Kabut tipis masih menggantung di atas rawa ketika warga mulai berdatangan ke lapangan Desa Wonosari, pagi itu, 10 Februari 2026.
Lapangan yang biasanya hanya menjadi tempat anak-anak berlari mengejar bola, hari itu berubah menjadi pusat perhatian sebuah desa.
Barisan prajurit berdiri tegak.
Bendera Merah Putih berkibar perlahan ditiup angin rawa.
Di tepi lapangan, warga berkerumun. Ada yang berdiri di bawah matahari, ada yang berteduh di balik pohon. Mata mereka tertuju pada sebuah meja sederhana yang diletakkan di tengah lapangan.
Di atasnya terhampar sebuah naskah.
Ketika Wakil Bupati Banyuasin Netta Indian, S.P. mengangkat pena dan menandatangani dokumen itu, suasana seketika hening.
Di sampingnya berdiri Dansatgas TMMD ke-127 Letkol Inf Handoyo Yudi Prasetyo.
Goresan tinta itu menandai sesuatu yang lebih besar dari sekadar seremoni.
Beberapa detik kemudian tepuk tangan warga pecah.
Hari itu, TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 resmi dimulai di Desa Wonosari.
“TMMD bukan hanya membangun jalan atau rumah,” kata Netta Indian dalam sambutannya.
“Ini adalah wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.”
Ia berharap pembangunan tersebut membuka jalan baru bagi kemajuan desa.
“Kita ingin Desa Wonosari semakin maju. Akses terbuka, ekonomi bergerak, dan kesejahteraan benar-benar dirasakan masyarakat.”
Namun ia juga mengingatkan satu hal penting.
“Kalau kita bergandengan tangan TNI, pemerintah, dan Masyarakat tidak ada yang tidak bisa kita wujudkan.”
Di desa yang dikelilingi rawa itu, kata-kata itu terasa lebih dari sekadar pidato.
Ia adalah harapan yang telah lama ditunggu.

Ketika Mesin Mengusik Sunyi Wonosari
Tak lama setelah upacara pembukaan usai, desa yang biasanya tenang mulai dipenuhi suara baru.
Deru mesin alat berat menggema di antara hamparan kebun dan rawa.
Ekskavator bergerak perlahan, menggali tanah yang selama bertahun-tahun hanya diratakan seadanya.
Jalan desa sepanjang 4,3 kilometer yang dulu sempit dan bergelombang mulai dibentuk ulang.
Lebarnya diperluas menjadi empat meter.
Tanah cokelat yang dulu berubah menjadi debu saat kemarau dan lumpur saat hujan kini diratakan dengan ketelitian.
Di sepanjang jalur itu, prajurit Satgas TMMD Kodim 0430/Banyuasin bekerja berdampingan dengan warga.
Cangkul menghantam tanah.
Sekop berayun berulang.
Peluh jatuh tanpa membedakan seragam loreng atau pakaian kerja warga.
Bagi masyarakat Wonosari, jalan bukan sekadar infrastruktur.
Ia adalah urat nadi kehidupan.
Jalan itu menghubungkan rumah dengan sekolah.
Kebun dengan pasar.
Harapan dengan kenyataan.
Selama bertahun-tahun, jalan ini menjadi ujian.
Saat hujan turun, kendaraan terjebak lumpur.
Saat kemarau datang, debu beterbangan menutup pandangan.
Kini, perlahan-lahan, keadaan mulai berubah.

Menjinakkan Air yang Tak Pernah Diam
Namun membangun jalan di tanah rawa bukan perkara mudah.
Air selalu menjadi tantangan.
Di beberapa titik, prajurit harus turun langsung ke saluran air yang selama ini tertutup gulma dan lumpur.
Air setinggi dada tak membuat mereka mundur.
Seragam loreng berubah gelap oleh lumpur. Namun tangan-tangan itu tetap mencabut rumput liar yang mengikat aliran air.
Ekskavator mengangkat tumpukan gulma dari parit.
Sedikit demi sedikit, air yang sebelumnya tertahan mulai mengalir kembali.
Di titik rawan genangan, gorong-gorong dipasang.
Lubang digali dalam.
Pipa beton diturunkan perlahan.
Setiap sambungan diperiksa dengan teliti.
Di desa rawa seperti Wonosari, air bisa menjadi sahabat.
Namun jika tak ditata, ia juga bisa berubah menjadi ancaman.
Karena itu sebelum jalan berdiri kokoh, airnya harus lebih dulu diberi jalan.

Dua Kilometer yang Menentukan Nasib Panen
Tak jauh dari kebun kelapa sawit, jalur lain juga dibuka.
Panjangnya dua kilometer.
Sebelumnya jalur itu hanya berupa setapak sempit yang dipenuhi semak. Bekas roda kendaraan terlihat dalam di tanah—jejak perjuangan petani membawa hasil panen keluar desa.
Saat hujan turun, jalan itu berubah menjadi lintasan licin.
Motor sering terjebak.
Seorang petani berhenti sejenak, menuntun sepeda motornya sambil memperhatikan alat berat bekerja.
“Kalau hujan, kami sering dorong motor ramai-ramai, Pak,” katanya.
Kadang hasil panen terlambat sampai ke pengepul.
“Mudah-mudahan kalau jalan ini sudah bagus, kami tidak khawatir lagi tiap musim hujan.”
Bagi petani Wonosari, dua kilometer itu bukan sekadar jarak.
Ia adalah jalan menuju perut penghidupan.

