Tontonan Minim Tuntunan

105

Oleh : Rita Hartati, S.Hum (Pemerhati Sosial dan Pendidikan)

DALAM Film Dua Garis Biru karya sutradara Ginatri S Noer mengisahkan sepasang remaja yang melampaui batas dalam berpacaran sehingga berujung pada pernikahan usia dini. Film tersebut memberi pesan bahwa remaja harus memiliki rencana kehidupannya sejak awal hingga kelak membangun rumah tangga. Garis Dua Biru menggambarkan pernikahan di usia muda bisa merusak masa depan dan memupuskan berbagai cita-cita.

Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja yang menontonnya. https://pemilu.antaranews.com/berita/952358/film-dua-garis-biru-gambarkan-program-remaja-bkkbn.

Dalam berita lain yang dimuat oleh media Jakarta – menulis bahwa adanya  Petisi yang digagas oleh Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia (Garagaraguru) di Change.org. Mereka menilai ada beberapa scene di trailer yang menunjukkan situasi pacaran remaja yang melampaui batas.  Menurut mereka, tontonan tersebut dapat memengaruhi masyarakat, khususnya remaja untuk meniru apa yang dilakukan di film.

“Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton,” isi di dalam petisi, dilihat detikHOT, Rabu (1/5/2019).

Meski tak melihat ada adegan yang melanggar undang-undang, mereka menyebut ada pesan implisit yang ingin disampaikan lewat ‘Dua Garis Biru’. Pesan tersebut dikhawatirkan dapat merusak generasi muda Indonesia. https://m.detik.com/hot/movie/d-4531538/dinilai-menjerumuskan-generasi-muda-film-dua-garis-biru-dipetisi

Indonesia dikenal dengan negara ketimuran yang kental dengan tuntunan atau nilai – nilai luhur bangsa yang selaras dengan nilai agama. Namun belakangan ini tontonan sangat minim dengan keluhuran bangsa, karena didalangi para kapatalis liberal.

Banyak masyarakat yang sudah menyadari betapa berbahayanya tontonan yang ditayangkan  melalui media perfilman bagi  perkembangan bangsa.

Termasuk tayangan yang setiap hari dikonsumsi oleh masyarakat melalui televisi tidak lepas dari pameran aurat, pergaulan bebas, kekerasa, kesyirikan dan lain – lain. Hampir semuanya tidak ada yang memiliki pesan yang yang mendidik selayaknya tontonan baik.

Hal semacam ini hanya terjadi dalam sistem liberal sekuler, yang mengagungkan film yang bernilai  bisnis yang menguntungkan mereka.  Selama ada yang berminat dan menjadikan keuntungan,  maka film akan dibuat dengan judul dan trailer yang menjual. Mereka tidak pernah berpikir dampak yang akan ditimbulkan terhadap aqidah, moral dan prilaku generasi bangsa. Sedangkan mayoritas yang menjadi sasaran empuk para kapital perfilm adalah anak muda yang haus akan hiburan dan labil,  sehingga meniru apa yang mereka tonton.

Seharusnya pemerintah sangat berperan atas kebutuhan tontonan masyarakat yang bersifat edukasi. Tapi sungguh miris ketika pemerintah saat ini tak berdaya dalam mengawasi dan mengendalikan arus liberalisasi yang terus merangsung untuk merongrong generasi bangsa. Melalui dalih kebebasan dalam berkreasi dan bertameng karya seni, para kapital perfilman dengan bebasnya berkarya demi meraup keuntungan dengan dilindungi undang – undang liberal.

Tidak ada yang bertanggung jawab atas carut marutnya sistem perfilman saat ini, tinggal masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi bangsa yang melakukan pengawasan, sehingga membuat petisi dan kritik terhadap media perfilman nakal. Yang seharusnya ini bukan hanya tanggung jawab masyarakat melainkan bersama dengan pemerintah.

Dalam sistem islam, media teknologi adalah sarana yang ampuh untuk menyanpaikan pesan pendidikan yang sangat efektif dan efesien. Baik itu berupa berita, hiburan atau film. Tentunya sejalan dengan visi dan misi pendidikan dikurikulum sekolah yaitu untuk membentuk insani yang berkualitas dan bertakwa.

 

Sehingga film dalam sistem Islam bukan hanya sebagi hiburan, lebih dari itu harus mengandung edukasi dan dakwah. Banyak hal baik bisa disampaikan melaui film, karena tontonan akan membentuk karekter penonton dengan mencontoh apa yang mereka lihat.

Lembaga perfilman tidak terlepas dari pengawasan pemerintah dan masyarkat dalam memproduksi sebuah film. Sehingga kebutuhan masyarakat akan hiburan terpenuhi tanpa mengabaikan nilai moral yang hendak terkandung didalamnya.

Inilah peran pemerintah dalam mengurusi urusan umat termasuk menjaga aqidah, moral dan perilaku masyarkat.  Sehingga menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas dan bermartabat dan memiliki syaksiyah Islamiyah atau pola fikir dan pola sikap yang terikat dengan halal dan haram.

Semoga dengan izin Allah segera terwujud sistem Islam secara kaffah sehigga  menghasilkan generasi terbaik bangsa dan tercipta rahmatan lil’alamin. Wallahua’lam….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here