Qadha dulu ataukah Syawal dulu?

1197
Foto ilustrasi Puasa Syawal

SERING masih kita temui di tengah masyarakat, terkait pelaksanaan ibadah puasa syawal setelah perayaan hari raya ied (pasca puasa Ramadan), apakah dimulai Syawal dulu atau qadha dulu terutama bagi wanita yang punya utang puasa ramadan?

Menyoal mana yang lebih didahulukan dan paling utama, ada banyak pendapat dan alasannya yang mungkin bisa dijadikan acuannya. Diantara lain;

Pendapat pertama, dianjurkan untuk menjalankan puasa Syawal secara berturut-turut, sejak awal bulan. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan Ibnul Mubarak. Pendapat ini didasari sebuah hadis, namun hadisnya lemah.

Pendapat kedua, tidak ada beda dalam keutamaan, antara dilakukan secara berturut-turut dengan dilakukan secara terpisah-pisah. Ini adalah pendapat Imam Waki’ dan Imam Ahmad.

Pendapat ketiga, tidak boleh melaksanakan puasa persis setelah Idul Fitri karena itu adalah hari makan dan minum. Namun, sebaiknya puasanya dilakukan sekitar tengah bulan. Ini adalah pendapat Ma’mar, Abdurrazaq, dan diriwayatkan dari Atha’. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah pendapat yang aneh.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 384–385)

Pendapat yang lebih kuat dalam hal ini adalah pendapat yang menyatakan bolehnya puasa Syawal tanpa berurutan. Keutamaannya sama dengan puasa Syawal secara terpisah. Syekh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang puasa Syawal, apakah harus berurutan?

Beliau menjelaskan, “Puasa 6 hari di bulan Syawal adalah sunah yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh dikerjakan secara berurutan atau terpisah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keterangan secara umum terkait pelaksanaan puasa Syawal, dan beliau tidak menjelaskan apakah berurutan ataukah terpisah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal ….‘ (Hadis riwayat Muslim, dalam Shahih-nya)

Wa billahit taufiiq ….” (Majmu’ Fatwa wa Maqalat Ibni Baz, jilid 15, hlm. 391)

Sementara, dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa yang puasa Ramadhan, kemudian dia ikuti dengan 6 hari puasa Syawal, maka seperti puasa setahun.” (HR. Muslim 1164)

Pada hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan janji pahala seperti puasa setahun dengan 2 syarat:

  1. Menyelesaikan puasa Ramadan.
  2. Puasa 6 hari di bulan syawal.

Sebagian ulama menegaskan, seseorang belum dikatakan telah menyelesaikan puasa Ramadan, jika dia masih memiliki utang puasa Ramadan. Karena berarti dia belum berpuasa penuh satu bulan Ramadan.

Berikut keterangan Imam Ibnu Utsaimin:

صيام ستة أيام من شوال فإنها مرتبطة برمضان ولا تكون إلا بعد قضائه، فلو صامها قبل القضاء لم يحصل على أجرها

Puasa 6 hari di bulan Syawal memiliki kaitan dengan Ramadan, sehingga tidak dilaksanakan kecuali setelah mengqadha utang Ramadan. Jika ada orang yang berpuasa sebelum mengqadha utangnya, dia tidak mendapatkan janji pahala seperti puasa setahun.

Selanjutnya, Imam Ibnu Utsaimin menyebutkan hadis di atas. Kemudian, beliau melanjutkan:

ومعلوم أن من عليه قضاء فإنه لا يقال: إنه صام رمضان حتى يكمل القضاء

Dan kita tahu bersama bahwa orang yang masih memiliki utang puasa, dia tidak dikatakan, ‘telah menyelesaikan puasa Ramadhan’, sehingga dia menyempurnakan qadha Ramadhan. [Liqa’at Bab Al-Maftuh, Volume 5, no. 5].

Karena itu, bagi anda yang ingin mendapatkan keutamaan berupa pahala puasa selama setahun, yang harus anda lakukan adalah mengqadha Ramadan terlebih dahulu, kemudian puasa 6 hari di bulan Syawal.

Namun, ada juga pendapat lain lagi yang menyebutkan bisa menggabungkan niat kedua-duanya (Qhada dan Syawal). Dan, bahkan bisa menambahkannya dengan puasa sunat lainnya untuk dikerjakan secara bersamaan, seperti puasa sunat Senin-Kamis atau puasa pertengahan bulan. Wallahu a’lam…

Penulis  : Donni

Sumber : dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here