Sepakat, Musik Remix Terlarang di PALI

0
319
ilustrasi net

Sumateranews.co.id, PALI- Menekan tindak kriminalitas dan peredaran Narkoba pada hiburan hajatan atau Orgen Tunggal (OT), baik pada siang hari maupun malam hari, maka Kepolisian Sektor (Polsek) Talang Ubi bersama Forum dan Segenap Orgen Tunggal (FSOT) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI),  menandatangani nota kesepakatan tentang larangan penggunaan musik remix pada saat acara hajatan.

Selain larangan memainkan musik remix baik siang maupun pada malam hari, batas musik malam pun sudah ditentukan, yaitu sampai pukul 11.00 WIB, jika biasanya baru bubar menjelang subuh.

“Keputusannya tidak boleh remix baik siang maupun malam, dan pelaksanaannya hanya sebatas pukul 11.00 WIB. Sedangkan untuk wilayah Kecamatan Talang Ubi sudah disepakati juga akan ada dua izin. Yang pertama dari pihak kepolisian dan kedua dari Ketua Forum. Kalau untuk di wilayah kita (Polsek Talang Ubi), Insya Allah kita pastikan bisa dikendalikan. Sedangkan kalau untuk orgen atau penghibur dari daerah luar, kita tetap berlakukan sesuai aturan yang ada dan dimonitor,” jelas Kapolsek Talang Ubi, Kompol Suhardiman, Rabu (20/12).

Selain itu, Kapolsek juga menekankan agar hal ini dipatuhi oleh masyarakat, terutama yang akan mengadakan hajatan. Hal ini dilakukan untuk kepentingan, keamanan, dan kenyamanan bersama.

“Jika mereka (masyarakat) tidak mau mengikuti, maka izin tidak akan kita keluarkan. Sebab, musik remix ini berkemungkinan besar menjadi jalan masuknya Narkoba, memicu tindak kriminal. Kalau sudah tertib, kita lihat dampak baiknya untuk anak-anak kita,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, para pengusaha OT di Bumi Serepat Serasa yang tergabung dalam FSOT, sangat mendukung keputusan bersama tersebut. Sebab, secara tidak langsung telah mendukung untuk menekan tindak kriminal di Kabupaten PALI.

“Sangat setuju, karena kita dapat membantu pihak kepolisian dalam  mencegah peredaran Narkoba dan tindak pelanggaran hukum. Selain itu, peralatan kita (orgen tunggal) tidak akan mudah rusak, karena tidak dipaksakan bermain hingga larut dan dimainkan dengan suara tinggi. Dan juga terkadang ada saja pengunjung yang jahil hingga mengakibatkan kerugian alat bagi kita,” ungkap Deni Junaidi, Ketua FSOT yang dikenal dengan sebutan Apek Barongan.

Lebih lanjut, dirinya bersama 23 anggota FSOT, mempunyai pegangan untuk menolak pemutaran musik remix ketika diminta pengunjung atau tuan rumah saat pihaknya mengisi hajatan.

“Kalau ada surat keputusan tersebut kan kita bisa berkuat ketika tuan rumah atau pengunjung meminta remix, ataupun meminta waktu lebih malam lagi. Setiap anggota Forum kita memiliki nomor kontak anggota Polsek Talang Ubi, jika ada yang berkeras maka kita akan langsung menghubungi,” pungkasnya.

Laporan             : Rica Mariska

Editor/Posting    : Imam Ghazali