Prostitusi Online Resahkan Warga Aceh Singkil, Kabid WH: Stake Holder dan Komponen Bersatu Tangani Kasus Ini

73
Praktik Prostitusi Online Resahkan Warga Aceh Singkil, Kabid WH: Stake Holder dan Komponen Bersatu Dalam Kasus Ini

ACEH SINGKIL Beberapa hari belakangan Aceh Singkil dihebohkan dengan terkuaknya prostitusi online yang beredar di Kecamatan Gunung Meriah, membuat beberapa anggota DPRK Aceh Singkil khususnya Dapil 4 (Empat) angkat bicara terbongkarnya prostitusi online ini yang menjadi Penyakit Masyarakat (Pekat).

Kepala Satpol PP Aceh Singkil, Ahmad Yani, melalui Kepala Bidang (Kabid) Wilayatul Hisbah (WH), Rully Suhaidi, SKM mengatakan, yang pasti baru mendapat informasi tiga hari ke belakang tentang praktik prostitusi online tersebut, Pulo Sarok, Kamis (7/01/2021).

Praktik prostitusi online ini suatu hal sifatnya yang baru dan sangat terselubung, tidak bisa dibebankan khusus kepada Satpol PP WH Kabupaten Aceh Singkil untuk menangani masalah penyakit seperti (Prostitusi Online) ini, paling tidak seluruh stake holder atau pun komponen-komponen berkepentingan untuk menyatu dalam kasus ini.

“Karena kasus ini sifatnya terselubung jadi dengan banyaknya yang memperhatikan, khusus masalah prostitusi online jadi kita bisa monitor keberadaan dan pelaksanaannya itu sendiri, kalau dibebankan secara totalitas kepada Satpol PP WH, saya pesimis,” kata Rully kepada wartawan sumateranews.co.id di ruang kerjanya.

Lanjut Rully, melalui jaringan Pos Gunung Meriah akan diberikan instruksi memantau secara intens terkait pelaksanaan praktik prostitusi online, paling tidak mucikari-mucikari bisa dipantau dan melacak atas kejadian ini.

“Alhamdulillah sesudah kita mendapatkan informasi salah satu anggota dewan, sampai saat ini cuman masih membuka komunikasi ke Korlap wilayah kerja Gunung Meriah untuk menanyakan tentang keberadaan prostitusi online apakah sudah marak,” ujarnya.

Rully selaku Kabid WH, setelah mendapatkan informasi yang disampaikan oleh korlap di Gunung Meriah melalui Ahmad Saruri memang betul, akan tetapi masih dalam pelacakan karena ini sifatnya pun terselubung.

Sementara Kepala Dinas Syari’at Islam Aceh Singkil, H Aslinuddin mengatakan, kalau atas namanya berhubungan intim (esek-esek) yang bukan muhrimnya itu bisa dikatakan melanggar syariat walau pun melalui seperti prostitusi.

“Bukan saja ranah Dinas Syariat tetapi juga banyak stake holder seperti Satpol PP bagian WH bahkan desa juga ikut bertanggung jawab atas terjadinya praktik prostitusi online,” ujar Aslinuddin di ruang kerjanya.

Laporan : Ramail III Editor : Syarif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here