Terkait Armada DAMRI dan Truk Batubara, Warga Pertanyakan Kinerja Kadishub Prabumulih

0
762
Foto Dokumentasi Bus Damri Prabumulih

Sumateranews.co.id, PRABUMULIH – Polemik alat transportasi armada Damri pasca aksi unjuk rasa puluhan sopir Travel, beberapa hari lalu, kini terus menuai pro dan kontra ditengah masyarakat. Warga pun mulai mempertanyakan kinerja Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) kota Prabumulih, yang dinilai paling bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan dua alat transportasi publik tersebut.

“Kami mulai khawatir seperti ada pembiaran permasalahan ini dari Kadishub. Seharusnya hal itu tidak perlu terjadi, jika pihak Dishub peka dan menertibkan keberadaan dua alat moda transportasi tersebut,” ucap Doni Andreas (43) warga kelurahan Muara Dua, Kecamatan Prabumulih Timur, kepada awak media, Minggu (20/05).

Apalagi menurutnya, sudah beberapa kali ada teguran dari Penjabat Walikota Prabumulih sebelumnya, yang meminta Kadishub menertibkan dan menjalankan isi perjanjian (MoU) antara Damri dengan pihak Pemkot Prabumulih, serta menindak tegas angkutan truk batubara nakal yang masih melintasi jalan protocol Prabumulih.

“Kita minta Dishub bertindak, dan jangan berdiam diri. Besok kami ingin menyampaikan langsung itu kepada beliau, agar jangan takut dan bekerjalah sesuai tupoksi dan peraturannya,” tegas salah satu aktivis pemerhati pembangunan dan lingkungan kota Prabumulih ini.

Pernyataan sama juga disampaikan Agus, warga Majasari. Dikatakannya, semenjak mulai beroperasi pada sekitar tahun 2017 lalu hingga sekarang, armada Damri banyak beroperasi tidak sesuai perjanjian dan peruntukan. Mulai dari khusus untuk transportasi kalangan mahasiswa, pelajar dan PNS, juga diperuntukan untuk kendaraan angkutan dinas bagi setiap Kepala SKPD yang akan berpergian dinas menuju Bandara Sultan Mahmud Badarudin (SMB) II Palembang.

“Dengan alasan untuk efisiensi dana kedinasan, oleh Walikota saat itu seluruh Kepala SKPD dilarang menggunakan kendaraan dinas dan harus menggunakan bis Damri untuk pergi ke Bandara SMB II Palembang. Namun sampai kesininya, semuanya berubah,” terang Agus, menyayangkan.

Bahkan, dia juga mempertanyakan penambahan unit armada bus Damri dari 5 unit menjadi 8 unit sejak 1 tahun terakhir atau tepatnya pada Februari 2017 kemarin. Dimana dua unitnya untuk bus angkutan umum, dan 1 unit lagi untuk bus pelajar (mahasiswa).

Agus kembali menerangkan, bantuan hibah dari Kemenhub RI sebanyak 5 unit Bus Rapid Transit (BRT) yang diterima Pemerintah kota Prabumulih awalnya dia katakan, dibeli pihak Kemenhub pada 2015 dan diserahkan ke Perum Damri Bandung pada Februari 2016. Namun diduga mangkrak (tak beroperasi) akhirnya oleh Kemenhub dan Damri Bandung dialihkan ke Pangkalan Balai Pemkab Banyuasin untuk melayani rute Banyuasin – Palembang.

“Tetapi infonya juga bernasib sama, baru beroperasi sejak Nopember 2016, pada Mei 2017 berhenti beroperasi. Dan kembali oleh pihak Kemenhub, 5 BRT Damri itu, pada Juni 2017 diserahkan ke Pemkot Prabumulih, dan beroperasi sampai sekarang,” imbuhnya.

“Mirisnya lagi dari info yang kita dapat, itu sopir-sopir dan kernet bus tambahan banyak berasal dari luar daerah. Bukan dari Prabumulih, dan jika ini benar itu sangat kita sesalkan,” tambah Agus, seraya mempertanyakan uang pemasukan bagi PAD dari setoran bus Damri tersebut.

Sebelumnya, sejumlah perwakilan mahasiswa Unsri telah melakukan audensi kepada Penjabat Walikota Prabumulih, H Richard Chahyadi AP MSi, pada Jumat (18/05) akhir pekan kemarin. Terungkap pada pertemuan itu, mahasiswa dan pelajar sangat mendukung terhadap langkah yang diambil Pemerintah kota Prabumulih.

Selain agar pemerintahan Prabumulih tidak disepelekan oleh pihak luar, juga masyarakat yang menikmati damri dapat benar-benar sesuai dengan kapasitas bus. Serta masyarakat Prabumulih juga bisa menikmati hasil dari keberadaan bus damri tersebut.

“Masa orang cari uang di daerah kita tapi yang dapat hasilnya orang daerah lain. Artinya damri tidak menjalankan komitmen dan sopir sopir sama kernetnya diketahui dari daerah lain sedangkan mereka beroperasi di daerah Prabu,” timpal Azwar.

Laporan : Taufik/Yayan

Editor     : Donny