BengkuluHeadlineSumsel

Sumatera Selatan, Tak 100 Persen Aman dari Gempa Bumi

Sumateranews.co.id, BENGKULU – Gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Empat Lawang pada Jum’at (31/01/2020) lalu, menyadarkan kita bahwa wilayah Sumatera Selatan tidak 100% aman dari ancaman gempa bumi. Gempa dengan kekuatan M 4,3 tersebut dirasakan hingga ke beberapa kabupatan yaitu, Kabupaten Empat Lawang, Kota Lubuk Linggau, Kabupetan Rejang Lebong, Kabupaten Kepahiang, dan Kota Bengkulu. Gempa yang berpusat di Kabupaten Empat Lawang ini dipicu oleh Sesar Lokal, yaitu ujung Sesar Musi melewati Kabupaten Empat Lawang.

Sebenarnya, bukan kali pertama ini saja gempa bumi terjadi berpusat di Provinsi Sumatera Selatan. Sebelumnya pada Selasa, 09 September 2008 pernah terjadi gempa bumi dengan kekuatan M 5,6 berjarak 26 km barat Pagar Alam atau 51 km barat daya Tebing Tinggi. Gempa ini dipicu oleh sesar darat yang melewati Kota Pagar Alam, yaitu Sesar Manna. Korban luka-luka mencapai 60 orang serta menewaskan 2 orang. Tidak kurang dari 355 rumah rusak di 11 desa akibat gempa ini. Kerusakan terjadi di sekitar Kecamatan Jarai, Muara Payang, dan Pagar Alam.

Sesar Manna ini kembali menunjukkan eksistensinya pada 02 Nopember 2014 dengan terjadi gempa berkekuatan M 4,8. Gempa ini hanya berjarak 12 km barat daya pusat Kota Pagar Alam. Gempa tidak hanya dirasakan di Kota Pagar Alam, melainkan juga di Kabupaten Lahat, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Muara Enim hingga Kota Palembang.

Beberapa sejarah gempa di atas cukup mengingatkan kepada kita bahwa Sumatera Selatan tidak sepenuhnya aman dari ancaman gempa bumi.

Potensi Gempa Sumsel

Selain ancaman dari “Sesar Musi” dan “Sesar Manna”, ada lagi sesar darat yang melewati kawasan Sumatera Selatan yaitu “Sesar Komering Selatan”, dan “Sesar Komering Utara”.

Sesar Musi yang memanjang mulai dari Kabupaten Rejang Lebong, Kepahiang, hingga Empat Lawang dalam sejarah kegempaan pernah mencatat sejarah memilukan. Pada tanggal 15 Desember 1979 dengan terjadinya gempa bumi merusak. Gempa yang berpusat di Kabupaten kepahiang ini berkekuatan M 6,0 dengan intensitas VIII-IX MMI, tidak kurang dari 3.600 bangunan rusak berat dan ringan serta korban jiwa sebanyak 4 orang.

Gempa bumi merusak lainnya yang pernah dibangkitkan oleh Sesar Musi adalah gempa pada tanggal 15 Mei 1997 dengan kekuatan M 5,0 yang mengakibatkan setidaknya 65 bangunan rusak berat dan ringan.

Merujuk hasil penelitian mutakhir yang dibukukan oleh Tim Pusat Study Gempa Nasional tahun 2017 (Pusgen 2017) lalu, Sesar Musi ini memiliki potensi gempa bumi dengan kekuatan maksimum mencapai M=7,2. Potensi gempa ini bisa terjadi di sepanjang jalur sesar. Artinya tidak hanya bisa terjadi di Kepahiang atau Rejang Lebong saja, melainkan juga di Kabupaten Empat Lawang yang dilewati ujung sesar ini.

Sesar Manna yang memiliki panjang mencapai 85 km melintasi Kabupaten Bengkulu Selatan, sepanjang bukit barisan sisi barat Gunung Dempo antara Tanjung Sakti dan Kota Pagar Alam, terus memanjang di bukit barisan yang ada di Kecamatan Semendo Kab. Muara Enim. Sama halnya dengan sesar Musi, Sesar Manna ini memiliki potensi gempa dengan kekuatan M=7,2.

Sesar Komering yang berada di Kabupaten Ogan Komering Ulu, melintasi beberapa kecamatan yaitu Sungai Are, Pulau Beringin, Mekakau Ilir, Banding Agung, Warkuk Ranau Selatan, Buay Pematang Ribu Ranau tengah, dan Sindang Danau.

Sesar Komering juga memiliki potensi gempa yan cukup besar, Segmen Komering Utara dengan panjang 111 km memiliki potensi M=7,2 sedangkan Segmen Komering Selatan yang panjang nya 60 km memiliki potensi gempa dengan kekuatan M=7,1.

Berdasarkan catatan kegempaan, tahun 1933 kawasan Sesar Komering pernah terjadi gempa kuat dengan skala magnitudo M 7,5. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh ahli kegempaan LIPI, Danny Hilman, di sekitar Danau Ranau pernah terjadi gempa dahsyat dengan kekuatan M 7,5 pada tahun 1933 (www.politikindonesia.com 09/04/2011).

