Warga Payakabung Keluhkan Air Sumur Bor Bangunan Desa, Berbau dan Berkarat

36
Belasan warga Dusun 1 Desa Payakabung Kecamatan Inderalaya Utara Kabupaten Ogan Ilir (OI) belakangan ini mulai keluhkan kualitas air sumur bor yang ada dilingkungan dusunnya. Pasalnya, selain tidak bisa dikonsumsi karena berbau, berwarna kuning dan berminyak, kondisinya juga mulai memrihatinkan.

Sumateranews.co.id, OGAN ILIR – Belasan warga Dusun 1 Desa Payakabung Kecamatan Inderalaya Utara Kabupaten Ogan Ilir (OI) belakangan ini mulai keluhkan kualitas air sumur bor yang ada dilingkungan dusunnya. Pasalnya, selain tidak bisa dikonsumsi karena berbau, berwarna kuning dan berminyak, kondisinya juga mulai memrihatinkan.

“Air sumur bor hanya bisa digunakan untuk kegiatan mandi cuci kakus (MCK) saja, bahkan pembangunan sumur bor yang belum 1 tahun dari dana desa tahun anggaran 2019 senilai Rp151 juta ini diduga asal jadi,” keluh warga, kepada awak media, Kamis (9/07/2020).

Hal itu ia sampaikan, karena kondisi bangunan menara air bersih tersebut bagian pletnya sudah miring dan pada bagian pinggir dari cor betonnya mulai grepes (pecah sedikit, red).

Keluhan sama juga diutarakan Eni, warga setempat. Dia sebutkan, warga sudah lama tidak bisa menggunakan air dari sumur bor tersebut karena menimbulkan bau, berwarna kuning seperti karat dan berminyak akibat alat penyaring airnya rusak.

“Kami sudah tidak memakai air sumur bor itu lagi untuk konsumsi karena sudah berbau, berwarna kuning dan berminyak dikarenakan penyaring sudah rusak. Paling kami hanya menggunakannya untuk mandi dan cuci baju saja, kalau untuk masak dan minum kami gunakan air sumur,” ungkapnya.

Eni menambahkan, warga hanya sempat menikmati selama 2 bulan usai bangunan air sumur bor itu dibangun.

“Dulu paling 2 bulan airnya sempat bagus, karena penyaringannya sudah rusak jadi air tidak bagus lagi,” terangnya.

Padahal, lanjut Eni, dirinya dan belasan warga lainnya harus membayar uang tagihan pemakaian air sumur bor sebesar Rp50 ribu setiap bulannya.

“Tiap bulan saya harus membayar uang Rp50 ribu karena ada orang yang bagian penagih, alasannya uang tersebut untuk Kas Desa, tapi entahlah masuk kas desa atau tidak itu silahkan ke pejabat di desa. Sedangkan disini ada 15 rumah yang disalurkan air dari sumur bor dan tarifnya berbeda-beda sesuai penggunaan meteran air. Ya karena air kita gunakan saya bayarlah,” tandasnya.

Saat ditanya soal bagian menara air bersih yang pletnya miring dan bagian bangunan mulai sudah reges (pecah), ia mengaku tidak mengetahuinya.

“Kalau soal itu saya tidak tahu kenapa pletnya miring dan bagian bangunan sudah mulai gompel coba tanyakan langsung aja dengan Pak Kades,” jawabnya seraya menyarankan para awak media untuk menanyakannya langsung kepada Kepala Desanya.

Sementara yang bersangkutan yakni, Kepala Desa Payakabung Fahrulrozi ketika dikonfirmasi melalui via seluler, Kamis (9/07), membenarkan jika air sumur bor tersebut mengalami kekeruhan dikarenakan faktor air di kecamatan Indralaya Utara memang tidak bagus jika dikonsumsi buat air minum dan memasak.

“Memang benar bahwa air sumur bor di desa payakabung saat ini keruh dikarenakan faktor kualitas air khususnya di kecamatan Indralaya Utara memang kurang bagus, selain itu juga air sumur bor tersebut bukanlah untuk dikonsumsi tapi untuk mandi dan cuci pakaian,” terang Kades.

Ia melanjutkan, ada empat titik lokasi air sumur bor yang dibangun dengan menggunakan dana desa diantaranya di dusun I, II, III dan IV dan ada pemungutan biaya seperti PDAM.

“Untuk di desa payakabung ini ada empat titik dipasangkan sumur bor dan memang benar kita melakukan pungutan biaya dalam penggunaan air sumur bor seperti PDAM dan uang tersebut akan masuk ke Kas Desa,” sebut dia.

Saat disinggung apakah pihak pemerintah desa akan melakukan penanggulan terkait kualitas air sumur bor tersebut, dirinya hanya menanggapi biasa-biasa saja dikarenakan sumur bor tersebut memang belum maksimal.

“Biasa saja itu, memang sumur bor kita bangun masih kurang maksimal, dan juga kita melakukan pembersihan tabung penampung banyu (air) yang di atas itu hanya dilakukan satu bulan sekali dan itu memakai biaya sebesar Rp250 ribu coba bayangkan kami kan ada 4 tower berapa uang yang harus dikeluarkan,  rencananya mau nambah satu lagi PAM sumur bor ini, namun terkendala karena adanya Covid 19 terpaksa kita tunda dahulu. Selain itu juga seluruh warga saat ini sudah merasakan aliran dari air sumur bor yang dibuat ini,” tandasnya.

Laporan : AL III Editor : Donni

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here