Air Mata di Balik Bangku Kuliah: Secercah Harapan Kembali Menyala

PALEMBANG – Di saat sebagian besar mahasiswa tengah mempersiapkan diri menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS), tiga mahasiswi Program Studi Farmasi Universitas Aisyiyah (Unisa) Palembang yang semula diselimuti kecemasan akhirnya dapat bernapas lega. Setelah sebelumnya terancam tidak dapat mengikuti ujian karena tunggakan biaya kuliah, pihak universitas akhirnya memberikan kesempatan kepada mereka untuk tetap mengikuti UAS.

Keputusan tersebut menjadi secercah harapan bagi ketiga mahasiswi yang selama beberapa hari terakhir diliputi rasa cemas akan terhentinya perjalanan pendidikan yang telah mereka tempuh hingga semester enam.

Bagi mereka, kuliah bukan sekadar mengejar gelar sarjana. Di balik perjuangan itu tersimpan harapan keluarga, pengorbanan orang tua, serta cita-cita untuk mengubah masa depan melalui pendidikan.

Salah seorang wali mahasiswa, Diding Karnadi, yang mendampingi mahasiswi Nabilah Nuraisah, mengaku bersyukur atas kebijakan yang diberikan pihak Universitas Aisyiyah (Unisa) Palembang.

Diding mengungkapkan bahwa sebelumnya ia sempat mengira keputusan yang menyatakan anaknya tidak dapat mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) karena masih memiliki tunggakan biaya kuliah sudah bersifat final dan tidak dapat diubah. Kekhawatiran itu sempat membuat keluarga merasa putus asa karena khawatir perjuangan yang telah ditempuh selama enam semester harus terhenti.

Namun, anggapan tersebut berubah setelah dirinya bertemu langsung dengan Rektor Universitas Aisyiyah (Unisa) Palembang. Menurutnya, pihak universitas menunjukkan sikap terbuka dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dengan memberikan kesempatan kepada putrinya untuk tetap mengikuti UAS.

“Ternyata apa yang saya khawatirkan tidak terbukti. Setelah bertemu dan berdialog dengan Pak Rektor, kami diberikan kesempatan. Alhamdulillah, anak saya tetap bisa mengikuti ujian,” ujar Diding.

Ia menjelaskan, kesempatan tersebut diberikan dengan ketentuan mahasiswa menandatangani surat pernyataan yang berisi komitmen untuk melunasi tunggakan biaya kuliah sesuai kesepakatan.

Meski demikian, Diding menegaskan bahwa keluarganya sejak awal tidak pernah berniat menghindari kewajiban membayar biaya kuliah. Mereka hanya berharap diberikan kelonggaran waktu agar pembayaran dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan ekonomi keluarga.

“Kami berkomitmen untuk melunasi kewajiban. Yang kami mohon hanyalah kebijakan agar anak-anak tidak kehilangan kesempatan menempuh pendidikan karena keterbatasan ekonomi yang sedang kami alami,” katanya.

Diding juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Rektor beserta jajaran Universitas Aisyiyah Palembang atas kebijakan yang telah diberikan.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rektor dan jajaran Universitas Aisyiyah Palembang yang telah memberikan kebijakan ini. Bagi kami, kesempatan mengikuti ujian bukan hanya soal akademik, tetapi juga memberikan harapan agar anak kami dapat terus melanjutkan pendidikan dan menyelesaikan kuliahnya,” tuturnya.

Menurut Diding, kebijakan tersebut menjadi bukti bahwa dialog yang baik dapat menghasilkan solusi yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan tanpa mengabaikan kewajiban mahasiswa untuk menyelesaikan administrasi pendidikan.

Keputusan Universitas Aisyiyah (Unisa) Palembang ini pun disambut penuh syukur oleh keluarga. Bagi mereka, kesempatan mengikuti UAS bukan hanya soal mengerjakan lembar jawaban, melainkan kesempatan untuk terus melangkah menggapai masa depan yang selama ini diperjuangkan dengan penuh pengorbanan.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap mahasiswa yang berjuang meraih cita-cita, ada keluarga yang tidak pernah berhenti berusaha. Dan terkadang, sebuah kebijakan yang lahir dari dialog serta kepedulian mampu mengubah air mata kecemasan menjadi senyum penuh harapan.

Pos terkait