Pedofil Harus Dihukum, Bukan Diberi Grasi

68

Oleh :  Hj.Padliyati Siregar,ST

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan grasi kepada warga Kanada, Neil Bantleman, terpidana kasus pelecehan seksual siswa Jakarta Internasional School kini Jakarta Intercultural School (JIS).

Bantleman adalah mantan guru JIS yang divonis bersalah karena telah melakukan pelecehan seksual kepada siswanya. Ia dihukum 11 tahun penjara di tingkat kasasi oleh Mahkamah Agung (MA).

Anggota KPAI Putu Elvina mengatakan grasi Jokowi menjadi lembaran hitam terhadap upaya perlindungan anak di Indonesia. Putu menyebut kasus pelecehan seksual siswa JIS itu menjadi komitmen pemerintah memberi perlindungan kepada anak-anak.

“Ini masih menjadi lembaran hitam upaya perlindungan anak,” kata Putu saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Jumat (12/7).

Ia menilai pemberian grasi kepada terpidana kasus pelecehan seksual tentu bertolak belakang dengan upaya pemerintah melakukan perlindungan anak-anak dari kekerasan seksual. Menurutnya, sebelum memberikan grasi seharusnya Jokowi mempertimbangkan nasib korban kekerasan seksual.

“Ini yang memang kemudian menjadi hal yang akan disesalkan juga,” tuturnya.

Putu mengatakan orang-orang di sekitar Jokowi harus bisa memberikan pertimbangan yang tepat untuk menjelaskan substansi sebelum memberikan grasi kepada narapidana, termasuk Neil. Menurutnya, setiap pemberian grasi harus melewati pendalaman dari mulai pengajuan sampai dengan proses penilaian.

“Saya pikir ini mungkin lebih kepada koordinasi dan input antara para menteri mungkin yang memproses untuk pemberian grasi tersebut,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM mengonfirmasi grasi yang telah diberikan dari Jokowi kepada Bantleman. Grasi itu diberikan pada 19 Juni lalu, tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 13/G Tahun 2019 tertanggal 19 Juni 2019.

Hukuman mantan guru JIS itu berkurang dari 11 tahun menjadi 5 tahun dan 1 bulan penjara serta denda Rp100 juta.

“Neil Bantleman mendapat grasi dari presiden pada 19 Juni 2019,” kata Kepala Bagian Humas Ditjen PAS Ade Kusmato saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com.

Ade menyebut Neil sudah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Cipinang sejak 21 juni 2019. Neil pun sudah membayar denda sebesar Rp100 juta. Setelah bebas Neil diserahterimakan kepada pihak imigrasi dan

Pemberian grasi kepada pelaku pedofil ini membuktikan bahwa negara lemah menghadapi pelaku krminal terutama warga asing di tambah lagi tidak ada hukum yang tegas kepada pelakunya.Pedofil faktanya adalah penyakit menular yang membahayakan moral dan kualitas generasi masa depan.

Secara etimologis Pedofilia berasal dari bahasa Yunani, paidophilia. Pais berarti anak-anak dan philia berarti cinta. Menurut Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM), pedofilia adalah seseorang yang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi tentang anak-anak prapuber, di mana perasaan mereka menyebabkan penderitaan.

Beberapa tahun yang lalu, Indonesia Darurat kekerasan seksual terhadap anak ditetapkan oleh Komnas Perlindungan Anak. Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, menyatakan kekerasan seksual pada anak meningkat pesat sejak 2010.  Laporan kekerasan pada anak yang masuk ke Komnas PA tahun 2010 hingga 2014 didominasi kejahatan seksual dan angkanya berkisar antara 42-62 persen.

Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak Kemenko PMK,  Marwan Syaukani dalam  Rakor Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak (GN AKSA) pada 12 Juni 2017 lalu menyatakan hasil pantauan di media cetak dan elektronik menyebutkan bahwa rata-rata terjadi 50-60 kekerasan terhadap anak tiap minggunya dan 75% adalah kekerasan seksual anak (KSA).

