Tidak Ada Politisasi Agama dalam Sistem Islam

32
Tidak Ada Politisasi Agama dalam Sistem Islam
Lestia Ningsih S.Pd (Aktivis Dakwah).

OLEH: Lestia Ningsih S.Pd ( Aktivis Dakwah)

Pilkada serentak akan dilaksanakan pada tanggal 9 Desember mendatang. Hal ini banyak mengundang para sentimen dari berbagai kalangan untuk waspada dan berhati-hati terjadinya politisasi agama dan money politik. Seperti biasa setiap Pemilu/kada terdapat kampanye yang bertujuan untuk mengambil simpati rakyat. Maka apapun akan dilakukan demi memperoleh suara terbanyak termasuk dengan membawa-bawa agama dan lainnya  sebagai alat untuk pencitraan dirinya.

Indonesia yang Notebene penduduknya mayoritas muslim menjadi sasaran tepat untuk memenuhi kantong suara. Tidak jarang para politisi membumbui agama dalam kampanyenya. Banyak pihak mewanti-wanti bahwa politisasi agama untuk bkekuasaan adalah upaya yang berbahaya. Salah satunya yang menyatakan hal tersebut adalah Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia, TGB Muhammad Zainul Madji, mengingatkan bahwa politisasi agama semata untuk mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestansi politik akan berdampak buruk dan berbahaya.

Seperti musiman, pesta rakyat ini memberikan memori yang kuat pada rakyat bahwa upaya pencitraan yang berbau agama adalah hal yang biasa terjadi,  Seperti : beberapa para politisi yang tiba-tiba rajin mendatangi pesantren, meminta doa para Ulama, bahkan menggandeng tokoh islam demi kantongi suara, mengenakan atribut-atribut islam demi mencitrakan fiqure yang islami. Hal ini tidak hanya dilakoni oleh parpol-parpol islam saja melainkan dari parpol Nasionalis dan parpol sekuler ikut “latah” melakukan politisasi agama.

Namun apalah daya, di sistem Demokrasi tentu hal yang sangat sukar menghindari politisasi agama dan money politik. Hal ini menjelaskan bahwa politisasi agama menjelang pemilu/kada adalah bagian yang tidak bisa dihindari di sistem buatan manusia ini. Hal tersebut merupakan hal yang sah-sah saja selama bisa berkelit dari batasan regulasi.

Jelas Demokrasi merupakan sistem bobrok yang akan terus menciptakan pemimpin yang tidak jujur, bermuka dua, dan tidak perduli kepada rakyat. Bagaimana tidak?  Sebab sistem yang mendewakan kebebasan ini terus saja melahirkan pemimpin yang curang, bohong, dan bermuka dua dengan melakukan pencitraan dan politisasi agama tanpa ada undang-undang tegas yang mampu mencegahnya. Jika mem-politisasi agama dan pencitraan adalah hal yang sah-sah saja demi memperoleh suara maka tidak heran penguasa sepeti ini akan amnesia pada janji-janjinya kepada rakyat ketika berhasil berkuasa.

Tentu ini semua berbanding terbalik dengan Islam. Di dalam sistem islam, akidah dijadikan sebagai landasan dalam undang-undang dan berbagai aturan yang akan diterapkan oleh Negara. Sehingga siapapun sadar bahwa setiap amanah sekecil apapun akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah SWT. Hanya disistem islam menjadikan pemimpin yaitu khalifah tidak memiliki perhatian khusus kecuali pada rakyat dan risalah islam. Sadar akan pertanggungjawabannya kepada Allah SWT maka amanah dan kebijakannya dilaksanakan hanya berdaulat pada hukum Allah SWT semata yaitu hukum syariat islam. Islam menjelaskan bahwa dari sistem Khilafah yang diterapkan selama 14 abad lamanya bahwa pemimpin dipilih karena agamanya bukan karena berhasil mem-politisasi agama.  tidak ada politisasi agama, justru sebaliknya menjadikan agama sebagai landasan dalam berpolitik.

Wallahu a’lam bi ash sawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here