Aktivitas gempa akhir-akhir ini yang diduga kuat dibangkitkan oleh Sesar Komering adalah gempa, pada 20 Agustus 2017 dengan kekuatan M 5,0. Gempa ini terletak pada jarak 33 km Barat Daya Ogan Komering Ulu. Tidak hanya di OKU, gempa juga dirasakan hingga ke Lahat, Muara Enim, dan Liwa-Lampung.

Gempa Darat Sangat Merusak

Sebagaimana kita ketahui bahwa gempa bumi memiliki karakteristik yang terjadi secara berulang pada kawasan yang sama. Artinya, jika suatu daerah pernah terjadi gempa bumi, maka berpeluang terjadi kembali pada waktu tertentu. Memang saat ini belum ada tekhnologi yang mampu memprediksi secara akurat kapan dan berapa besar gempa bumi akan terjadi, namun wilayah-wilayah yang berpotensi akan terjadi gempa bumi sudah dapat dipetakan. Melihat keberadaan kita yang begitu dekat dengan lokasi gempa, sudah sepatutnya kita senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman gempa bumi yang setiap saat mengintai kita.

Dapat kita bayangkan jika gempa bumi darat berkekuatan M>6,0 dengan kedalaman dangkal dan lokasinya sangat dekat dengan pusat kota terjadi kembali. Dimana gedung-gedung bertingkat sudah cukup banyak dan populasi penduduk semakin bertambah. Artinya, resiko dan potensi kerusakan dan korban jiwa cukup besar jika kita tidak memiliki sistem mitigasi yang memadai.

Gempa darat dengan kekuatan di atas 5,0 jika terjadi di pemukiman maka akan sangat merusak. Karena gempa darat sifatnya sangat lokal dan sangat dangkal sehingga guncangan sangat kuat. Berbeda dengan gempa subduksi di laut, dengan kekuatan sama karena jaraknya biasa jauh dari pemukiman mancapai ratusan kilo meter.

Mitigasi Sesar

Untuk melakukan upaya mitigasi sesar, langkah pertama adalah kita harus mengakui bahwa keberadaan kita sangat dekat dengan zona gempa bumi. Artinya ada fakta kerentanan yang harus kita terima. Jika kesadaran ini sudah tertanam pada diri kita, baru kita bisa melakukan langkah selanjutnya.

Langkah selanjutnya adalah pemetaan secara rinci dan detail dengan tingkat akurasi yang tinggi. Pemetaan ini mencakup seluruh jalur sesar yang ada pada wilayah sesar aktif. Survey pemetaan bisa berkolaborasi melibatkan lembaga peneliti seperti universitas yang ada di masing-masing provinsi serta pemda setempat. Setelah diketahui secara detail, maka langkah berikutnya adalah memberi tanda pada jalur sesar tersebut. Tanda yang diberikan bisa berupa papan nama, tiang beton, pagar beton, atau lainya.

Setelah melakukan pemetaan tersebut, maka harus diikuti dengan terbitnya regulasi terkait tata ruang. Regulasi ini harus tertuang secara tegas, bahwa ada radius aman sisi kiri dan sisi kanan sesar. Regulasi semacam ini sudah diterapkan di beberapa negara. Amerika Serikat contohnya, sejak 1977 menetapkan jarak aman dari jalur sesar utama sejauh 150 meter dan 60 meter dari cabang sesar (Pusgen 2017).

Di Taiwan, menetapkan regulasi serupa dengan cara melakukan kajian berdasarkan sejarah gempa. Untuk sesar yang pernah terjadi gempa dengan kekuatan lebih dari M=7,0, maka jarak amannya adalah 100 meter. Sedangkan sesar yang pernah terjadi gempa dengan kekuatan lebih dari M=6,0, jarak amannya adalah 50 meter.

Di Cina, jarak aman yang digunakan bervariasi antara 100 meter, 200 meter, dan 400 meter sesuai dengan kelas konstruksi bangunan yang akan dibangun. Berbeda lagi dengan daerah Selandia Baru, mereka menetapkan jarak aman untuk setiap sisi sesar adalah 50-90 meter dan di dalamnya sudah mempertimbangkan ketidakpastian jarak sesar 20 meter untuk tiap sisi.

Bagaimana dengan di Indonesia, apakah upaya ke arah sana sudah ada? Provinsi Jawa Barat satu langkah lebih maju dalam hal ini. Pada tahun 2016, Gubernur Jawa Barat mengeluarkan regulasi dalam bentuk “Keputusan Gubernur Nomor 2 Tahun 2016”. Dalam keputusan ini menyebutkan, setiap pembangunan di sekitar daerah risiko bencana, terutama di sekitar Sesar Lembang, jarak amannya adalah 250 meter dari sisi kiri dan kanan Sesar Lembang.

Kalau Jawa Barat bisa, harusnya daerah lain juga bisa. Upaya selanjutnya yang paling penting adalah pengawasan yang super ketat terhadap regulasi yang sudah ditetapkan. Jangan sampai hanya sebatas tertuang dalam bentuk keputusan kepala daerah, namun di lapangan tidak dijalankan dengan sepenuh hati. (***)

Sumber : Sabar Ardiansyah, SST (BMKG, Stasiun Geofisika Kepahiang-Bengkulu)

Editor   : Donni

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button