi saraf.
Pasien dapat diberikan instruksi tertentu untuk melakukan gerakan atau merespons komunikasi tim medis. Respons tersebut kemudian membantu dokter menilai fungsi neurologis ketika tindakan pembedahan berlangsung.
“Kalau di otak itu ada istilahnya awake brain craniotomy atau awake brain surgery. Jadi pembedahan yang dilakukan di daerah otak atau kepala di mana pasien dalam keadaan awake atau sadar,” jelasnya.
Teknik ini menjadi sangat berarti ketika dokter melakukan tindakan pada area otak yang berdekatan dengan fungsi penting, seperti gerakan dan kemampuan berbicara.
Dalam kondisi tersebut, dokter tidak hanya berhadapan dengan jaringan yang hendak ditangani, tetapi juga harus mempertimbangkan fungsi otak yang berada di sekitarnya.
BUKAN TEKNOLOGI BARU
Meski baru ramai diperbincangkan masyarakat melalui video di media sosial, awake brain surgery sebenarnya bukan teknologi yang baru ditemukan.
Dr Budi mengatakan, prosedur tersebut memiliki sejarah panjang dalam perkembangan bedah saraf.
“Pertama kali sejarahnya dikenalkan tahun 1920-an. Itu dalam sejarah, pertama kali dilakukan pada pasien-pasien epilepsi,” katanya.
Seiring perkembangan ilmu bedah saraf, teknik tersebut kemudian semakin dikembangkan dan digunakan lebih luas.
Menurut Dr Budi, pengembangan awake brain surgery semakin berkembang pada era 1980-an di Amerika Serikat, kemudian menyebar ke Eropa dan Asia pada dekade 1990-an.
Sementara di kawasan Asia Tenggara, metode tersebut mulai dikembangkan pada era 2000-an.
“Di daerah Asia Tenggara khususnya, kita mengembangkan awake brain surgery ini di tahun 2000-an. Jadi cukup baru untuk prosedur tersebut,” ujarnya.
DOKTER BERUSAHA ANGKAT TUMOR SEMAKSIMAL MUNGKIN, FUNGSI SARAF TETAP DIJAGA
Salah satu keunggulan teknik awake brain surgery adalah memungkinkan tim medis memperoleh pemantauan fungsi neurologis secara langsung selama tindakan.
Hal ini terutama relevan dalam penanganan tumor otak yang berada di sekitar area yang berkaitan dengan fungsi gerak, bicara atau fungsi neurologis lainnya.
“Awake brain surgery ini mempunyai banyak kelebihan atau keuntungan dibandingkan dengan pembedahan secara konvensional,” tutur Dr Budi.
Menurutnya, pemantauan tersebut dapat membantu dokter berupaya mengurangi risiko gangguan fungsi saraf selama operasi.
“Kita bisa memonitor kondisi pasien, baik secara neurologic function-nya, di mana pasien bisa kita minimalkan risiko terjadi kecacatan, bahkan risiko kematian selama dilakukan tindakan operasi,” sambungnya.
Pada kasus tumor otak, tujuan pentingnya adalah mencapai pengangkatan jaringan tumor secara maksimal dengan tetap mempertahankan fungsi neurologis pasien sejauh mungkin.
“Tumornya kita ambil secara maksimal sebanyak mungkin, tapi kita tidak membuat defisit neurologis yang ada di pasien tersebut,” jelasnya.
Dengan kata lain, operasi bukan sekadar mengejar sebanyak mungkin jaringan tumor yang dapat diangkat. Dokter juga harus mempertimbangkan fungsi penting otak yang berada di sekitarnya.
PASIEN SADAR, APAKAH MERASAKAN SAKIT?
Pertanyaan ini menjadi salah satu hal yang paling banyak muncul ketika masyarakat melihat prosedur awake brain surgery.
Apakah pasien benar-benar merasakan sakit karena berada dalam kondisi sadar?
Dr Budi menegaskan, tidak demikian.
“Enggak sama sekali. Enggak sama sekali,” tegasnya.
Ia menjelaskan, awake brain surgery dilakukan melalui rangkaian prosedur medis dan dukungan anestesi serta peralatan yang telah dipersiapkan. Kesadaran pasien dalam tahap tertentu justru dimanfaatkan untuk memungkinkan tim medis melakukan pemantauan fungsi neurologis secara langsung.
