Produksi Menurun Setiap Jelang Pilkada dan Pilpres, Ini Strategi yang Dibuat Pengusaha Tahu Tempe Biar Bertahan

0
182
USAHA TAHU : Kenaikan kurs dollar terhadap rupiah beberapa waktu lalu, masih memberikan dampak bagi pelaku usaha tahu dan tempe. Selain menyebabkan produksi menurun, mereka juga terpaksa mengurangi ukuran bentuk produk tahu tempe untuk dijual di pasaran. Tampak, Nunung salah satu pelaku usaha tahu tempe dikawasan Karang Raja 3, Kecamatan Prabumulih Timur, saat dikunjungi media online Sumateranews.co.id, ditempat usahanya, belum lama ini. Foto : Donny

Sumateranews.co.id, PRABUMULIH – Pengaruh proses tahapan pemilihan Kepala daerah, Legislative dan Pemilihan Presiden (Pilpres) setiap 5 tahunan terhadap dunia usaha terutama usaha kecil dan menengah (UMKM) ternyata cukup kuat dan memberikan dampak signifikan bagi kalangan pengusaha kecil, khususnya pengusaha tahu tempe yang ada di wilayah Kota Prabumulih.

Pelaku usaha yang mengunakan kacang kedelai sebagai bahan utamanya ini mengaku selalu mengalami penurunan produksi setiap menjelang Pilkada hingga Pilpres. Selain disebabkan menurunnya daya beli dan permintaan di masyarakat, juga pengaruh naik turunnya harga dollar terhadap kurs rupiah setiap menjelang Pilpres menjadi salah satu factor penyebab utama turunnya produksi usaha mereka.

“Karena harga kebutuhan bahan kacang kedelai otomatis naik jika harga dollar terus naik. Seperti minggu kemarin harga dollar kembali naik sempat mencapai level Rp 15 ribu lebih, harga kacang pun naek sampai Rp 10 ribu per kilonya. Baru sekarang sudah turun menjadi Rp 8.200 per kilo gramnya, dan ini masih tinggi,” ungkap Nukuswiyono atau lebih dikenal dengan panggilan Nunung ini, saat dikunjungi sumateranews.co.id, di tempat usahanya, di Jalan Bima RT 01 RW 05, Kelurahan Karang Raja 3, Kecamatan Prabumulih Timur, baru-baru ini.

Akibatnya, pengusaha home industri, yang sudah sekitar 30 tahunan mencari rezki dari usaha tahu tempe ini sudah menganggapnya sebagai peristiwa musiman. Dirinya bersama pelaku usaha tahu tempe lainnya pun mengaku sudah biasa dan telah menyiapkan strategi pemasaran agar usahanya tidak kolap dan gulung tikar.

“Bukan sekali dua kali ini pak, sudah sering tiap menjelang Pilkada atau Pilpres kondisinya seperti ini, jadi sudah seperti musimanlah pak. Paling kita berharap dan meminta Pemerintah cepat tanggap dan menekan harga jual kedelai kembali normal,” ujar Nunung, sambil kembali melanjutkan proses produksi pembuatan tempe yang hanya ditemani oleh salah satu anaknya.

Dia jelaskan kembali, pasca meroketnya harga dollar terhadap rupiah membuat produksi usaha tahu tempenya turun cukup drastis. Dari produksi 150 kilogram kacang kedelai per hari atau seukuran 3 karung, turun menjadi 100 kilogram. Tak hanya itu, dirinya pun terpaksa mengurangi ukuran bentuk (kemasan) produk tahu tempe supaya masyarakat atau pelanggannya masih tetap terjangkau membeli dan menkomsumsi dua makanan bergizi tinggi tersebut.

“Turun pak sekitar 30 – 40 persenlah, jika biasanya produksi seharinya 150 kilogram sekarang turun hanya 100 kilogram per hari pak. Kita juga tidak menaikkan harga jual, namun hanya mengurangi ukuran bentuknya saja,” jelas Nunung.

Menurut dia, hal itu dilakukan supaya pedagang eceran pelanggannya tetap bisa berjualan dan tidak sepi pembeli. Dia contohkan, harga tahu ukuran kecil kemasan masih dijual dengan harga Rp 10.000 40 pcs, dan Rp 13.000 / 40 pcs untuk ukuran besar. Sedangkan untuk harga tempe ia jual dengan harga Rp 5.000 / 4 batang ukuran sedang, dan Rp 10.000 / 7 batang ukuran besar, serta Rp 1.500 untuk harga per batangnya.

“Ya kami berharap harga bahan kedelai segera normal seperti sebelumnya, berkisar Rp 7.600 / kg atau dibawah Rp 8.000 an lah. Kalu diatas itu, masih tinggi pak, apalagi tingkat pertumbuhan dan persaingan usaha ini sudah cukup tinggi. Dulu hanya ada 90 pengusaha tahu tempe, sekarang sudah banyak sekitar 150 an di Prabumulih ini,” pinta Nunung, seraya menambahkan dulu pernah ada koperasi tahu tempe yang keberadaannya sangat membantu namun sekarang sudah tidak ada lagi, sehingga akhirnya mereka membeli sendiri bahan kacang kedelai.

“Dulu sewaktu masih ada koperasi tahu tempe disini kita sangat terbantu sekali pak, disamping bisa ngambil dulu bahannya juga harganya tidak pernah tinggi seperti sekarang ini. Kalu sekarang kita terpaksa beli sendiri, di Pasar Prabumulih pak,” pungkasnya.

Laporan : AD

Editor     : Donny