Mewaspadai Bahaya Stunting

102

Oleh : Nelly, M.Pd.
Akademisi dan Pemerhati Masalah Sosial Masyarakat

Masalah gizi buruk di kalangan kelompok balita masih menjadi perhatian utama di berbagai negara, khususnya Indonesia. Mirisnya kematian pada anak-anak di bawah usia 5 tahun yaitu terkait dengan gizi buruk cukup tinggi di negeri ini.

Ada banyak kota provinsi yang telah terkategori darurat masalah stunting akan membahayakan generasi dan sangat mengkhawatirkan.
Salah satu kota provinsi yang juga mengalami darurat stunting yaitu Sumatera Utara, seperti dilansir pada berita di laman Waspada.co.id , stunting di Sumut masih tergolong tinggi. Masih tingginya kasus stunting atau kegagalan pertumbuhan pada anak di Provinsi Sumatera Utara menjadi perhatian besar pemerintah, termasuk Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sumut (20/7/2020).

Sementara dalam berita di laman SuaraTani.com , Kasus balita gizi buruk di Sumut masih tinggi dan menjadi perhatian pemerintah. Kasus gizi buruk di Sumatera Utara (Sumut) tersebar di 26 kabupaten dan kota, terbanyak di Kota Medan dan Kabupaten Mandailing Natal.
Menanggapi kasus gizi buruk bagi balita yang masih tinggi di Sumut, Nawal Edy Rahmayadi selaku Penasihat DWP Sumut meminta para orang tua lebih memperhatikan gizi dan pertumbuhan anak untuk mengurangi stunting di Sumut.

DWP (Dharma Wanita Persatuan)pun bergerak mengurangi jumlah stunting pada anak. Seruan kepada masyarakat terutama ASN atau para istri memiliki tanggung jawab besar dalam pencegahan stunting.

Tak terkecuali para orang tua harus memperhatikan gizi dan perkembangan anak, karena mereka penerus generasi. Nawal juga mengingatkan kepada seluruh ibu-ibu yang ada di Sumut untuk menjaga kesehatan diri dan keluarga di tengah pandemi covid-19. Salah satunya mengurangi kehamilan karena situasi yang tidak baik dan terjadinya baby boom akan meningkatkan angka stunting.

Menurut Nawal, wajib disiplin menerapkan protokol kesehatan. Jadi, tugas ibu-ibu semakin banyak, perhatikan gizi anak, perkembangannya, dan juga protokol kesehatan pada anak (20/7/2020).
Sementara ketua DWP Sumut, Linda Haris Lubis, menambahkan pentingnya mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, salah satunya meningkatkan kualitas hidup manusia.

Untuk mencapai hal tersebut, menurutnya, harus dimulai sejak tahapan anak-anak. Anak-anak sebagai tunas-tunas bangsa harus bisa menjadi anak-anak Indonesia yang cerdas dan berbudi pekerti luhur. Pertumbuhan dan perkembangan anak pada awal kehidupan menentukan kualitas kesehatan fisik dan mental. Untuk mencapai itu perlu gizi seimbang, orang tua yang peduli dan lingkungan yang baik.

Dampak Stunting Pada Balita

Dampak gizi buruk, baik langsung maupun tidak langsung terhadap anak. Maka terjadi tingkat kognitif yang lemah dan psikomotorik terhambat. Sehingga mengakibatkan kesulitan menguasai sains dan berprestasi dalam olahraga. Kemungkinan untuk terserang penyakit juga lebih besar karena rendahnya daya tahan tubuh. Secara umum ini menjadikan generasi berkualitas rendah. Maka, jika permasalahan gizi buruk ini tetap dibiarkan, akan sangat mengancam keberlangsungan generasi kita dan ketahanan Negara ini. Maka sangat perlu diketahui akar permasalahan yang mendasar sehingga bisa kita temukan solusi yang bisa menuntaskan permasalahan ini.
Sebagaimana ditunjukan oleh data lembaga pangan dunia FAO (Food and Agriculture Organization), bahwa satu dari tiga anak Indonesia adalah pengidap kekurangan gizi akut (stunting) dan sekitar 20 juta jiwa terkategori rawan pangan. Diperkuat oleh data GHI-Global Hunger Index Indonesia yang dilansir lembaga International Food Policy Research Institute (IFPRI), bahwa kelaparan di Indonesia selama dua tahun terakhir naik ke level serius.