Namun, bukan berarti seluruh pasien dengan gangguan otak otomatis dapat menjalani prosedur tersebut.
Ada sejumlah kondisi dan persyaratan yang harus dipertimbangkan sebelum dokter menentukan apakah pasien merupakan kandidat yang sesuai.
“Hampir semua kasus-kasus yang ada di otak bisa sebenarnya kita lakukan awake brain surgery. Tentu seperti saya sampaikan tadi, ada beberapa precondition atau beberapa syarat tertentu yang harus kita lewati fasenya sebelum kita melakukan tindakan awake brain surgery,” katanya.
KONSELING PASIEN JADI TAHAP PENTING
Sebelum operasi dilakukan, pasien harus mendapatkan penjelasan dan konseling mengenai penyakit serta prosedur yang akan dijalani.
Dokter juga perlu memastikan pasien memahami apa yang akan dilakukan selama tindakan.
“Yang pertama, kandidat pasien itu harus kita lakukan counseling. Kita menerangkan konsultasi terhadap pasien tentang penyakitnya, terus kita berikan informasi apa yang akan kita lakukan dengan tindakan tersebut untuk menangani atau menanggulangi keluhan-keluhan pasien terkait dengan penyakitnya,” jelas Dr Budi.
Artinya, keputusan menjalani awake brain surgery tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan alat.
Kesiapan pasien, kondisi medis, jenis penyakit, lokasi masalah di otak serta pertimbangan tim medis menjadi bagian penting dalam menentukan tindakan.
DIDUKUNG MIKROSKOP KINEVO DAN INTRAOPERATIVE MONITORING
Untuk menunjang pelayanan bedah saraf, Rumah Sakit Bhayangkara Tk. II Mohamad Hasan Palembang juga telah memiliki sejumlah perangkat pendukung.
Salah satunya adalah mikroskop Kinevo, yang digunakan untuk membantu dokter melakukan tindakan bedah saraf dengan tingkat presisi yang tinggi.
“Di rumah sakit kita ini sudah disiapkan alat canggih, yaitu sebuah Mikroskop Kinevo itu yang digadang-gadang tercanggih saat ini di dunia,” ujar Dr Budi.
Selain mikroskop, terdapat pula Intraoperative Monitoring (IOM).
Perangkat tersebut digunakan untuk membantu memantau fungsi neurologis pasien selama operasi.
“Namanya IOM, Intraoperative Monitoring. Itu alat yang kita pakai untuk memonitor functional neurologic tadi,” jelasnya.
Dr Budi menerangkan, sistem saraf membawa pesan yang berkaitan dengan fungsi motorik maupun sensorik.
“Kalau kita bicara neuro atau saraf, itu ada dua message yang dia bawa: satu motorik, yang kedua sensorik,” katanya.
Dengan kombinasi antara kemampuan tim medis, perencanaan operasi dan dukungan teknologi, kondisi neurologis pasien dapat dipantau selama tindakan sesuai kebutuhan medis.
KETIKA TEKNOLOGI MEMBUAT PASIEN BISA “BERKOMUNIKASI” DENGAN DOKTER SAAT OTAK DIOPERASI
Awake brain surgery memperlihatkan satu hal penting dalam perkembangan bedah saraf modern: operasi otak tidak selalu berarti pasien harus sepenuhnya tidak sadar sepanjang prosedur.
Dalam kondisi dan indikasi tertentu, justru respons pasien dapat menjadi bagian dari proses pemantauan fungsi otak.
Pasien membuka mata.
Mengikuti instruksi.
Menggenggam tangan.
Menggerakkan anggota tubuh.
Dan di balik respons sederhana tersebut, tim medis mendapatkan informasi penting mengenai fungsi neurologis yang sedang dipertahankan.
Teknologi pun terus berkembang.
“Ini berkembang. Nanti pasti dari hasil riset, dari berbagai operasi yang sudah dilakukan,” tutup Dr Budi.
Jadi, video pasien yang tampak sadar saat menjalani operasi otak bukanlah keajaiban tanpa penjelasan. Itu adalah gambaran bagaimana ilmu bedah saraf, anestesi, pemantauan neurologis dan teknologi medis bekerja bersama untuk membuat tindakan operasi menjadi semakin terukur dan presisi.(***)



