Naiknya Dollar Berimbas pada Pengrajin Tempe

0
168

Sumateranews.co.id, LUBUKLINGGAU- Sejumlah pengrajin tempe di Kota Lubuklinggau mengaku terkena imbas akibat nilai tukar rupiah terus melemah dari dolar Amerika Serikat. Sebabnya, bahan baku yang dipakai adalah kedelai impor yang dibeli menggunakan uang Dollar AS.

Akibat dampak naiknya pertukaran Dollar ke Rupiah, membuat masyarakat mengeluh dan berimbas kepada Usaha Kecil Menengah (UKM), salah satunya berpengaruh produksi pembuatan tempe.

Salah satu pengrajin tempe, Turahman (62) warga Kelurahan Dempo Kecamatan Timur II mengatakan, untuk menyiasati kerugian maka ukuran tempe pun berubah. “Kami juga terpaksa mengurangi ukuran, karena harga jual tempe ke pedagang tidak naik. Tapi harga kedelainya yang naik menjadi Rp 7.800/kg,” ujarnya, Jumat (7/9/2018).

Turahman sendiri telah menjadi penjual tempe sejak tahun 1978. ‘’Kalau tempe yang sudah jadi akan dijual ke Pasar Satelit. Kita jual ke pelanggan 8 batang 10 ribu. Untuk menyiasati hasil produksi kita buat menjadi dua jenis yakni panjang dibuat kecil dan pendek dibuat lebar. Saat ini, pembeli tempe masih sepi,” cetusnya, lesu.

Salah satu pedagang gorengan yakni Eko (28) warga kelurahan Majapahit berharap harga tempe jangan naik. Karena kalau naik dia juga akan menaikkan harga jualannya.

Laporan          : Shandy April
Editor/Posting : Imam Ghazali