Pengenalan Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit pada Ikan Budidaya

15278

Oleh : Barnas Susanto, S.St.Pi Penyuluh Perikanan Tahun 2018, KKP Republik Indonesia

Sumateranews.co.id –  Hama dan penyakit ikan merupakan salah satu masalah yang sangat serius dalam usaha budidaya ikan. Dengan semakin berkembangnya teknologi budidaya maka luas areal semakin sempit, padat penebaran semakin tinggi, serta pemberian pakan buatan semakin ditingkatkan. Sementara air yang digunakan, secara bertahap, mengalami pengotoran oleh bahan organik maupun cemaran limbah inustri. Keadaan seperti ini membuka peluang bagi tumbuh dan berkembangnya wabah dan parasit ikan. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila kini masalah hama dan penyakit ikan seolah – olah menjadi momok yang sangat menakutkan karena bisa menimbulkan kerugian yang sangat besar.
Berikut penyakit yang sering menyerang dan bagaimana cara penanggulangan dan pencegahan penyakit pada ikan mas.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIMBULNYA PENYAKIT

Terdapat banyak faktor yang menentukan seekor ikan menjadi sakit. Faktor utamanya adalah Host (organisme peliharaan/inang), Pathogen (microba, parasit) dan Environment (lingkungan menyangkut fisik, kimia atau tingkah laku seperti stress). Sehingga dapat dikatakan bahwa penyakit merupakan ekspresi dari kompleks interaksi antara host-pathogen-environment. Hal di atas digambarkan oleh Snieszko dalam Zonneveld (1994) melalui 3 lingkaran yang saling overlapping untuk memperlihatkan interaksi antara host, potential pathogen dan environment(lingkungan).
Snieszko Ring


PENYAKIT NON PARASITER
Penyakit non parasiter yaitu penyakit yang disebabkan bukan oleh hama maupun organisme parasit. Penyakit ini dapat dikelompokkan berdasarkan faktor penyebabnya yaitu lingkungan (dalam hal ini air sebagai media hidup) dan pakan.
a. Lingkungan/Kualitas Air
Perlu diingat bahwa kualitas air memegang peranan penting dalam kegiatan budidaya khususnya dan perikanan pada umumnya. Pada peranan alami kualitas air mempengaruhi seluruh komunitas perairan (bakteri, tanaman, ikan, zooplankton dsb) (Zonneveld,dkk.,1994).
Beberapa kondisi lingkungan yang menyebabkan kematian ikan adalah :
– Perubahan suhu air secara mendadak
– pH air yang terlalu rendah atau sangat tinggi
– Kurangnya oksigen terlarut dalam air.
– Meningkatnya senyawa-senyawa beracun seperti H2S (gas metan), karbondioksida, ammoniak, adanya polusi pestisida, limbah industri dan rumah tangga.
– Kekeruhan air meningkat/ kecerahan air menurun (Djarijah, 1995).
Deplesi/kekurangan oksigen merupakan salah satu faktor lingkungan yang sering menyebabkan kematian ikan terutama di kolam yang banyak mengandung bahan organik. Secara tidak langsung kekurangan oksigen menyebabkan ikan stress sehingga daya tahan tubuh menurun yang berakibat ikan tersebut mudah diserang organisme pathogen. Faktor utama yang mempengaruhi konsentrasi oksigen dalam kolam adalah fotosintesis, respirasi dan difusi oksigen dari udara ke dalam air. Suhu juga memegang peranan penting dalam ketersediaan oksigen dalam air. Dimana peningkatan suhu air akan menurunkan kemampuan air untuk mengikat oksigen (Afrianto dan Liviawaty, 1992).

