Pemerintah Dukung Protes PSTI Kepada OCA dan Federasi Asia

0
140

Sumateranews.co.id, PALEMBANG – Sejatinya, peraturan Asian Games yang dibuat oleh Olympic Council of Asia (OCA) haruslah dilaksanakan dengan kensekuen, tanpa pandang bulu. Termasuk, soal negara yang tidak mengikuti drawing, maka secara otomatis tidak akan ikut dalam kompetisi.

Keikutsertaan Malaysia dalam cabor sepak takraw nomor beregu walau tidak ikut dalam drawing yang dilakukan Juli 2018 lalu, mendapat reaksi keras dari beberapa negara peserta termasuk Indonesia. Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) bahkan sudah melayangkan protes kepada OCA.

Menanggapi hal itu, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrowi menegaskan bahwa sikap pemerintah Indonesia (Kemenpora) tetap meminta agar peraturan yang telah dibuat, harus dilaksanakan dengan baik.

“Dari awal Pemerintah (Kemenpora) sudah jelas (sikapnya). Kami menghargai regulasi, konstitusi, termasuk jadwal entry by name, yang mestinya harus dijaga secara konsekuen oleh OCA maupun Federasi Asia,” tegasnya usai menyaksikan pertandingan sepak takraw di Jakabaring Sport City (JSC), Jumat (24/8).

Masih kata Menpora, pihaknya sangat kaget setelah mengetahui tim Malaysia dibolehkan ikut walau tidak mengikuti proses drawing. “Tentu kami kaget, dan itu sebagai bentuk protes pemerintah, kenapa di tengah jalan (tengah kompetisi) masih bisa memasukkan tim atau regu yang tidak ikut saat drawing,” tekannya.

Pemerintah juga sangat prihatin dengan kondisi yang ada, dimana “rule of the game” tidak dijalankan dengan baik oleh OCA. “Kondisi itu yang membuat kami betul-betul prihatin. Semoga hal itu menjadi pelajaran penting kepada OCA maupun Federasi Asia,” pungkasnya.

Dikutip dari tribunjogja, awal protes Indonesia ketika Presiden Federasi Sepak Takraw Malaysia, Ahmad Ismail, memaksakan untuk ikut serta dalam nomor beregu putra, setelah mengetahui Thailand sebagai tim kuat tidak ikut serta dalam nomor tersebut.
Aksi protes PSTI didukung oleh Wakil Presiden OCA, Wei Jizhong maupun negara peserta lainnya seperti Singapura dan India.

Laporan          : Irfan
Editor/Posting : Imam Ghazali