Tim Pemkab Muara Enim Cek Lokasi Longsor di Bantaran Sungai Meriak Muaro Belido

118
Penampakan pasca longsor di Desa Gedung Buruk, Kecamatan Muaro Belido, Muara Enim. (Insert Foto) Tim Pemkab Muara Enim saat melakukan pemeriksaan lapangan pasca terjadinya longsor di bantaran Sungai Meriak, Senin (21/9).

Warga Tuding Aktivitas Tugboat Batu Bara Pemicu Longsor

MUARA ENIM – Sejak beberapa tahun terakhi ini, warga Desa Gedung Buruk, Kecamatan Muara Belido, Kabupaten Muara Enim, mengeluhkan seputar aktivitas transportasi tugboat pengangkut batu bara milik sejumlah perusahaan batu bara, yang melintas di sepanjang jalur sungai meriak menuju arah Palembang, Sumatera Selatan.

Hal itu terungkap, saat tim pemeriksa lapangan dari Pemerintah Kabupaten Muara Enim bersama sejumlah dinas terkait melakukan pemeriksaan lapangan pasca terjadinya longsor di bantaran Sungai Meriak, Senin (21/9).

Dari pantauan awak media di lapangan, yang turut mendampingi tim pemeriksa Pemerintah Kabupaten Muara Enim, terlihat di sepanjang bantaran sungai meriak dengan panjang sekitar 70 meter dan lebar bervariasi mulai ukuran 7-15 meter dengan posisi keretakan permukaan tanah membentuk garis panjang mengikuti arah bantaran sungai meriak.

“Sejak 2 tahun terakhir ini sudah 2 kali longsor parah pak, malah yang pertamo tahun 2018 sampai sekarang belum ada realisasi perbaikan,” ungkap Sobirin (40) warga Gedung Buruk mengawali perbincangannya dengan awak media ini, di lokasi.

Dia jelaskan, sedikitnya terdapat 7 KK yang terdampak langsung oleh peristiwa tanah longsor di bantaran sungai meriak dengan kondisi yang mengkhawatirkan.

“Longsor ini telah berlangsung sekitar setengah bulan dan terus menimbulkan keparahan pada titik titik longsor, satu pohon asam dan satu pohon kelapa sudah roboh akibat tanah longsor itu. Sudah sekitar 15 meter tanah yang amblas. Kami dengan beberapa warga yang lain sudah berusaha memasang patok kayu untuk mencegah meluasnya efek longsor tetapi tidak membuahkan hasil maksimal,” jelas Sobirin.

Harapan yang sama juga disampaikan Aswan (70), warga lainya. Dia katakan, ancaman tanah longsor makin diperparah dengan tingginya intensitas aktivitas tugboat pengangkut batu bara yang melintasi wilayah sungai meriak.

“Umur aku ni la 70 tahun pak, aku tau nian keadaan desa gedung buruk ini, la 2 tahun belakangan ini terjadinya longsor bantaran sungai meriak. Apolagi tiap hari 4 sampai 10 tugboat batu bara melintas di sini. Dan ini sebagai salah satu penyebab terjadinya longsor di sepanjang bantaran sungai meriak. Belum lagi di tikungan sungai ini paling rawan terjadinya musibah kecelakaan tugboat, sudah 2 kali merobohkan jembatan kayu milik warga dan kejadian terakhir malah merobohkan salah satu rumah milik warga,” ungkap Aswan, seraya berharap pemerintah bisa memberikan solusi dengan mencarikan lokasi lahan yang aman bagi warga.

“Sepeser katek bantuan pak, padahal kami sangat mengharapkan bantuan agar kami bisa pindah ke tempat yang lebih aman, dan soal tanah kepunyaan kami ini kami serahkan sebagai pengganti ke tempat pindah tersebut, kami sebagai warga siap untuk memindahkan rumah kami dengan warga yang terdampak lainya,” tambah Aswan.

Menanggapi keluhan dan keinginan 7 warganya, Kepala Desa Gedung Buruk, Saparudin menjelaskan, pihaknya akan menyampaikan keluhan warganya tersebut kepada dinas terkait dan juga terhadap sejumlah perusahaan transportasi batu bara.

Turut hadir dalam pemeriksaan pasca longsor tersebut, Dinas PUPR, Dinas Perhubungan, Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Bagian Administrasi dan Pembangunan Setda Muara enim, BPBD, perwakilan kecamatan serta sejumlah warga Desa Gedung Buruk, Kecamatan Muara Belido, Kabupaten Muara Enim.

Laporan : Sidi III Editor : Donni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here