Variasi suhu air lebih kecil dan lebih lambat terjadinya bila dibandingkan dengan variasi suhu udara. Hal ini menyebabkan organisme akuatik seringkali kurang dapat mentoleransi perubahan-perubahan suhu (Stenothermal). Akibatnya pencemaran termal yang ringanpun akan dapat berakibat luas. Pertumbuhan embrio ikan mas pada suhu 30 0C mengalami penurunan setengah kali dibanding pada suhu 20 0C (Tamanampo, 1994). Selanjutnya dikemukakan bahwa nafsu makan ikan mas nyata menurun apabila suhu air meningkat. Dari pengamatan di lapangan ditemukan bahwa ikan mas yang dipijahkan di kolam secara alami, baru memijah setelah suhu airnya berkisar 20 – 22 0C (Wardoyo dalamTamanampo, 1994). EIFAC dalam Tamanampo (1994) mengemukakan bahwa ikan mas yang dipelihara pada suhu 24 – 26 0C akan segera mati bila dipindahkan ke dalam perairan bersuhu 38,2 0C secara tiba-tiba tanpa aklimatisasi. Dan kalaupun dapat hidup setelah diaklimatisasi, ikan tersebut akan mengalami hambatan dalam pertumbuhannya dan daya makannya. Selanjutnya Klein dalam Tamanampo (1994) menyatakan bahwa daya racun Potasium Sianida terhadap ikan air tawar adalah dua kali lipat apabila suhu airnya meningkat 10 0C.

b. Pakan
Selainitu, baikburuknyakondisitubuhikanjugasangatdipengaruhiolehfaktorpakan yang diberikan.Pakanharusmemenuhikebutuhanikandenganmemperhatikankualitasdankuantitasmakanantersebut.

PENYAKIT PARASITER
Penyakit-penyakitparasiter yang menyerangikanmasumumnyadisebabkanoleh virus, bakteri, jamur, protozoa dancacing.
a. Virus PenyebabPenyakit
Ephitheliomapapulasummerupakan virus yang seringmenyerangikan mas (C. carpio), ikanmaskoki (Carassiusauratus) danbeberapajenisikanhias air tawar. Serangan virus inimengakibatkanpenyakitcacar, dimanapadatubuhikantimbulbercak-bercakputihsepertisusu yang perlahan-lahanmembentuklapisanlebarmiripkacaataulemakdenganketebalanantara 1 – 2 mm (AfriantodanLiviawaty, 1992).
Aktivitasserangan virus bersifatakut (mematikan), menghasilkankerusakanjaringancukupluasdanmenyebabkankematiandalamwaktusingkat.Infeksi virus seringdilanjutkandenganinfeksisekunderolehbakteriataupundidahuluiolehinfeksisekunderolehorganismeparasitmisalnyaArgulus (kutuikan), Lerneadan lain-lain.
b. BakteriPenyebabPenyakit
Berdasarkanreaksiselbakteriterhadappewarnaanwarna gram, makabakteridapatdikelompokkanmenjadi 2 yaitubakteri gram positif (terlihatberwarnabiru) danbakteri gram negatif (berwarna pink ataumerah).Kebanyakanbakteri pathogen ikantermasukgolongan gram negatif, sepertiAeromonas sp., Pseudomonas sp., Flexibacter sp. dan Vibrio sp. Dimanbakteri-bakteriinihampirselaluditemukandanhidup di air kolam, di permukaantubuhikandanpada organ-organ tubuhbagiandalamikan. UmumnyaikanmasseringterserangbakteriAeromonashydrophilla, A.salmonicida, dan Pseudomonas flourescens.

c. JamurPenyebabPenyakit
Jamuradalahmikroorganisme yang seringterlihatsepertibenang yang tumbuh di bagiandalamatauluartubuhikan. Ada beberapaorganismejamur yang seringmenimbulkanpenyakitpadaikan mas, yaituSaprolegnea sp. yang menyebabkanpenyakitSaprolegniasis, Achlya sp., Branchiomyces sp. Tetapi yang paling akutdanditakutiadalahSaprolegnea sp. danBranchiomycessp, sebabSaprolegnea sp. selainmenyerangorganismedewasajugamenyerangtelur-telurikan. SedangkanBranchiomyces sp. dapatmenyebabkankematianmasalpadaikanbudidaya.
JamurSaprolegnea sp. menyerangikandisebabkanadanyainfeksisekunderolehorganismelainmisalnyabakteriataucopepoda. Selainadanyalukajugajugadikarenakansuhu air menurunsehinggaikan stress.Padaikan yang terinfeksiakanterlihatadanyasekumpulanhypa (benang-benanghalusmenyerupaikapas). Biasanya hypa ditemukan di bagian kepala, tutup insang dan sekitar sirip. Ikan-ikan ini biasanya menjadi kurus karena daya makan menurun dan sering menggosok-gosokan tubuhnya pada benda-benda lain.

