Seruan Taubat Tak Sekedar untuk Rakyat

118
Oleh : Devita Deandra (Aktivis Muslimah)

Oleh : Devita Deandra (Aktivis Muslimah)

Di tengah wabah virus corona yang semakin tidak terkendali, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengingatkan masyarakat untuk tidak lupa mengingat Allah SWT di tengah pandemi Covid-19. Salah satu caranya dengan berdzikir dan taubat.

“Kita juga tidak boleh melupakan zikir, istighfar, taubat kepada Allah Subhana Wa Ta’ala,” kata Jokowi saat membuka Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (26/9). Merdeka.com

Untuk mengatasi pandemi yang semakin mengganas. Memang, semua elemen masyarakat harus bermuhasabah. Ajakan Presiden Jokowi yang menyeru masyarakat untuk melakukan tobatan nasuha patut diapresiasi. Namun sayang, jika melihat kenyataan, sepertinya himbauan tersebut hanya retoris belaka. Karena ucapannya tidak sesuai dengan berbagai kebijakan yang dikeluarkan. Wajar jika masyarakat akhirnya bertanya-tanya, tobat seperti apakah yang dimaksud oleh eks Wali kota Solo tersebut.

Rakyat diseru untuk bersedekah membantu sesama yang saat ini kesusahan akibat terdampak virus corona, namun fakta menyakitkan masih segar dalam ingatan, ketika pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan mensahkan UU Sapu Jagat Cipta Kerja di kesunyian malam, di saat rakyat sedang tertidur menahan lapar. Belum lagi persekusi yang dilakukan terhadap para ulama dan aktivis Islam yang mereka anggap radikal, sedih! Sudah menjadi rahasia umum, pandemi yang masih menjadi momok di tengah masyarakat justru dikomersialisasi. Bukankah kebijakan seperti itu adalah tindakan zalim kepada rakyat? lantas siapa yang seharusnya melakukan taubat nasuha?

Dimana saat rakyat berebut bantuan di tengah pandemi, pejabat malah menggelar konser dan menggelontorkan dana untuk memuluskan Omnibus Law. Di saat tenaga medis menanti haknya berupa insentif yang tidak kunjung dibayarkan, pemerintah justru mau berpesta ria dengan menggelar pilkada. Apa ini yang dinamakan zikir dan tobatan nasuha?

Tepatkah jika rakyat diminta mendoakan rezim saat ini yang telah berlaku zalim? Rakyat disuruh melakukan tobatan nasuha sementara penguasa berbuat seenaknya. Apa ini yang dinamakan ingat kepada Allah SWT? Padahal, Rasulullah Saw bersabda, yang artinya:

“Siapa yang diamanati Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia tidak memimpinnya dengan tuntunan yang baik, ia tidak akan dapat merasakan bau surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka sejatinya, penguasa adalah pihak yang harus banyak bermuhasabah dan melakukan tobatan nasuha. Karena bisa jadi segala bentuk penderitaan yang dirasakan umat saat ini adalah buah kezalimannya. Pemerintah seyogianya berkaca apakah sudah menunaikan amanah yang diberikan sesuai dengan aturan Allah Swt. Kalau belum, berarti pemerintah harus kembali dari kondisi jauh dari aturan Allah Swt ke suasana keimanan dan tunduk pada aturan-Nya. Itulah tobatan nasuha yang sesungguhnya.

Tobatpun harus dilakukan terus-menerus pada setiap keadaan. Tobat direalisasikan dengan perbuatan. Bukan dengan janji-janji manis dan “lips service” semata.

Allah Swt berfirman dalam surah at-Tahrim ayat 8, yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sungguh-sungguh.”

Dalam aturan Islam, bertobat untuk mengatasi wabah adalah bagian dari ketaatan total. Oleh karena itu, bukan tobat secara lisan saja yang harus dijalankan. Namun, melaksanakan seluruh perintah Allah Swt dan menjauhi semua larangan-Nya agar kita mendapat berkah dan karunia Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam Al Quran surat Al A’raf ayat 96, yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Ujian pandemi ini harusnya menyadarkan penguasa dan rakyat bahwa bukan cara dan teknologi siapa yang terbaik, kemampuan siapa paling hebat dalam mengatasi pandemi. Tapi, dengan penuh kesadaran bahwa hanya dengan benar-benar kembali pada aturan Allah Swt kita dapat mengatasi pandemi. Hanya dengan kembali pada aturannya, keselamatan dan keberkahan akan kita dapatkan.

Sesungguhnya gambaran keteladanan untuk mengatasi krisis dan wabah bisa didapatkan dengan mencontoh Rasulullah Saw, sahabat dan khalifah dalam sistem kekhilafan sebelumnya. Masyhur cerita bagaimana Khalifah Umar Bin Khattab yang melakukan “lockdown” atau karantina wilayah munculnya wabah. Kemudian, beliau memaksimalkan kinerja wilayah di luar itu untuk menyuplai kebutuhan warga yang dikarantina.

Begitupun, saat paceklik akibat kekeringan yang terjadi di Madinah. Beliau lantas mengirim surat kepada Abu Musa al-Asy’ari di Bashrah dan Amr bin Ash di Mesir. Akhirnya, kedua gubernur tersebut mengirimkan bantuan yang besar lewat laut melalui Madinah. Bantuan juga datang dari Abu Ubaddah yang mengirim bantuan berupa 4.000 hewan tunggangan yang dipenuhi dengan makanan. Dengan cepat, Umar mendistribusikan semua bantuan yang diterima kepada kaum Muslimin.

Dalam sebuah riwayat pun tertulis bahwa Umar bin Khattab selaku khalifah pernah saat itu naik mimbar dengan perut yang keroncongan. Sambil menahan lapar yang tidak kepalang, Umar bin Khattab berpidato di hadapan rakyanya, “Hai, perut, walau engkau terus meronta-ronta, keroncongan, saya tetap tidak akan menyumpalmu dengan daging dan mentega sampai umat Muhammad merasa kenyang.”

Sungguh luar biasanya pemimpin dalam sistem Islam, sangat jauh dengan sistem kapitalisme saat ini, tidakkah kita rindu hidup dalam kepemimpinan Islam?  Yang sudah pernah dicontohkan di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathtab pada 18 Hijriah. Demikian pula dalam mengatasi wabah,  Sang khalifah memerintahkan agar rakyat yang sehat memisahkan diri dengan pergi ke gunung. Sementara yang sakit diobati. Sehingga wabah cepat hilang dan tidak sampai menyebar ke seluruh wilayah. Pada saat itu, negara melakukan kewajibannya untuk menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan dan menyediakan obat-obatan secara gratis untuk seluruh umat. Tidak hanya itu saja, negara juga memenuhi seluruh kebutuhan dasar rakyatnya, seperti sandang, pangan dan papan. Baik ketika wabah melanda ataupun tidak. Maka sudah jelas bahwa hanya tobat kaffah dengan menerapkan Khilafahlah yang akan menjadi wasilah untuk menjemput pertolongan-Nya. Menghentikan berbagai macam problematika dalam kehidupan, termasuk juga wabah. Maka jelas tobatan nasuha tidak sekedar hanya untuk rakyat, namun seluruh umat dalam suatu negara tersebut termasuk seorang pemimpin.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here