Miris! Belasan Oknum Pegawai PLN Bongkar Paksa Meteran Listrik dan Keroyok Pelanggannya Hingga Terluka

0
299
Foto Ilustrasi

sumateranews.co.id , PRABUMULIH – Tindakan tak sepatutnya, dan sewenang-wenang dilakukan oleh oknum pegawai PLN Ranting Prabumulih terhadap salah satu pelanggannya. Bahkan, belasan oknum pegawai perusahaan listrik negara ini tak hanya masuk ke dalam lingkungan rumah tanpa permisi dan membongkar paksa ampere meter listrik. Namun juga melakukan penggeroyokan dan memukuli pelanggannya hingga terluka dan memar pada bagian wajahnya.

Peristiwa pemukulan dan penggeroyokan yang dialami Hidayatillah alias Dayat (49) yang terjadi dirumahnya di Jalan Kartini Gang Gagak RT 05 RW 01 Kelurahan Sukajadi Kecamatan Prabumulih Timur, Rabu (29/11) sore sekitar pukul 14.00 WIB, saat ini sudah ditangani pihak penyidik Polres Prabumulih.

Dalam laporannya, Dayat menyebutkan dirinya seperti diperlakukan seperti seorang pelaku teroris. Belasan pria diduga pegawai dan pihak pekerja perusahaan kontraktor (outsouching) PLN, tiba-tiba datang masuk ke dalam halaman rumah dan memaksa membongkar sambungan dan ampere meter listrik dirumahnya.

“Tanpa pemberitahuan dan permisi terlebih dahulu, mereka tiba-tiba masuk ke dalam halaman rumah dan hendak membongkar paksa sambungan listrik dan ampere meter. Padahal saat itu kami sudah berencana mau bayar dan memang sudah terbiasa membayar listrik setiap dua bulan sekali,” ungkap Dayat, menyesalkan tindakan sewenang-wenang oknum PLN tersebut.

Dayat menuturkan sebelum keributan, sempat terjadi adu mulut antara anaknya, Didiet (26) dengan salah satu pegawai oknum PLN hingga terjadi penggeroyoan dan pemukulan. Lantaran khawatir anaknya, Didiet terluka ia pun bermaksud mencoba melerai. “Dia (pelaku, terus memukuli dan menyerang anak saya hingga mengenai wajah saya. Kasus penggeroyokan ini sudah saya laporkan ke polisi, dan minta para pelakunya segera ditangkap,” ujar korban yang sehari-harinya berprofesi sebagai wartawan dan pimpinan media online prabuekspres.com, ditemui saat mendatangi kantor PWI Prabumulih, usai melapor ke Polres.

Dia katakan, aksi pengeroyokan dan pemukulan yang dialami dirinya dan anaknya, bermula saat sejumlah oknum pegawai PLN mendatangi rumahnya dan hendak memutus paksa sambungan listrik dan membongkar ampere meter karena menunggak dua bulan. “Sebelum-sebelumnya tidak pernah, memang kami terbiasa bayar listriknya dua bulan sekali. Silahkan cek PLN reportnya, dan seharusnya ada pemberitahuan lebih dahulu. Nah ini tidak ada sama sekali,” sebut Dayat.

Terpisah, Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) kota Prabumulih, Donny SH sangat menyesalkan tindakan arogan belasan oknum pegawai PLN Ranting Prabumulih, yang masih sewenang-wenang dalam melakukan pemutusan sambungan listrik tanpa memberikan surat peringatan terlebih dahulu. Dia juga meminta pihak Polres Prabumulih agar secepatnya memroses tindakan penggeroyokan dan pemukulan yang dilakukan oknum pegawai PLN tersebut.

“Sangat disayangkan, apalagi sampai ada tindakan kekerasan dalam pelaksanaannya. Seharusnya kan ada tahapannya pihak PLN dalam memutuskan listrik pelanggannya, bukan asal main cabut saja,” ujar Donny, dibincangi usai menerima laporan dan koordinasi dari korban di kantor PWI Prabumulih, Rabu malam.

Menurutnya, ada tiga (3) tahapan bagi PLN dalam melakukan pemutusan listrik pelanggannya, yakni  pihak PLN terlebih dahulu melakukan penurunan volume listriknya dan menurunkan daya MCB (Miniature Curcuit Breaker) bagi pelanggan listrik pascabayar yang menunggak tagihan listrik selama sebulan.

“Kedua, jika tunggakan tagihannya mencapai dua bulan, pihak PLN boleh melakukan pemutusan aliran listrik dari tiang listrik. Apalagi teman kita ini, sudah membeli dan memasang sendiri tiang listrik didepan rumahnya,” jelasnya.

“Terakhir, kalau pelanggan ini pada bulan ketiga masih belum membayar dan melunasi tagihannya, barulah pihak PLN membongkar meterannya,” tukasnya.

Laporan : Donny