d. Protozoa Penyebab Penyakit
Protozoa yang sering menyerang ikan mas adalah Icthyopthirius multifilis, Myxobulus sp., Tricodina sp. (Afrianto dan Liviawaty, 1992; Djarijah, 1995). Akibat serangan I. multifilis pada tubuh ikan banyak dijumpai bintik-bintik putih sehingga penyakit ini disebut White spot. Serangan protozoa ini umumnya terjadi pada musim hujan dengan suhu berkisar 20 – 24 0C. Ikan yang terserang akan kehilangan fungsi insang sehingga mengganggu respirasi. Selain itu ikan menjadi malas berenang dan cenderung mengapung di permukaan air.

e. Cacing Penyebab Penyakit
Ada dua jenis cacing Kelas Trematoda yang kerap kali menyerang ikan mas serta ikan-ikan air tawar pada umumnya, yaitu Gyrodactylus sp. dan Dactylogyrus sp. Gyrodactylus sp. biasanya menyerang ikan pada bagian kulit dan sirip sedang Dactylogyrus sp. lebih suka menyerang insang. Cacing-cacing parasit ini akan menyerang ikan pada tingkat pemeliharaan yang cukup padat.

f. Saprolegnia
Saprolegnia atau dikenal juga sebagai “water molds” dapat menyerang ikan dan juga telur ikan. Mereka umum dijumpai pada air tawar maupun air payau. Jamur ini dapat tumbuh pada selang suhu 0 – 35 °C, dengan selang pertumbuhan optimal 15 – 30 °C. Pada umumnya, Saprolegnia akan menyerang bagian tubuh ikan yang terluka, dan selanjutnya dapat pula menyebar pada jaringan sehat lainnya. Serangan Saprolegnia biasanya berkaitan dengan kondisi kualitas air yang buruk, seperti sirkulasi air rendah, kadar oksigen terlarut rendah, atau kadar amonia tinggi, dan kadar bahan organik tinggi. Kehadiran Saproglegnia sering pulang disertai dengan kahadiran infeksi bakteri Columnaris, atau parasit eksernal lainnya.

 

Tanda-tanda penyakit
Kehadiran Saprolegnia biasanya ditandai dengan munculnya “benda” seperti kapas, berwarna putih, terkadang dengan kombinasi kelabu dan coklat, pada kulit, sirip, insang, mata atau telur ikan. Apabila anda sempat melihatnya di bawah mikroskop maka akan tampak jamur ini seperti sebuah pohon yang bercabang-cabang.

Pencegahan dan Perawatan
Serangan Saprolegnia dapat dihindari dengan melakukan perawatan yang baik terhadap kondisi akuarium, terutama dengan menjaga kualitas air selalu dalam kondisi optimal, hindari pemeliharaan ikan dengan kepadatan tinggi untuk mencegah terjadinya luka, dan selalu menjaga ikan agar mendapat gizi yang memadai. Apabila gejala serangan Saprolegnia ditemukan, segera lakukan evaluasi kualitas air akuarium anda dan lakukan koreksi yang diperlukan. Apabila kondisi serangan pada ikan parah, lakukan pengobatan. Selain dengan fungisida khusus ikan, perlakuan dengan PK, formalin dan povidone iodine dapat pula mengobati serangan Saprolegnia.

