PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru menyambut baik pelaksanaan Sriwijaya Philately Exhibition 2026 yang digelar di Atrium Palembang Square Mall (PS Mall) Palembang. Pameran filateli internasional tersebut resmi dibuka pada Jumat (11/9/2026) oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Perkumpulan Filateli Indonesia (PFI), Fadli Zon, didampingi Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru.
Pameran yang berlangsung hingga 13 September 2026 itu tidak hanya menampilkan koleksi perangko, tetapi juga dirangkaikan dengan pelantikan pengurus cabang penggemar filateli di empat kabupaten/kota di Sumatera Selatan serta peresmian 100 klub filateli baru di provinsi tersebut.
Dalam kesempatan itu, Herman Deru menyambut positif kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, komunitas filateli, dan berbagai pihak dalam upaya memajukan kebudayaan.
Menurut Herman Deru, upaya memajukan kebudayaan tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Peran pihak swasta dan seluruh elemen masyarakat juga diperlukan agar pelestarian dan pengembangan kebudayaan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Memajukan kebudayaan tidak hanya tugas Kementerian dan Pemda, tapi juga ajak swasta,” ujar Herman Deru.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan, filateli bukan sekadar hobi mengumpulkan perangko. Menurutnya, perangko memiliki nilai sejarah karena merekam berbagai peristiwa penting dan perjalanan bangsa.
“Perkumpulan Filateli Indonesia sudah berumur 104 tahun. Hobi filateli ini disebut rajanya hobi. Perangko selalu memotret peristiwa sejarah. Asian Games 2018 ada perangkonya, baju adat ada perangkonya,” ujar Fadli.
Fadli menjelaskan, keberadaan perangko memiliki perjalanan panjang dalam sejarah komunikasi masyarakat. Sebelum berkembangnya teknologi komunikasi digital, surat-menyurat menjadi salah satu sarana utama untuk berkomunikasi.
“Sebelum ditemukan handphone, alat komunikasi pada waktu itu melalui surat-menyurat. Saat ini cukup video call dan WA. Tapi perangko adalah perjalanan dari bangsa kita, media untuk belajar,” katanya.
Menurut Fadli, penggunaan nama “Sriwijaya” dalam pameran tersebut juga memiliki makna penting. Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai salah satu kerajaan besar yang memiliki pengaruh hingga ke mancanegara.
Ia bahkan menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto berencana mendatangkan kapal induk dari Italia yang rencananya akan diberi nama “Sriwijaya”.
Lebih lanjut, Fadli menegaskan bahwa kebudayaan memiliki cakupan yang luas dan tidak hanya terbatas pada seni pertunjukan seperti tarian. Kebudayaan juga mencakup bahasa, tradisi lisan, ritus, adat istiadat, hingga pengetahuan tradisional.
“Kebudayaan bukan hanya tarian, namun juga bahasa, tradisi lisan, ritus, adat istiadat, dan pengetahuan tradisional. Kita harus memajukan kebudayaan kita. Kita menuju ekonomi budaya, seperti Korea, India, dan Amerika. Selama ini kita terlena dengan SDA. Padahal modal budaya kita sangat besar,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Fadli juga menyampaikan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk mendorong revitalisasi sejumlah cagar budaya di Palembang dan Sumatera Selatan. Beberapa di antaranya adalah Museum Sriwijaya, Taman Budaya Sriwijaya, dan Museum AK Gani.
“Kami akan berkolaborasi dengan Pemprov Sumsel dalam pendanaan. Kita sudah menyepakatinya dengan Gubernur Herman Deru,” ungkap Fadli.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian warisan budaya di Sumatera Selatan sekaligus meningkatkan pemanfaatannya sebagai sumber pengetahuan dan pengembangan ekonomi berbasis budaya.
Ketua Pelaksana Sriwijaya Philately Exhibition 2026 sekaligus Ketua PFI Daerah Sumatera Selatan, Affan Prapanca, menjelaskan bahwa pameran tersebut diikuti oleh delegasi dari delapan negara.
Menurut Affan, kegiatan yang digelar tidak hanya berfokus pada pameran filateli, tetapi juga memadukan unsur seni dan budaya serta berbagai perlombaan.
“Tidak hanya pameran filateli saja, lebih daripada itu kegiatan ini berkolaborasi dengan seni budaya dan perlombaan,” jelasnya.
Affan juga menekankan pentingnya filateli sebagai salah satu sarana literasi, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, filateli dapat menjadi media untuk mengenalkan sejarah dan memberikan pengetahuan kepada anak-anak melalui koleksi perangko.
“Filateli dapat menjadi andalan literasi. Literasi dari filateli menjadi hal yang penting, agar anak-anak tidak salah jalan dan tidak salah lihat,” katanya.
Dengan hadirnya 100 klub filateli baru di Sumatera Selatan, kegiatan tersebut diharapkan dapat semakin memperluas minat generasi muda terhadap filateli sekaligus mengenalkan sejarah dan budaya bangsa.
Melalui selembar perangko, generasi muda tidak hanya dapat mengenal perjalanan sejarah Indonesia, tetapi juga mempelajari kejayaan Sriwijaya, semangat persatuan, keberagaman budaya, serta berbagai peristiwa penting yang membentuk perjalanan bangsa Indonesia.



