Warga RT 23 Bukit Lama Rehab Pos Ronda

0
358

Sumateranews.co.id, PALEMBANG—Treng…. Treng… tanda memanggil warga untuk gotong-royong membenahi pos ronda, Minggu (29/10) di kawasan RT 23 RW 08 Kelurahan Bukit Lama Kecamatan Ilir Barat 1 Palembang. Satu, dua warga mulai berdatangan, dan sekitar pukul 08.00 WIB tidak kurang 15 warga mulai membongkar seng pos ronda yang sudah mulai karatan dan bocor.

Kegiatan gotong-royong warga RT 23 yang berdampingan langsung dengan TPU (Tempat Pemakaman Umum) Puncak Sekuning ini masih amat kental terasa. Warga yang kebanyakan berprofesi wiraswasta ini memang heterogen sukunya, mulai Jawa, Sunda, Palembang, Sekayu, Komering, hingga Tionghoa. Namun demikian, perbedaan suku dan daerah justru menjadikan dinamika persatuan dan keakraban terus terjalin dengan baik. ‘’Kalaupun ada satu-dua yang kurang sependapat masih terhitung wajar, sebab bagaimanapun itu bergantung pada pola pikir dan harus tetap dihormati,’’ ujar Imam Ghazali, SPd selaku Ketua RT 23, Minggu (29/10).

Tampak hadir juga dari belasan warga adalah Ketua RW 08, Pohan SPd, MM yang tampak kelihatan enerjik meski usianya mulai menginjak ke angka 60-an. Tanpa dikomando, belasan warga terus bekerja, mulai membongkar atap berbahan seng, memilih kayu, dan melebarkan pos bagian belakang.

Dengan dana swadaya masyarakat setempat dan dengan kesadaran yang tinggi, tidak sulit menyiapkan bahan yang diperlukan. Bahkan makanan dan minuman pun disumbang secara sukarela oleh warga, termasuk rokok.

Tepat Adzan Zuhur berkumandang dari Masjid Al Ghazali Unsri yang berjarak sekitar 1 km, semua warga langsung menghentikan aktvitas untuk beristirahat. Mulai sholat hingga santap siang nasi bungkus ikan baung yang telah dibeli Agus dan Edi satu jam sebelumnya.

Sekitar satu jam kemudian, aktivitas kembali dilanjutkan. ‘’Khusus untuk rehab atap, kami menggunakan bahan yang sama yakni seng bekas tapi lebih baik dan tidak bocor. Sedangkan untuk pelebaran di bagian belakang yang berukuran lebar 1,5 meter dan panjang sekitar 4 meter dindingnya sementara kita gunakan seng bongkaran atap. Kalau ada uang nanti baru disemen,’’ ujar Heriyanto, warga RT 23 yang berprofesi sebagai tukang dalam kesehariannya.

Pos ronda sengaja diperlebar karena selama ini sering digunakan tempat menyimpan kursi dan alat-alat PAK (persatuan amal kematian) sehingga terasa padat. ‘’Dengan adanya pelebaran ini, maka kita harapkan penjaga malam nanti agak nyaman,’’ cetus Pohan.

Dan memasuki waktu Ashar, Pos Ronda RT 23 selesai direhab. Sedangkan untuk pengecatan dan penyelesaian lantai ruangan baru masih akan dilanjutkan minggu depan. ‘’Mudah-mudahan masih ada dana kas atau donatur baru. Jika tidak, maka sementara ya seperti ini dulu,’’ ujar Jemmy Jamas, bendahara Pos Ronda.

Banyak orang yang kebetulan lalu lalang bertanya, apa tidak takut petugas ronda karena pos rondanya  di wilayah TPU Puncak Sekuning alias satu komplek dengan pekuburan. ‘’Ya mau dibuat di mana lagi, karena Pos Ronda ini peninggalan para tetua kampung dulu jadi harus tetap dijaga dan dilestarikan. Kalau takut rasanya tidak. Tapi jangan coba-coba sendirian di Pos Ronda malam hari apalagi sampai ketiduran,’’ kata Hartana.

‘’Sebab kalau malam hari suka ada bau wangi yang menyengat dan suka merinding,’’ tambah Toni Lien.

‘’Tapi bagi kami itu biasa dan tak perlu dikhawatirkan, karena memang itulah daerah kami daerah RT 23,’’ tandas Imam.

Editor/Posting    : Imam Ghazali

sumatranews.co.id1 id : 10717 Under Article