Tim Gabungan BBPOM Palembang Amankan 20 Ribu Tahu Berformalin

28
Tim Gabungan BBPOM Palembang Amankan 20 Ribu Tahu Berformalin
Kepala BBPOM Palembang, Yosef Dwi Irawan, saat menggelar press release terkait hasil penindakan operasi dan penangkapan tahu mengandung bahan berbahaya formalin, bertempat di kantor BBPOM Palembang, Senin (8/3/2021).

PALEMBANG – Tim gabungan yang terdiri dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Palembang, Direskrimsus Polda Sumsel serta Pol PP Sumsel berhasil mengamankan tahu mengandung bahan berbahaya formalin sebanyak 20.000 buah.

Pengungkapan ditemukannya puluhan ribu tahu berformalin siap edar ini diungkapkan Kepala BBPOM Palembang, Yosef Dwi Irawan, saat menggelar press release terkait hasil penindakan operasi dan penangkapan tahu mengandung bahan berbahaya formalin, bertempat di kantor BBPOM Palembang, Senin (8/3/2021).

“Kronologi penangkapan sekitar pukul 4.30 WIB, Tim Gabungan yang terdiri dari BBPOM  Palembang, Direskrimsus Polda Sumsel meluncur ke lokasi tepatnya di Pasar 7 Ulu Palembang. Tersangka ini sudah menjadi TO (Target Operasi) kita.

Awalnya kita melakukan investigasi sekitar dua minggu yang lalu, terkait adanya laporan dan indikasi penggunaan bahan berbahaya formalin.

Setelah kita yakin bahwa tahu tersebut diproduksi dimana, kemudian dijual ke mana, akhirnya kita lakukan penangkapan dan penggerebekan,” tuturnya.

Dijelaskan Yosef, bahwa pada saat dilakukan penindakan memang belum sempat ada transaksi.

Setelah dilakukan pengujian melalui rapid tes ternyata tahu sebanyak 20.000 buah tersebut positif mengandung bahan formalin.

Yosef menyebutkan, bahan formalin ini sangat berbahaya bagi kesehatan terutama bagi anak anak karena berasal dari zat pengawet untuk mayat, yang apabila dikonsumsi atau dimakan dalam jangka panjang akan berdampak pada kesehatan seperti resiko terkena kanker.

“Hal ini tentu saja tidak sejalan dengan tujuan kita apabila masih mengonsumsi pangan-pangan mengandung formalin,” tandasnya.

Dikatakan Yosef, pengungkapan tahu formalin siar edar tersebut berawal dari penangkapan di Pasar 7 Ulu, pihaknya langsung bergerak menuju lokasi tempat di mana tahu tersebut diproduksi.

Bermodalkan itu, petugas langsung bergerak menuju kawasan Bukit Besar Jalan Padang Selasa, dan setibanya di sana ditemukan beberapa sisa tahu termasuk jeriken-jeriken berisi bahan berbahaya formalin.

Setelah diuji semua terindikasi mengandung formalin.

“Dengan bukti tersebut kita lakukan pengamanan, dan saat ini sedang kita lakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang ada, tentunya nanti ditetapkan siapa yang jadi tersangka dan bertanggung jawab terkait dengan tindakan yang dilakukan,” urainya.

Sementara itu, Wakil Wali kota Palembang  Fitrianti Agustinda yang turut hadir dalam press release tersebut mengatakan, bahwa dirinya mewakili Pemerintah Kota Palembang memberikan apresiasi yang tinggi kepada BBPOM atas kerja keras yang telah dilakukan.

”Berdasarkan informasi yang masuk, mereka melakukan sidak atau tangkap tangan pada pukul 4.30 WIB terhadap pelaku usaha yang sejak lama dicurigai ada indikasi melakukan kecurangan,” ucapnya.

Pihaknya juga memberikan dorongan yang sangat besar terhadap kerja keras BBPOM.

Ia berharap hal ini dapat dilakukan bersama-sama antara Pemerintah Kota Palembang, BBPOM, serta Polda Sumsel.

“Kita ingin Kota Palembang baik pangan, obat, kosmetik benar-benar bebas dari bahan berbahaya,” harapnya.

Di tempat terpisah, Pengamat Kebijakan Publik Andies Leonardo ketika dikonfirmasi terkait penangkapan tahu formalin ini mengatakan, bahwa kebijakan publik tentang masih banyaknya makanan yang mengandung zat berbahaya seperti misalnya penangkapan tahu formalin di kawasan pasar 7 ulu Kota Palembang. Hal tersebut sangat membahayakan masyarakat selaku konsumen tentunya Pemerintah Daerah dalam hal ini Pemerintah Kota Palembang harus tegas dalam mengawasi peredaran dan pendistribusian makanan yakni makanan dan minuman yang mengandung zat-zat berbahaya seperti halnya tahu formalin ini.

“Setidaknya ada regulasi yang mengatur tentang obat-obatan makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya seperti adanya Perda atau setidaknya ada Perwali, dan Pergub yang mengatur tentang sanksi pidana maupun administrasi atau setidaknya menutup tempat di mana makanan tersebut dikelola,” tandasnya.

Laporan : Are III Editor : Donni

sumatranews.co.id1 id : 10717 Under Article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here