Polemik RUU HIP

119

Oleh : Usniati (Ibu Ideologis Banyuasin)

Berbagai permasalahan di negeri ini tampaknya belum menunjukkan hasil yang signifikan dalam penyelesaiannya. Sebut saja masalah covid-19, yang masih banyak meninggalkan permasalahan, mulai dari masih meningkat nya jumlah kasus baru yang terjangkit virus covid-19, jumlah orang miskin yang bertambah setelah banyak nya pekerja yang dirumahkan dan permasalahan lainnya.

Kini masyarakat dihadapkan pada permasalahan baru, yakni disetujui nya Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP), menjadi UU di rapat paripurna DPR RI pada 12 Mei 2020. Meskipun pemerintah memutuskan untuk menundah pembahasan RUU HIP akan tetapi Rancangan Undang-Undang tersebut, tetap mendapatkan kritik dari berbagai elemen masyarakat.

Adalah Siti Zuhro, seorang pengamat politik. Dia mengatakan penolakan terhadap RUU HIP, bukan hanya dari kalangan Akademisi dan Mahasiswa saja, tapi juga dari Purnawirawan TNI dan Aktivis. Bahkan partai Demokrat pun mencabut diri untuk tidak ikut dalam pembahasan RUU HIP.

Penolakan juga datang dari MUI, Muhammadiyah dan NU. RUU HIP ini dianggap menciderai Pancasila itu sendiri, dan menimbulkan persoalan-persoalan politik, karena RUU HIP berpotensi memunculkan kembali paham komunisme, karena tidak dicantumkannya TAP MPRS, Nomor XXV/MPRS/1966 “Tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia, pernyataan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Indonesia, dan larangan setiap kegiatan, atau mengembangkan paham/ajaran komunis/Marxisme, Leninisme dalam RUU HIP tersebut.

Mengenai hal ini, MUI menyatakan sikap dalam “maklumat” bahwa tidak dicantumkan nya TAP MPRS Nomor xxv/MPRS/1966 tersebut, merupakan sebuah bentuk pengabaian terhadap fakta sejarah yang sadis dan biadab yang dilakukan PKI terhadap bangsa ini.

Trauma bangsa ini tidak akan bisa hilang terhadap tragedi berdarah pembunuhan Jendral, yang dilakukan PKI pada 30 September 1965 silam, juga pembantaian terhadap 500 ribu lebih para ulama dan santri di Madiun tahun 1948.

Bahkan Dewan Pertimbangan MUI (Wantim MUI), meminta pembahasan RUU HIP dihentikan selama nya.
Anggota wantim MUI, Marfua Mustofa mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi pemerintah yang telah meminta DPR menunda pembahasan RUU HIP. Rabu (17/6).CNNNasional.

Berbicara tentang ideologi atau mabda, maka secara umum akan kita temukan hanya ada tiga ideologi didunia ini, yaitu ideologi kapitalis sekuler yang dianut atau diemban oleh negara Amerika Serikat,
Kedua adalah ideologi nasionalis komunis, yang secara institusional sudah runtuh, dan yang ketiga adalah ideologi Islam.

Ideologi kapitalis sekuler adalah sistem atau aturan yang bersumber dari pemikiran manusia, tegak di atas dasar manfaat semata, memisahkan agama dari kehidupan dan memisahkan negara dari agama, begitulah cara ideologi kapitalis mengatur kehidupan ini.

Ideologi Nasionalisme/Komunisme adalah sistem atau aturan yang berasal dari pemikiran manusia, yang meyakini bahwa materi adalah segalanya, menafikan eksistensi Tuhan (Tidak mengakui adanya Sang Pencipta. Tidak mungkin bisa diterapkan dalam sistem kehidupan, karena tidak manusiawi.

Ideologi Islam adalah aturan atau sistem yang berasal dari Allah SWT, yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, sebagai sumber hukum untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.

Indonesia sendiri pada faktanya, menjadikan atau mengambil demokrasi kapitalis sekulerisme, sebagai aturan kehidupan berbangsa dan bernegara, ini terbukti diberbagai kebijakan yang diambil pemerintah, seperti kebijakan perekonomian, terlihat jelas berpihak kepada para kapitalis atau pemilik modal. Dimana sumber daya alam yang dimiliki negeri ini, sudah dikuasai asing, tidak diupayakan untuk mensejahterakan rakyat nya.

Tidak bersikap adil terhadap rakyat, umat Islam misalnya, yang menginginkan kehidupan ini diatur dengan aturan agama nya secara keseluruhan. Dikriminalisasi, dikatakan sebagai kaum yang liberal, bertentangan dengan Pancasila.

Sekarang menjadi pertanyaan besar bagi rakyat ini, siapa yang menentang atau mau mengubah Pancasila? Bahkan orang-orang yang menjadi penjaga ideologi Pancasila, BPIP sendiri terindikasi mau memeras Pancasila itu sendiri menjadi Tri sila, bahkan Ekasila, seperti yang terdapat pada RUU HIP, yang membuat polemik baru bagi negeri ini.

