Tunanetra ini, Berharap Uluran Tangan Dermawan Demi Kesembuhan Sang Istri

77

KAYUAGUNGHartoni alias Yanto (42) warga Kelurahan Kutaraya Kecamatan Kayuagung Kabupaten OKI Provinsi Sumatera Selatan merupakan seorang tunanetra yang berjuang dengan anaknya Riska Haryanti untuk kesembuhan istri tercintanya Dede Sri Mulyati (40) yang terbaring lemas dan berjuang untuk bertahan hidup di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kayuagung karena diduga mengalami sakit komplikasi (Maag, kolestrol, darah tinggi)

Lebih mengkhawatirkan lagi istri Yanto mengidap penyakit Diabetes Malitus dan Jantung Koroner yang sepertinya harus segera dilakukan tindakan medis yang cukup serius yakni operasi.

Namun apalah daya Yanto situnanetra, selain tidak dapat melihat juga tidak ada pekerjaan selain mengurus dirinya sendiri dan menunggu sang istrinya dipembaringan. Meski  sesekali dengan mengandalkan ingatan dan pendengarannya meski dalam keadaan buta dengan dipapah anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMP Sopian Riski Haryanto. Namun untuk memcukupi kebutuhan hidup sehari-hari ianya tetap mengandalkan anaknya yang paling Sulung Riska Haryanti yang bekerja serabutan.

Berharap kepada sesama muslim untuk dapat membantunya ini yang disampaikan Hartoni alias Yanto kepada wartawan sumateranews.

“Tolong sampaikan permohonan dan keluhan kami, Kepada Yth, bapak Lurah Kutaraya, bapak Camat , bapak Kepala Dinas Sosial, bapak Kepala Dinas Kesehatan, bapak Sekda dan Yth bapak BUPATI, dan bapak kepala dinas yg lain nya. Saya tidak bisa melihat dan sudah 10 bulan ini istri saya sakit keras. Penyakit istri saya diabetes, jantung, penyumbatan pembuluh darah,darah tinggi, kolestrol, dan maag. Sudah 6 kali di rawat di RSUD Kayuagung dan sudah 3 kali di rawat di RS Palembang. Menurut RSMH  pada bulan 4 (April) tahun 2020 segera di operasi, sampai sekarang belum terlaksana,dan sekarang istri saya di rawat lagi di RSUD Kayuagung pada tgl 30 september 2020”, beber Hartoni.

Lanjut Hartoni, istrinya akan di rujuk ke RSMH sementara dirinya tidak punya ongkos dan biaya untuk melaksanakan nya. “Buat makan hari-hari dan bayar kontrakan saja kami sangat susah. Tolong bantu lah kami sekarang istri saya sangat menghawatirkan, tolong segera di tanggapi, harapnya serta memohon Semoga ALLAH membalas atas keperduliannya (Amiin) terimakasih”, ucapnya lirih.

Diketahui untuk mencukupi kebutuhan makan dan minum sehari-hari, keluarga Hartoni ini mengandalkan anaknya Riska Haryanti (20) sebagai tulang punggung keluarga yang bekerja serabutan dan berpenghasilan Rp.30 ribu perhari.

“Demi kedua orang tua saya dan adik-adik saya, saya bertekad dan tidak berputus asa untuk menjalani hidup yang masih menjadi rahasia Tuhan ini. Meski penghasilan saya sehari-hari hanya Rp.30 ribu perhari bahkan untuk sewa kontrakan saja Rp.500 ribu perbulannya tidaklah sebanding dengan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun saya tetap berusaha demi kedua orang tua dan adik saya agar dapat bertahan hidup,” tegasnya. Sembari berharap ada donatur yang dapat membantu secara ikhlas untuk pengobatan ibunya, karena BPJS kemungkinan tidak dapat menampung biaya yang harus dikeluarkan untuk  membiayai pengobatan ibunya, apalagi untuk mengurus ibunya di rumah sakit yang tentunya membutuhkan biaya yang begitu besar Dede Sri Mulyati sendiri mengalami sakit sejak tahun 2018 lalu dan terakhir berobat dan  diagnosa pada tanggal 17 Maret 2020 lalu.

Berdasarkan Kartu Keluarga (KK) Nomor 1602050506180010, Hartoni dan 5 orang keluarga (istri, anak dan ibunya) ini tinggal di LK.III Kelurahan Kutaraya Kec Kayuagung OKI Sumsel yang sekarang beralamat dirumah kontrakan di Jln KH Arahman Tauhid LK IV RT.07 Nomor 001 Kelurahan Kutaraya Kec Kayuagung OKI Sumsel.Rencananya Dede Sri Mulyati akan dirujuk ke Rumah Sakit Muhammad Hesein (RSMH) Palembang.

Bagi para donatur yang ingin memberikan bantuannya kirim kerekening Bank BRI No. 14809006242 atas nama Riska Haryanti.

 

Laporan : Aliaman III Editor : Syarif

sumatranews.co.id1 id : 10717 Under Article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here