Branchiomycosis
Branchiomyces demigrans atau “Gill Rot (busuk insang)” disebabkan oleh jamur Branchiomyces sanguinis and Branchiomyces demigrans . Spesies jamur ini biasanya dijumpai pada ikan yang mengalami stres lingkungan, seperti pH rendah (5.8 -6.5), kandungan oksigen rendah atau pertumbuhan algae yang berlebih dalam akuarium, Branchiomyces sp.tumbuh pada temperatur 14 – 35°C , pertumbuhan optimal biasanya terjadi pada selang suhu 25 – 31°C. Penyebab utama infeksi biasanya adalah spora jamur yang terbawa air dan kotoran pada dasar akuarium.

Tanda-tanda Penyakit
Branchiomyces sanguinis dan B. demigrans pada umumnya menyerang insang ikan. Ikan yang terjangkit akan menunjukkan gejala bernafas dengan tersengal-sengal dipermukaan air dan malas. Insang tampak mengeras dan berwarna pucat, khususnya pada daerah yang terjangkit. Pengamatan dibawah mikroskop akan sangat membantu mengenali serangan jamur ini. Apabila bagian jaringan yang terserang mati dan lepas, maka spora jamur akan ikut terbebas dan masuk kedalam air sehingga akan memungkinkan untuk menyerang ikan lainnya.

Pencegahan dan Perawatan
Usaha pencegahan merupakan cara yang sangat disarankan untuk mengontrol serangan jamur ini. Pengelolaan lingkungan akuarium yang baik akan menciptakan kondisi yang tidak disukai oleh jamur tersebut untuk tumbuh. Apabila penyakit telah terlanjur berjangkit, segera lakukan isolasi. Formalindan Copper Sulfat diketahui dapat mencegah kematian akibat infekasi Branchiomycosis. Akuarium yang terjangkit hendaknya segera dikuras, dan dikeringkan serta lakukakan tindakan sterilisasi. Apabila hal ini menyerang ikan dalam kolam, keringkan kolam dan berikan perlakuan dengan kalsium oksida.

Icthyophonus
Icthyophonus disebabkan oleh jamur Icthyophonus hoferi . Jamur ini tumbuh baik pada air tawar maupun air asin (laut). Meskipun demikian, biasanya serangan jamur ini hanya akan terjadi pada air dingin 2 – 20° C. Penyebaran Icthyophonus berlangsung melalu kista yang terbawa kotoran ikan atau akibat kanibalisme terhadap ikan yang terjangkit.

Gambar parasit Icthyophonus hoferi dan daging yang terinfeksi

Tanda-tanda penyakit
Sebaran penyakit biasanya berlangsung melalui pencernaan, yaitu melalui spora yang termakan. Oleh karena itu, ikan yang terserang ringan sampai sedang biasanya tidak menunjukkan gejala penyakit. Pada kasus serangan berat, kulit ikan tampak berubah kasar seperti amplas. Hal ini disebabkan terjadinya infeksi dibagian bawah kulit dan jaringan otot. Ikan dapat pula menunjukkan gejala pembengkokan tulang. Bagian dalam ikan akan pada umumnya tampak membengkak disertai dengan luka-luka berwarna kelabu-putih.

Pencegahan dan Perawatan
Tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan terhadap penyakit ini, ikan biasanya akan menjadi carrier sepanjang hidupnya. Pencegahan adalah satu-satunya cara untuk menghindari serangan penyakit Icthyophonus. Pencegahan dapat dilakukan dengan tidak memberikan ikan mentah atau produk ikan mentah pada ikan, kecuali diyakini bahwa pakan ini terbebas dari Icthyophonus hoferi. Memasak terlebih dahulu pakan tersebuti dapat membantu menghilangkan jamur infektif yang terkandung. Apabila Icthyophonus ditemukan pada ikan anda, maka disarankan untuk segera memusnahkan ikan tersebut. Selanjutnya lakukan sterilisasi pada akuarium yang bersangkutan, termasuk filter dan peralatan lainnya. Apabila hal ini menyerang ikan dalam kolam, dan kolam memiliki dasar pasir atau lumpur maka akan diperlukan pengeringan kolam selama berbulan-bulan untuk menghilangkan jamur tersebut. ***

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here