Akar permasalahan yang terjadi di negeri ini sebenarnya adalah, akibat diterapkan nya sistem kapitalis sekuler, sehingga negeri ini dalam cengkeraman hegemoni barat, yang ingin menguasai kekayaan negeri-negeri kaum muslim, bahkan bukan hanya kekayaan nya saja yang mereka kuasai, dengan cara menurut kan hawa nafsu mereka. Menumpuk kekayaan hanya untuk kepentingan pribadi atau sekelompok orang saja. Mengambil dan menguras sumber daya alam tanpa batas, sehingga kerusakan alam terjadi dimana-mana, dan menimbulkan bencana alam dimana-mana.

Firman Allah SWT “Telah tampak kerusakan didaratan di lautan, akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia. Supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu, agar mereka kembali kejalan-Nya” (TQS : Ar-Ruum: 41).

Ideologi Islam, dengan sistem nya khilafah telah terbukti dengan sangat gemilang, selama lebih dari 13 abad lamanya, dalam mengatur tatanan kehidupan dimuka bumi ini. Dimana manusia sebelum datangnya ideologi Islam, hidup dalam tatanan yang rusak.

Bahkan dikatakan berada pada masa jahiliah (kebodohan). Islam telah merubah tatanan kehidupan yang jahiliah itu kepada masa keemasan, dimulai sejak hijrahnya Rasulullah Saw bersama para sahabat, atas perintah Allah SWT, dari Mekkah ke Madinah dalam rangka mendirikan daulah Islam, yaitu khilafah sebagai sebuah institusi untuk menerapkan hukum-hukum Allah SWT secara keseluruhan.

Setelah Rasulullah SAW wafat kepemimpinan Islam digantikan oleh para Khalifah, yaitu masa Khulafaur Rasyidin, diteruskan khalifahan Bani Umayyah,Bani Abbasiyah dan Turki Utsmani.

Keberhasilan para Khalifah ini dalam memimpin dunia, digambarkan oleh seorang sejarawan barat, Will Durant dalam bukunya, The Story Of Civilization, dia mengatakan “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia, hingga batas yang luar biasa besarnya, bagi kehidupan dan usaha keras mereka.
Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukan nya, dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad, dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka.
Kegigihan dan kerja keras mereka, menjadikan pendidikan menyebar luas, sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni, mengalami kejayaan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradaban nya, selama lima abad”.

Ideologi merupakan hal yang sangat krusial bagi kaum muslim, karena ideologi menyangkut keimanan.
Wajib mengimani Allah SWT, sebagai Sang Pencipta dan (Al-Khaliq), dan sebagai pembuat aturan (Al-Mudabbir). Maka wajib bagi seluruh kaum muslim untuk terikat dengan perintah dan larangan-NYA dalam menjalani kehidupan ini, dan menjadikan ideologi Islam sebagai solusi dari setiap permasalahan hidup, baik secara individu, bermasyarakat bahkan bernegara.

Firman Allah SWT, yang artinya “Tidaklah patut bagi laki-laki kaum mukmin maupun bagi perempuan mukmin, jika Allah dan Rasul-nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Siapa saja mendurhakai Allah dan Rasul-nya,maka sungguh dia telah benar-benar sesat. (TQS : Al-Ahzab :36).

Wajib bagi kaum muslim menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan, termasuk menjadi pemimpin yang mengatur urusan rakyat nya dengan hukum Allah SWT, dalam setiap permasalahan. Sebagai mana Firman-Nya “Siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang kafir” (TQS: Al-Maidah : 44).

Islam adalah agama sekaligus ideologi menghargai dan menghormati setiap hak manusia, tidak ada kriminalisasi terhadap siapapun, baik agama atau keyakinan, ras atau suku, tidak akan ada rasisme seperti yang terjadi di sistem kapitalis sekarang.

Islam sangat menjaga nyawa manusia sekalipun dia orang kafir.
Rasulullah SAW telah bersabda “Siapa saja yang membunuh seorang kafir dzimmi dia tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. (HR.An-Nasa’i).

Dengan demikian pemimpin kaum muslim berusaha mewujudkan keadilan, keamanan dan kesejahteraan bagi rakyat nya. Hal ini dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab, ketika menaklukkan Baitul maqdis, Palestina. Dimana saat itu perempuan Nasrani merasa ketakutan disudut-sudut kota. Khalifah Umar bin Khattab menjamin keselamatan mereka, gereja-gereja tempat ibadah mereka dibiarkan berdiri, sebagai bentuk penjagaan terhadap agama mereka.

Mengapa para Khalifah berlaku demikian? tidak lain karena pamimpin terikat langsung dengan hukum-hukum Allah SWT, kelak dimintai pertanggung jawaban.

Sabda Rasulullah SAW. “Tidaklah seorang penguasa/pemimpin diserahi urusan kaum.Kemudian ia mati,sedangkan ia menelantarkan urusan mereka, kecuali Allah mengharamkan surga untuk nya”. (HR.Bukhari-Muslim).

Wallahu’alam.

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here