Pendidikan Kunci Kemajuan Bangsa

18
Amiruddin (Abu Teuming) Penyuluh Informasi Publik (PIP) Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, dan anggota aktif Forum Aceh Menulis (FAMe)

KINI kita berada pada bulan Agustus. Bulan paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak? Setiap tahun, pada bulan tersebut berkibar bendera merah putih. Di setiap rumah warga, perkantoran, persimpangan jalan, bahkan di kendaraan berkibar bendera kebanggaan Indonesia.

Hal itu tak terjadi begitu saja. Bukan semata instruksi pemerintah untuk mengibarkan bendera negara, melainkan ada rasa cinta tanah air yang disebut nasionalisme.

Rasa nasionalisme ini yang mendongkrak setiap rakyat Indonesia untuk memantapkan tiang-tiang bendera, dan mengikat sangsaka merah putih di puncaknya. Sebagai wujud Indonesia ini negeri kita. Negeri yang telah lama merdeka dari rong-rongan penjajah Belanda.

Nasionalisme yang tumbuh subur dalam jiwa rakyat Indonesia telah berhasil mematahkan agresi Belanda berkali-kali. Meskipun beberapa wilayah mampu dikuasai Belanda saat agresi kedua, namun ada wilayah yang tak mampu ditaklukan Belanda, seperti Aceh.

Aceh lah yang mengabarkan pada dunia melalui Radio Rimba Raya di Aceh Tengah, bahwa NKRI masih ada. Pemimpin RI masih bertahan, rakyat Indonesia masih berjuang. Yang akhirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus mengakui kedaulatan RI.

Pertahanan tersebut menjadi aksi nyata kecintaan dan nasionalisme rakyat Aceh, umumnya rakyat Indonesia atas negeri ini.

Perjuangan melawan penjajah sudah berakhir. Nuklir dan letupan senjata tidak terdengar lagi. Pertumpahan darah akibat peperangan telah berakhir. Indonesia, khususnya rakyat Indonesia wajib berjuang memajukan bangsa besar tersebut. Maju dari segala sisi, sesuai tupoksi dan kreatifitas anak bangsa.

Kunci utama pembangunan dan kemajuan adalah pendidikan. Sebab, dengan pendidikan semua mampu diubah jadi lebih baik. Perekonomian akan stabil, politik akan aman, bila dipimpin dan dijalankan oleh orang-orang kompeten.

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Singapura tidak terlepas dari majunya pendidikan. Karenanya, putra putri Indonesia, kalian tidak butuh mengeluarkan biaya dan dan menghabiskan tenaga untuk melawan penjajah. Sebab pengorbanan itu telah dilakukan oleh pahlawan bangsa Indonesia.

Tugas generasi ibu pertiwi adalah belajar dan belajar. Menggali pengetahuan sains dan teknologi, lalu mengabdi untuk negeri, demi tergapainya cita-cita pendiri bangsa, yakni kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selamat HUT RI!

*Amiruddin (Abu Teuming)
Penyuluh Informasi Publik (PIP) Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, dan anggota aktif Forum Aceh Menulis (FAMe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here