“Jejak Kemanunggalan di Serdang Bedagai: Dari Lumpur Menjadi Harapan, Dari Desa Menjadi Inspirasi”

Oleh: Letkol Arh Agung Pujiantoro, S.H. (Dansatgas TMMD ke-126 Kodim 0204/DS)

Letkol Arh Agung Pujiantoro, SH Dansatgas TMMD ke-126 Kodim 0204/DS

Sore itu, matahari condong ke barat di langit Serdang Bedagai. Suara roller yang memadatkan jalan berpadu dengan tawa anak-anak yang berlarian di tepian. Jalan yang dulu hanya genangan lumpur kini berubah menjadi jalur mulus yang membentang di antara hamparan sawah.

Di ujungnya, Tugu Prasasti TMMD ke-126 Kodim 0204/DS berdiri kokoh, bukan sekadar batu, tapi simbol ketekunan, keringat, dan cinta antara prajurit dan rakyat.

“Dulu kalau hujan kami takut lewat sini, becek dan licin,” kenang Ibu Surti, seorang warga yang kini tak lagi perlu menggulung celana setiap kali pergi ke pasar. “Sekarang jalan ini seperti urat nadi baru bagi desa kami.”

 

Mengubah Lumpur Jadi Harapan

Program TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa) ke-126 Kodim 0204/DS bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah perjalanan kemanusiaan.

Dengan semangat gotong royong, prajurit bersama warga membuka dan mengeraskan jalan sepanjang 2.702 meter, membangun Tembok Penahan Tanah (TPT), serta memperkuat drainase agar jalan ini tak sekadar bertahan semusim.

“Bagi kami, setiap meter jalan yang terbuka adalah pintu baru bagi masa depan warga,” ujar Letkol Arh Agung Pujiantoro, S.H., Dansatgas TMMD 126.

Ia menatap hamparan jalan yang baru diaspal itu dengan bangga, seolah melihat lebih dari sekadar hasil kerja keras  tapi sebuah perubahan nasib.

 

Dari Jeriken ke Pipa Rumah Tangga

Bila jalan adalah urat nadi, maka air bersih adalah darah kehidupan.

Sebelum TMMD hadir, warga di Desa Nagur dan Duren Puloan harus menempuh ratusan meter sambil menenteng jeriken, hanya untuk mendapatkan air bersih.

Kini, dua sumur bor dan TMAB (Tempat Mandi, Cuci, dan Air Bersih) berdiri tegak di tengah desa. Pipa-pipa telah mengalirkan air langsung ke rumah warga.

“Ya Tuhan, terima kasih kami kepada Bapak TNI,” lirih Ibu Siti, sambil menampung air pertama yang keluar dari keran di rumahnya.

Air itu jernih, dingin, dan membawa kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan angka  hanya bisa dirasakan dengan hati.

Gotong Royong, Jantung Kemanunggalan

TMMD bukan hanya tentang pembangunan fisik, tapi tentang merajut kembali kebersamaan.

Setiap pagi, prajurit TNI dan warga bahu-membahu membersihkan jalan, menata lingkungan, dan memperbaiki fasilitas umum. Anak-anak sekolah berlarian menyapa prajurit yang tak segan mengajari mereka baris-berbaris dan lagu kebangsaan.

“Di sini kami bekerja dan tertawa bersama. Tidak ada jarak antara seragam loreng dan baju tani,” tutur seorang anggota Satgas sambil tersenyum.

Gotong royong menjadi bahasa universal di TMMD  bahasa yang menyatukan tanpa perlu banyak kata.

Mata Bangga Sang Panglima

Puncak dari seluruh kerja keras itu hadir saat Pangdam I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Mochamad Hasan, S.I.P., menutup secara resmi TMMD ke-126 Kodim 0204/DS di Kebun PT Havea.

Udara pagi di kebun itu hangat, dipenuhi tepuk tangan warga dan prajurit yang berdiri tegak berjejer rapi.

Dalam sambutannya, Pangdam menyampaikan rasa bangga yang mendalam.

“TMMD ini bukan hanya soal membangun fisik, tapi juga membangun kepercayaan. Saya melihat wajah-wajah penuh semangat di sini. Inilah bukti bahwa TNI dan rakyat benar-benar manunggal,” ujarnya penuh wibawa.

Warga bersorak, beberapa menitikkan air mata haru.

Bagi mereka, kehadiran Pangdam adalah penghargaan atas perjuangan mereka sendiri  perjuangan yang dimulai dari lumpur dan kini berakhir dengan kebanggaan.

Warisan untuk Masa Depan

TMMD ke-126 mungkin telah ditutup, tetapi jejaknya tidak akan pernah hilang.

Jalan yang mulus, air bersih yang mengalir, dan tugu prasasti yang berdiri di ujung desa adalah bukti nyata bahwa perubahan bisa terjadi jika hati bersatu.

Bagi generasi muda, kisah TMMD ini bukan hanya sejarah, melainkan pelajaran tentang arti perjuangan dan kemanusiaan.

Bahwa membangun negeri tidak selalu dimulai dari gedung tinggi atau kota besar, tapi dari desa kecil yang penuh mimpi dan harapan.

“TMMD bukan sekadar tugas, tapi amanah,” ujar Dansatgas perlahan.

“Dan selama rakyat tersenyum, berarti amanah itu telah kami tunaikan.”

Dari Serdang Bedagai, kisah ini lahir  kisah tentang tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih, tentang air yang mengalir ke hati rakyat, dan tentang keyakinan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat adalah sumber kekuatan bangsa yang sesungguhnya.

***

Pos terkait