Tahu Berformalin dan Panganan Kadaluwarsa Ditemukan di Carrefour Transmart Palembang

0
206

Sumateranews.co.id, PALEMBANG – Tim pengawasan pangan yang terdiri dari Balai POM (BPOM) Palembang, Dinas Pemprov Sumatera Selatan (Sumsel), Pemkot Palembang, dan beberapa instansi lain yang terkait, berhasil menemukan panganan berformalin yang dijual di Carrefour Transmart Palembang. Hal tersebut disampaikan Ketua BPOM Palembang, Dra Dewi Prawitasari Apt MKes usai melakukan sejumlah ujicoba produk langsung di Carrefour Transmart, Senin (4/6).

Menurutnya, ada beberapa produk yang dicurigai mengandung zat pewarna, borax dan formalin, namun pangan tidak layak konsumsi hanya ditemukan pada produk tahu yang termasuk makanan siap saji.

“Temuan pangan yang berformalin adalah tahu yang merupakan makanan siap saji.  Untuk panganan dalam kemasan yang kami curigai mengandung zat pewarna dan borax, itu tidak ditemukan. Kami hanya menemukan hanya tahu berformalin,” ungkapnya seraya menambahkan jika pihaknya akan meminta kepada Carrefour Transmart untuk tidak menjual produk berformalin itu. “Kalau masih mau jual tahu lagi, harus berpindah atau ganti supplier lain (produsen),” lanjutnya.

Untuk panganan kemasan kadaluarsa, lanjut Dewi, temuan tidak begitu banyak. Temuan kadaluarsa ada pada panganan industri rumah tangga yang berbentuk kue kering. “Masa kadaluwarsanya sudah lewat satu bulan. Mungkin penyebabnya karena terlalu banyak produk sehingga terlewat (dari pengawasan),” jelasnya.

Selain itu, hanya ditemukan bahan tambahan pangan seperti vanili, ovalet yang nomor edarnya sudah tidak berlaku lagi. “Kami juga meminta yang surat edarnya tidak berlaku lagi untuk diturunkan dari display dan tidak diperjualbelikan, dan itu bisa dicek kembali ke produsennya. Siapa tahu barang itu sedang dalam proses perpanjangan izin edar di BPOM,” tegasnya.

Sementara, General Manager (GM) Store Transmart, Cekly Anggono Raras mengatakan jika dirinya belum mendapat informasi terkait penemuan adanya kue kering kadaluwarsa.

“Mengenai hal itu, saya belum mendapatkan konfirmasi dari BPOM. Jelasnya, kue keringnya itu mungkin belum lengkap labelnya. Untuk produk tahu, saya akan konfirmasi terlebih dulu. Mereka tadi ada meja edukasi, mungkin saja produk itu dari luar,” jelasnya.

Dilanjutkan, transmart memiliki sistem pengawasan yang terbilang ketat untuk produk yang masuk. “Pengecekan kualitas produk itu kami lakukan setiap hari. Hal ini bisa jadi terjadi pada saat suplier mengirim barang mungkin sudah mendekati masa kadaluarsa. Jelasnya, kalau dari kami menerima produk masa kadaluarsanya minimal tiga sampai enam bulan sebelum masa kadaluwarsanya,” lanjut Cekly.

Mengenai izin edar yang ditemukan, dirinya mengatakan jika kabanyakan produk itu berasal dari Jakarta. “Nanti akan kami komunikasikan lagi dengan suplier maupun pembeli kami,” singkatnya.

Di tempat yang sama, Sekretaris daerah (Sekda) Provinsi Sumsel, Nasrun Umar yang ikut dalam giat pengawasan tersebut mengatakan bahwa pengawasan yang dilakukan memang menjadi fungsi dari BPOM, Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, Dinas Perindustrian pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

“Jika saat ini pengawasan dilakukan secara terbuka, barangkali dikaitkan dengan momen menjelang lebaran. Dan, institusi-institusi yang saya sebutkan sebelumnya, harus memastikan bahwa panganan yang dikonsumsi masyarakat, merupakan produk-produk yang aman untuk dikonsumsi,” ujarnya.

Mengenai beberpaa temuan panganan yang tidak layak konsumsi dan edar, Nasrun menegaskan jika hal itu tentu ada aturan-aturan sendiri, jelasnya tidak boleh edar.

“Saya tidak mau menyalahkan siapapun. Kondisi tersebut adalah yang ada saat ini. Ke depan, hal itu tidak boleh terjadi lagi,” tegasnya.

Nasrun juga mengimbau kepada masyarakat agar semakin cerdas memilih makanan untuk dikonsumsi. Masyarakat juga harus turut melaporkan jika menemukan ada panganan yang diindikasi tidak layak konsumsi atau edar lagi.

“Sistem pelaporan itu tidak sulit atau berbelit-belit asal pengaduan itu dilakukan secara transparan, dan jelas siapa yang melaporkan. Jika hal itu terpenuhi, kami akan memproses hal itu dengan respon yang cepat. Itu komitmen saya (pemerintah daerah).

“Silakan laporkan ke BPOM, Dinas Perdagangan atau instansi terkait lainnya. Bahkan, lapor ke Camat pun bisa. Itu akan diteruskan ke instansi terkait untuk dilaporkan kepada saya,” lanjut Sekda yang terkenal tegas itu.

Untuk diketahui bahwa, lanjut Nasrun, angka makanan berformalin di Sumsel mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2017).

“Saya informasikan bahwa tahun lalu (2017) rata-rata produk Sumsel yang berformalin mencapai angka 37 persen. Namun, mengalami penurunan secara signifikan pada tahun 2018, dimana hanya ada 17,8 persen. Hal itu tentu menggembirakan, walaupun secara  average angka 17,8 persen tersebut, Kota Palembang cukup besar dengan angka mencapai 20 persen,” jelasnya.

Dilanjutkan, tingginya produk berformalin di Palembang, tidak lepas dari banyaknya produk mi dan tahu berformalin yang industrinya ada di Palembang.

“Saya berharap kedepan seluruh institusi terkait berkolaborasi untuk tetap melakukan pengawasan yang ketat terkait produk panganan. Apalagi, Asian Games sudah di depan mata. Itu merupakan tanggung jawab bersama karena belasan ribu tamu akan datang ke Palembang,” ujarnya dan menekankan jika Sumsel harus berani menyakinkan mereka jika apa yang dikonsumsinya adalah makanan yang sehat dan layak konsumsi.

Laporan          : Irfan

Editor/Posting : Imam Ghazali