Pengamat Politik, A I Chaniago: Kotak Kosong Bisa Menang, Jika Perolehan Suara Calon Tunggal Tak Sampai 50 Persen Lebih Suara Sah

0
358

Sumateranews.co.id, PRABUMULIH – Semenjak ditetapkan dan diatur Undang Undang Nomor 10 tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), suatu daerah kabupaten/kota yang calon kepala daerahnya hanya satu calon tunggal maka kotak kosonglah lawannya. Dan kemenangan kotak kosong terhadap calon tunggal yang merupakan calon petahana, di Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada Pilkada serentak 2017 lalu menjadi fenomena tersendiri bagi dunia politik di Indonesia.

Bagaimana tidak, selain beratnya persyaratan yang harus mengantongi suara 50 persen lebih suara sah (50 + 1) bagi pasangan calon tunggal untuk menang, juga fenomena bermunculannya relawan-relawan kotak kosong membuat calon tunggal petahana Kabupaten Pati, Haryano dan Saiful Arifin gagal dan harus takluk dengan kotak kosong, yang diperhelat pada Februari 2017 kemarin.

“Hal itulah yang membuat peluang kotak kosong untuk menang cukup besar, karena calon tunggal harus unggul suara hingga 50 persen plus satu (50 + 1). Dan jika kotak kosong menang, disebutkan dalam UU itu pada ayat (2) dan (3) maka Pemerintah menugaskan Penjabat Gubernur, Penjabat Bupati dan Penjabat Walikota hingga sampai dilakukannya Pilkada ulang,” sebut pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Ade Indra Chaniago saat menjadi pembicara acara sosialisasi pelaksanaan Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang, dan Pilkada serentak 2018 di Sumsel, di Gedung Kesenian Rumah Dinas Walikota Prabumulih, Jalan Jenderal Sudirman, Gunung Ibul Barat, Prabumulih Timur, Minggu (01/04) sore.

Menurut Ade indra Chaniago, kehadiran kotak kosong dalam Pilkada yang calonnya hanya satu pasang (calon tunggal) ia sebutkan merupakan kegagalan sebuah partai politik dalam melakukan pengkaderan untuk maju sebagai pilihan alternative. Jumlah per tahunnya pun, dia katakan terus mengalami peningkatan cukup signifikan pasca ditetapkannya UU Pilkada No 10 Tahun 2016.

“Pemilihan kepada daerah yang calonnya tunggal tiap tahunnya terus bertambah, pada 2016 hanya 1 calon, dan tahun kemarin (2017) ada 9 calon. Sedangkan untuk tahun ini, ada 13 calon tunggal yang harus melawan kotak kosong,” jelas dosen Unsri ini.

Sementara keberadaan pasangan calon tunggal ditambahkannya, meski mendapat dukungan penuh seluruh partai politik dan timnya, belum menjamin akan sepenuhnya dipilih oleh masyarakat pemilih dan menang melawan kotak kosong. “Masih riskan, tergantung suka tidaknya masyarakat dan pengaruh orang-orang disekitarnya. Apalagi jika gelombang yang menghendaki Pilkada ulang dan kekuatan dari pergerakan yang mengatasnamakan relawan kotak kosong semakin besar dan kuat, bukan tak mungkin kotak kosong bisa menang, jadi bukan ditentukan oleh orang-orang hebat,” imbuh dia.

Pantauan sumateranews.co.id, tampak dalam kegiatan silaturahmi dan sosialisasi kedua agenda besar tersebut dihadiri dan sekaligus sebagai pembicara persiapan Asian Games 2018, Pjs Walikota Prabumulih, H Richard Chayadi, dan tokoh masyarakat, pemuka agama, pemuda dan ormas yang ada di Prabumulih.

“Mari kita sukseskan dua agenda besar ini, yang kesemuanya untuk menentukan dan kemajuan Sumsel dan juga Prabumulih sendiri. Mudah-mudahan melalui pencerahan politik soal Pilkada, dan sosialisasi kegiatan akbar Asian Games 2018 kedua agenda ini bisa sukses terlaksana. Jangan salah pilih, dan jangan sampai tidak memilih, mari sukseskan Pilkada di Prabumulih ini,” tegas Richard.

Laporan : Taufik

Editor     : Donny