Rumah yang Tak Lagi Takut Hujan
Perubahan juga menyentuh rumah-rumah warga.
Rumah Bapak Paiman dan Mbah Suwarti menjadi salah satu yang diperbaiki melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Sebelumnya, setiap hujan turun, ember harus disiapkan untuk menampung air dari atap yang bocor.
Dinding lapuk.
Lantai lembap.
Angin malam masuk tanpa permisi.
Kini suara palu beradu dengan paku.
Kayu-kayu tua diganti.
Atap diperkuat.
Dinding diperbarui.
Mbah Suwarti berdiri di depan rumahnya yang kini lebih kokoh.
Matanya berkaca-kaca.
“Dulu kalau hujan deras saya tidak bisa tidur,” katanya lirih.
“Takut atapnya roboh.”
Dengan suara bergetar ia berkata,
“Matur nuwun sanget nggih, bapak-bapak TNI.”
Bagi orang lain, mungkin ini hanya perbaikan rumah sederhana.
Namun bagi Mbah Suwarti, ini adalah kembalinya rasa aman.

Air Bersih yang Akhirnya Datang
Ironisnya, desa yang dikelilingi rawa tidak selalu memiliki air minum yang layak.
Air sumur dangkal sering berwarna kekuningan dan meninggalkan rasa getir.
Melalui TMMD ke-127, lima titik sumur bor dibangun.
Mesin bor meraung menembus lapisan tanah.
Warga berkumpul menyaksikan dengan penuh harap.
Ketika air jernih akhirnya memancar dari pipa, senyum warga merekah.
Air bersih itu bukan sekadar kebutuhan.
Ia adalah tanda bahwa perubahan benar-benar hadir.

Komando di Balik Pembangunan
Di balik seluruh gerak pembangunan itu, ada komando yang memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Letkol Inf Handoyo Yudi Prasetyo kerap turun langsung meninjau pekerjaan.
Ia memeriksa ketebalan timbunan jalan, memastikan posisi gorong-gorong tepat, hingga memantau pengeboran sumur.
“TMMD ini bukan hanya tugas,” katanya.
“Tetapi kehormatan bagi kami.”
Baginya keberhasilan TMMD diukur dari satu hal sederhana.
“Kalau jalan ini bagus dan sumur ini mengalir bersih, berarti tugas kami tidak sia-sia.”
Pengawasan yang Menjaga Kualitas
Pengawasan pembangunan juga dilakukan secara ketat.
Tim Wasev TMMD ke-127 yang dipimpin Kolonel Arm Ali Nabhan, S.H. turun langsung meninjau berbagai sasaran pembangunan.
Mulai dari jalan desa, sumur bor, hingga rumah warga yang diperbaiki.
“TMMD bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan tepat waktu,” ujarnya.
“Yang lebih penting adalah kualitas dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.”

Sedulang Setudung: Roh Gotong Royong Banyuasin
Namun keberhasilan TMMD di Wonosari tidak hanya lahir dari alat berat atau komando militer.
Ia tumbuh dari semangat yang telah lama hidup di masyarakat Banyuasin.
Sedulang Setudung.
Semangat kebersamaan.
Sejak hari pertama, warga tidak berdiri sebagai penonton.
Mereka datang membawa cangkul.
Membantu meratakan tanah.
Mengangkat material.
Ibu-ibu menyiapkan makanan bagi para pekerja.
Para pemuda membantu mempercepat pembangunan.
Di antara seragam loreng dan pakaian kerja warga yang sama-sama berlumur lumpur, tidak ada sekat.
Yang ada hanya satu tujuan.
Membangun desa mereka sendiri.

Penutupan yang Menjadi Pengakuan
Beberapa minggu kemudian, perjalanan TMMD ke-127 mencapai garis akhir.
Di lapangan yang sama tempat program ini dimulai, upacara penutupan digelar.
Hadir langsung Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, M.D.A.
Dalam kesempatan itu, Pangdam memberikan apresiasi atas keberhasilan pelaksanaan TMMD di wilayah Kodim 0430/Banyuasin.
Menurutnya, berbagai pembangunan yang dilakukan telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa.
“TMMD adalah bukti nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ujarnya.
Apresiasi itu menjadi pengakuan atas kerja keras prajurit Satgas TMMD dan masyarakat yang bekerja bersama di medan rawa yang tidak mudah.

Jalan yang Menghidupkan Masa Depan
Kini perubahan mulai terlihat di Desa Wonosari.
Jalan terbentang lebih lebar.
Motor melintas tanpa takut terjebak lumpur.
Air bersih mulai mengalir dari sumur bor.
Rumah-rumah berdiri lebih kokoh.
Namun yang paling terasa bukan hanya pembangunan fisik.
Yang tumbuh adalah keyakinan baru.
Bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
Di tanah rawa yang dulu sulit dilalui, kini berdiri sebuah bukti sederhana—
bahwa ketika negara dan rakyat bekerja bersama,
bahkan lumpur pun bisa berubah menjadi
jalan menuju masa depan. ***




