Polisi Belum Tindak Lanjuti Laporan Kasus Pengeroyokan Tahun 2016

0
298
Korban saat menunjukkan dokumentasi laporan polisi yang dibuat drinya 13 Februari 2016 silam

Sumateranews.co.id, PALI – Antoni Razendra alias Toni (44) warga kelurahan Pasar Bhayangkara Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI mempertanyakan kasus pengroyokan yang menimpa dirinya kepada jajaran kepolisian. Pasalnya, kasus yang terjadi pada 12 Februari 2016 silam hingga saat ini belum ada kejelasan.
Padahal, dirinya sudah bolak balik Muara Enim-Pendopo PALI untuk menyelesaikan kasus tersebut. Tapi kenyataannya, hingga detik ini jajaran kepolisian belum menangkap pelaku pengroyokan terhadap dirinya.
“Memang, salah satu pelaku pengroyokan aku adalah petinggi dari PT MHP yang berinisial AU. Namun, bukan berarti lantas proses hukum menjadi lamban atau tumpul. Jika benar adanya seperti itu, berarti benar pepatah yang mengatakan bahwa hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas,” ungkapnya saat ditemui, Kamis (15/2/2018).
Kasus bermula dari sengketa tanah miliknya yang diklaim punya perusahaan PT Musi Hutan Persada (MHP) di wilayah Tebing Priau Kelurahan Handayani Mulya Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI. Saat itu, dirinya tengah berada di lokasi tanah tersebut dan sedang duduk di sebuah pondok yang dibangunnya.
“Datanglah keempat pelaku itu menemui saya. Awalnya mereka bertanya, siapa yang mendirikan pondokan itu, lantas saya jawab saya. Karena ini tanah saya yang dibeli dari Zainudin seharga Rp 60 juta dengan luas 4,5 ha. Akan tetapi, mereka (keempat pelaku, red) langsung mengatakan jadi kau yang namanya Antoni yang sok melawan itu. Setelah itu, langsung saja saya dikeroyok, ada yang memegang tangan saya, ada yang memukul saya dengan pistol. Beruntung, pada saat kejadian ada yang memisahkan. Sehingga luka yang saya alami tidak sampai parah,” ceritanya.
Atas kejadian tersebut, dirinya mengalami luka dibagian bibir karena dipukul dengan menggunakan pistol dan luka lebam di bagian leher.
“Keesokan harinya (13/2/2016), saya dipanggil ke Polres Muara Enim, dengan laporan saya dituduh menyerobot lahan perusahaan. Padahal, jelas-jelas saya sudah membeli tanah tersebut dengan Zainudin warga Beracung kelurahan Talang Ubi Selatan. Dengan harga Rp 60 juta. Tetapi saya dituduh malah menyerobot lahan. Kan aneh, sepulang dari situ saya langsung melakukan visum di RSUD Kabupaten PALI dan melaporkan kejadian penganiayaan terhadap saya ke Polsek Talang Ubi, dengan nomor LP : LP/B-1/40/II/2016/Res M.Enim/Polsek TL.Ubi pada tanggal 13 Februari 2016,” terangnya seraya menunjukkan surat laporan ke Polsek Talang Ubi dan Akte Notaris Tanah tersebut lengkap dengan kwitansi dan surat jual beli antara dirinya dan Zainudin.
Dirinya berharap, agar pihak kepolisian bisa cepat menyelesaikan kasus ini dan menangkap para pelaku pengroyokan.
“Saya masih yakin, keadilan masih ada di negeri ini, saya juga percaya, bapak polisi masih adil dalam menerapkan aturan dan hukum yang berlaku di negeri ini. Untuk saya berharap, agar pelaku pengroyokan segera ditangkap,” tutupnya.
Sementara itu, salah satu anggota kepolisian Polres Muara Enim yang tidak ingin disebutkan namanya itu menjelaskan bahwa kasus yang menimpa Antoni sudah diproses. Bahkan, berkas sudah dilimpahkan ke kejaksaan negeri belum lama ini.
“Berkas sudah dilimpahkan ke kejaksaan Negeri, pelaku juga sudah dipanggil, jadi tunggu saja,” singkatnya ketika dihubungi via telpon.

 

Laporan : Dwi
Editor      : Syarif

sumatranews.co.id1 id : 10717 Under Article