Ada banyak analisa mengapa KSA terus terjadi. Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati menyatakan maraknya KSA, baik kasus pedofilia, video mesum yang melibatkan anak maupun perkosaan siswi sekolah merupakan mata rantai panjang dengan penyebab yang kompleks.  Penyebab itu antara lain, tantangan eksternal, faktor ekonomi dan pengasuhan orang tua yang kurang.  Rita mengakui adanya tantangan eksternal yang kuat misalnya pornografi dan teknologi yang mengakibatkan terjadinya KSA.  Maraknya pornografi dalam berbagai bentuk, membuat mudah terpapar pornografi secara terus menerus, dan akan mempengaruhi akal dan pikiran.  Kemajuan teknologi menambah kemudahan anak mengakses pornografi.  Minimnya literasi media ramah anak dan ruang publik ramah anak membuat anak tidak memiliki pilihan lain dalam memanfaatkan waktunya.

Sekulerisme Kapitalisme sebagai Akar Masalah

Maraknya kekerasan seksual terhadap anak(KSA) di tengah adanya berbagai regulasi pencegahan dan penanganan KSA perlu ditelaah secara seksama agar dapat diketahui akar masalahnya untuk kemudian dicari solusinya.  Hal ini sangat penting mengingat KSA memberikan trauma mendalam terhadap korban, bahkan beresiko membuat korban berubah menjadi pelaku, sehingga akan muncul korban baru.  Hal ini tentu saja memberikan pengaruh negatif terhadap terbentuknya generasi berkualitas dan nasib bangsa pada masa yang akan datang.

Terjadinya KSA dari waktu ke waktu sesungguhnya menunjukkan gambaran masyarakat yang sakit.  Bahkan dapat dikatakan masyarakat yang rusak, mengingat di antara pelaku ada yang berstatus guru bahkan ayah kandung.  Ini juga mencerminkan bahwa regulasi yang ada pun tidak ditakuti, meski sudah ada ancaman hukum kebiri dan pemberatan hukuman.

Di sisi lain hal ini juga menggambarkan rendahnya keimanan kepada Allah SWT dan adanya hari pertanggungjawaban semua amal di dunia. Inilah ciri masyarakat sekuler yang meniadakan peran Pencipta dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menangani KSA. Sekulerisme memang menerima adanya peran Pencipta, namun dibatasi hanya dalam ruang privat, yaitu ibadah  saja.  Sekulerisme menyerahkan pembuatan aturan dalam kehidupan umum kepada manusia.  Aturan buatan manusia itu bahkan sering menimbulkan pro dan kontra antara berbagai pihak yang memiliki pandangan dan kepentingan berbeda. Akibatnya penegakan aturan pun tidak dapat optimal dan efektif menyelesaikan akar masalah.

Maraknya KSA juga buah dari kapitalisme. Maraknya konten pornografi dalam berbagai media menunjukkan adanya kebebasan perilaku, termasuk kebebasan dalam ekonomi.  Apa saja yang menguntungkan dapat dikembangkan menjadi usaha, meski membahayakan dan merusak masyarakat.  Mudahnya mengakses dan terpapar pornografi berdampak pada meningkatnya dorongan untuk pemenuhan nafsu syahwat.  Lemahnya keimanan akan membuat jalan pintas pemenuhannya, sehingga terjadilah KSA.  Kapitalisme juga menghasilkan kemiskinan akibat lalainya negara dalam mengatur distribusi kekayaan secara merata kepada setiap individu rakyat.  Kemiskinan menjadi alasan untuk melakukan kejahatan dengan  motif mendapatkan uang.

Dengan demikian, jelaslah bahwa sekulerisme dan kapitalisme menyebabkan maraknya KSA.  Selama sekulerisme dan kapitalisme masih menjadi landasan, maka KSA mustahil diberantas sampai tuntas, meski ada regulasinya.

Pencegahan Kekerasan  Seksual dan Pengasuhan Anak Dalam Islam

Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang terjadi di negeri ini banyak mengundang keprihatinan banyak pihak, terlebih hal ini sudah mulai merambah dunia online. Penutupan atau pembatasan penggunaan teknologi dinilai tidaklah bijaksana karena tidak lantas menyelesaikan ancaman kekerasan kepada anak. Disinilah diperlukan peran aktif orangtua untuk membimbing dan mengawasi anak dalam berinteraksi secara online.

Orang tua juga dianjurkan untuk lebih berinteraksi dan lebih intens berkomunikasi dengan anak sehingga tidak ada gap atau celah yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku kejahatan seksual.

