Sabet Emas, Christo dan Adilla Bakal Dapatkan Bonus Rumah

0
543

Sumateranews.co.id, PALEMBANG – Sebelum Asian Games, pasangan ganda campuran Indonesia di cabang olahraga (cabor) tenis lapangan, tidak memasang target muluk-muluk, mengingat akan berhadapan dengan sejumlah pasangan dari negara lain.

Namun, berkat usaha dan kerja kerasnya, kedua atlet tenis yang baru dua bulan dipasangkan itu, mampu memperoleh menjawab keraguan sebagian pihak yang masih pesimis dengan prestasi tenis Indonesia.

Bermain di Tenis Court Jakabaring Sport City (JSC), Sabtu (25/8), Christo dan Adilla mempersembahkan medali emas ke-10 untuk Indonesia. Dengan raihan prestasi tersebut, pasangan atlet itu akan mendapatkan bonus masing-masing satu unit rumah.

Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Lawn Tenis Indonesia (Pelti), Rildo Ananda Anwar mengatakan perihal bonus tersebut saat menggelar konferensi pers. “Tenang saja, keduanya akan diberi hadiah masing-masing satu unit rumah. Namun, lokasinya dimana, itu belum kita ketahui,” ungkapnya.

Dirinya juga mengapresiasi kerja keras dan perjuangan Christo dan Adilla yang tidak ingin menyia-nyiakan momen bersejarah bagi mereka. “Komentar saya untuk pertandingan kali ini adalah luar biasa, dan ini adalah awal yang baik bagi dunia tenis Indonesia,” lanjutnya.

Masih kata Rildo, memang beberapa bulan lalu dirinya sempat mengeluarkan statement, bahwa pasangan ganda campuran Indonesia akan mampu bersaing dan mendapatkan medali.

“Beberapa bulan lalu, dimana saya yakin akan ada medali dari cabang olahraga tenis ganda campuran, dan itu bukan tanpa alasan. Pemain itu pada dasarnya harus kompak. Mengamati perkembangan Christo dan Ardilla setelah dipasangkan beberapa waktu lalu, pasangan ini sudah terlihat bisa menyatu. Kedua, prestasi mereka juga tidak mengecewakan,” tambahnya.

Dirinya juga mengkritik pihak pengurus federasi yang hanya di kantor saja. Baginya, pengurus harus sering-sering berada di lapangan.

“Makanya saya bilang, kalau menjadi pengurus itu harus di lapangan bukan di kantor. Setiap hari saya di lapangan dan mengamati para atlet, setelah itu bisa berkomentar. Kalau saya hanya di kantor, lebih baik tidak usah jadi pengurus. Ketua itu harus duduk dan bersama-sama pemain. Jangan kebersamaan itu muncul setelah atlet menjadi juara saja,” sindirnya.
Dengan begitu, lanjut Rildo, dengan demikian, akan ada rasa kebersamaan antara pengurus federasi dengan para atlet. Menjadi pengurus federasi itu harus tahu apa saja yang diinginkan para atlet. Karena pada hakikatnya, pengurus merupakan pelayan bagi para atlet.

Sementara, Aldilla yang masih sangat muda itu, mengungkapkan bahwa salah satu kunci kemenangan mereka adalah tampil tanpa beban. “Partai final ini, saya tidak memiliki beban dan lebih memilih untuk fokus pada prosesnya saja. apalagi, sejak awal pertandingan di babak sebelumnya, orang tua saya sudah berada di Palembang dan memberikan dukungan penuh,” ucapnya.

Hanya saja, mau tidak mau, Adilla masih harus menyisihkan bonus yang didapatkan, karena belum memiliki sponsor. “Sampai saat ini masih diusahakan. Mungkin karena saya masih baru sehingga belum mendapatkan sponsor. Untuk mengikuti turnamen di luar negeri, setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp 500 juta sampai Rp 1 milyar. Untuk mendapatkan dana tersebut, untungnya saya mendapatkan bantuan dari Provinsi Jawa Timur karena bermain untuk provinsi itu. Selain itu, saya juga menyisihkan bonus-bonus untuk mengikuti turnamen luar negeri,” pungkasnya.

Laporan          : Irfan
Editor/Posting : Imam Ghazali