Seragam Tak Sesuai Harga, Siswa Protes

0
296

Sumateranews.co.id, SEKAYU – Merasa telah dirugikan oleh pihak sekolah, ratusan pelajar kelas X SMA Negeri 1 Lawang Wetan Kabupaten Musi Banyuasin, Rabu (30/8) melakukan aksi mogok belajar. Sambil menenteng pakaian seragam olah raga dan baju batik yang didapatkan dari sekolah, ratusan pelajar Long Marc menuju ruang kepala sekolah. Menurut sejumlah pelajar, empat paket baju seragam sekolah yang mereka terima kualitasnya tidak sesuai dengan harga yang mereka bayar. Seperti seragam pakaian olah raga dengan merk adidas yang diterima, kualitas dasarnya mudah lusuh dan kusut padahal keluaran merk terkenal. Merasa telah dirugikan, ratusan pelajar sambil menenteng pakaian seragam sekolah yang mereka terima dikembalikan lagi ke pihak sekolah untuk diganti dengan seragam yang berkualitas sesuai dengan dana yang telah disetorkan mereka.

Mewakili para pelajar, Zulkarnain (45) wali siswa mengungkapkan, dana yang mereka bayarkan ke pihak sekolah untuk membeli pakaian sergam siswa sebesar Rp 800 ribu rupiah persiswa. Sebenarnya persoalan ini sudah dua kali terjadi, tahun sebelumnya hal yang sama kini terulang kembali. Bila melihat kwalitasnya, jelas ini adalah sebuah bisnis yang menguntungkan buat mereka dan yang dirugikan orang tua siswa. Namun saat menerima seragam sekolah, kualitasnya tidak sesuai dengan harapan. Karena itulah, ratusan pelajar mengembalikan lagi seragam sekolah yang diterima untuk diganti yang sesuai. “Bila pihak sekolah tidak bisa menggantinya, sebagaian besar wali siswa akan mendatangi sekolah karena jelas-jelas hal itu telah merugikan,” jelas Zulkarnain.

Sementara itu, Sentosa selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Lawang Wetan saat ditemui mengatakan bahwa, keluhan para pelajar telah mereka tindaklanjuti dengan meminta mereka mengembalikan empat paket seragam sekolah yang mereka terima. Terkait komplain para pelajar sebenarnya hal itu ada keselahan dari konvensi yang salah kirim. Namun saat ditanya kenapa bila salah kirim seragam sekolah oleh pihak konveksi masih dipaksakan untuk dibagikan ke siswa. Kepala Sekolah yang sebentar lagi memasuki masa pensiun tidak bisa menjelaskannya.

Laporan : Hasbullah Anwar
Editor : Imam Ghazali
Posting : Andre