Dalam Islam, sesungguhnya anak-anak adalah titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta?ala kepada kita. Bagi orangtua, anak adalah segala-galanya. Wajarlah apabila Rasulullah bersabda yang artinya “anak itu adalah buah hati”(HR. Abu Ya’la)

Sebagai titipan-Nya, anak juga merupakan harta dan perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Merekalah kelak yang akan menjadi pengaman dan pelopor masa depan agama dan bangsa. Orangtua sangat dibutuhkan anak dalam mencurahkan segala kasih sayangnya sehingga muncul kedekatan hubungan antara anak dan ayah ibunya. Anak juga merupakan ujian bagi setiap orangtua sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur?an surah al-Anfal ayat 28 yang artinya”Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allah lah pahala yang besar.? (QS.al-Anfal ayat 28).

Ayat tersebut di atas, menjelaskan salah satu ujian yang diberikan Allah kepada orang tua adalah anak-anak mereka. Itulah sebabnya setiap orang tua hendaklah benar-benar bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan Allah SWT.

Orang tua mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk menunaikannya.

Islam Solusi Tuntas

Kejadian ini akan  terus terulang, seolah tidak memiliki jera bagi pelakunya. Kasus ini akan terus berlanjut menimpa anak-anak lainnya jika Pemerintah hanya diam dan tidak memberikan sanksi tegas sebagai efek jera bagi para pelakunya.

Hal ini bukan hanya sekedar pemberian sanksi seperti dipenjara. Akan tetapi, hal yang dapat menjadi objek bangkit dan munculnya rangsangan syahwat pun harus diberantas, seperti tayangan televisi yang menyuguhkan pergaulan bebas tanpa batas, menjamurnya media porno baik cetak dan elektronik, dan sebagainya.

Islam memandang bahwa zina adalah perbuatan keji dan dosa besar dengan ancaman azab langsung didunia yang disegerakan dan azab pedih neraka kelak

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللّٰهِ .

”Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri” (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Bahkan melakukan sesuatu yang dapat mengantarkan kearah tersebut saja dilarang apalagi perbuatan zina-nya.

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى  berfirman.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra:32)

Dalam hal ini diperlukan peran baik dari individu, masyarakat, dan negara untuk mencegah perilaku tak bermoral yang berlandas syahwat tak terkendali. Dengan menerapkan Sistem Islam secara Kaffah, dengan Sistem Islam Kaffah itu, kesejahteraan, aman dan nyaman akan terwujud.

Secara empiris, Sistem Kaffah ini telah terbukti selama 14 abad lamanya, bukan hanya kesejahteraan,  namun lebih dari itu, sistem Islam kaffah telah terbukti melindungi umat dari kebejatan moral.

Dengan Sistem Islam Kaffah, jaminan hidup tenang pun bisa dirasakan baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Jadi Sisitem Islam Kaffah layak diperjuangkan.

Islam sebagai aturan hidup yang sempurna yang diturunkan Allah SWT memberikan seperangkat aturan yang lengkap dan menyeluruh untuk menyelesaikan persoalan hidup manusia, termasuk KSA.  Islam memiliki mekanisme untuk mencegah dan memberantas KSA. Islam melarang benda dan aktivitas yang memberi peluang terjadinya KSA, seperti pornografi, baik dalam membuat, menyebarkan atau  menikmatinya.  Islam juga melarang usaha  menggunakan sesuatu yang haram.  Islam juga memiliki aturan yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan dan mengatur hubungan kekerabatan dalam keluarga.

Kesejahteraan setiap individu rakyat wajib dipenuhi oleh negara dengan berbagai mekanisme dalam sistem ekonomi Islam.  Sanksi tegas yang memberikan efek jera dan mencegah  juga ditetapkan oleh Islam,  didukung oleh aparat yang amanah.   Dan yang tidak kalah penting,  keimanan dan ketakwaan yang kuat, baik pada rakyat maupun petugas negara, menjadi benteng yang kokoh untuk senantiasa taat pada aturan Allah.  Dengan seperangkat aturan tersebut maka KSA dapat diberantas secara tuntas. Itu pasti! (dari berbagai sumber) ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here