Sementara penurunan proporsi balita penderita stunting dan gizi buruk bergerak sangat lambat. Maka dari sini bisa kita amati bahwa ada anak-anak di Indonesia yang masih dalam kondisi kekurangan makan yang memprihatinkan, sehingga menyebabkan kondisi mereka dalam kondisi gizi yang buruk.

Padahal jika diamati, Indonesia memiliki sumber ketersediaan pangan yang mencukupi. Dari luasnya lahan pertanian menunjukkan bahan makanan pokok di Indonesia cukup memadai. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kemampuan masyarakat untuk membelinya sangat beragam.

Ketika harga pangan dipatok dengan harga tinggi, maka dipastikan ada sekelompok masyarakat yang tidak mampu untuk membelinya. Faktanya, memang kondisi masyarakat Indonesia mengalami ketimpangan perekonomian yang luar biasa.
Ekonom dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manan membenarkan bila orang-orang kaya di Indonesia merupakan kelompok utama yang menikmati pertumbuhan ekonomi di tanah air.

Hal ini diketahui dari distribusi kekayaan dan pengeluaran. Berdasarkan lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, kata Manan, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 46 persen kekayaan di tingkat nasional. Menurut dia, hal ini menjadi pertanda adanya ketimpangan distribusi kekayaan.
Adanya data ketimpangan distribusi kekayaan termasuk ketersediaan makanan bagi penduduk Indonesia ini menunjukkan bahwa apa yang dikatakan kesejahteraan penduduk Indonesia yang dinilai dari pendapatan per kapita adalah data di atas kertas yang tidak menggambarkan kondisi sebenarnya sebenarnya di lapangan.

Inilah fenomena kondisi masyarakat Indonesia yang hidup di bawah sistem aturan yang di adopsi bangsa ini yaitu kapitalisme. Meski dibilang Indonesia berdasar pancasila, nyatanya justru ideologi kapitalisme lah yang menjadi ruh kehidupan tatakelola di negara ini.

Sungguh efek buruk kapitalisme ini nyata terasa saat ini.
Dalam sistem kapitalis, harga dijadikan sebagai pengendali tunggal distribusi barang di tengah masyarakat. Hargalah yang akan menentukan siapa-siapa yang berhak mendapatkan barang dengan kualitas dan kuantitas tertentu, dan siapa yang tidak berhak mendapatkannya sama sekali.

Orang yang mampu membeli barang dengan harga tinggi, dia akan mendapatkan barang dengan kualitas dan kuantitas yang diinginkannya. Sementara itu orang yang sama sekali tidak mampu menjangkau harga barang tersebut, dia tidak berhak mendapatkannya, meskipun barang itu merupakan kebutuhan pokok baginya. Salah satu dampaknya adalah ancaman gizi buruk bagi anak.

Dan nyata saat ini gizi buruk susah dituntaskan, karena solusi yang ditawarkan belum menyentuh akar permasalahan yang ada.
Sebagaimana, program yang dicanangkan pada peringatan HGN tahun inipun belum menyentuh substansi akar permasalahan dari gizi buruk itu sendiri. Kita lihat program yang diberikan adalah bagaimana mewujudkan Gizi seimbang untuk ibu dan balita dan bagaimana pengetahuan makanan apa yang sangat diperlukan untuk mereka. Hal ini memang perlu diberikan agar masyarakat faham.

Namun, apalah arti pengetahuan ini jika sebagian mereka yang berada pada kondisi gizi buruk nyatanya adalah mereka yang kesulitan untuk mendapatkan makanan, dikarenakan kondisi perekonomian yang terpuruk?

Maka, permasalahan gizi buruk ini tidak bisa jika dikembalikan kepada keluarga dan masyarakat saja dengan memberikan kesadaran kepada mereka akan pentingnya menjaga kecukupan gizi terutama pada 1000 hari pertama kehidupan, namun perlu ada upaya serius dari negara untuk menangani permasalahan ini.

Akan tetapi, permasalahan ini justru dianggap beban bagi negara di era kapitalisme sebagaimana tercantum dalam proposal peringatan hari Gizi nasional tahun ini. Dalam proposal tersebut disebutkan, “Berbagai masalah gizi tersebut akan mempengaruhi kualitas hidup generasi mendatang dan menjadi beban negara akibat besarnya nilai ekonomi yang harus dikeluarkan sebagai dampak masalah kesehatan yang ditimbulkan”

Solusi Masalah Stunting

Islam sebagai solusi permasalahan kehidupan, dimana negara dalam Islam memiliki kewajiban untuk bisa menjamin kebutuhan pokok masing-masing individu di dalam negaranya. Tidak boleh pengukuran kesejahteraan hanya dirata-rata saja dalam masyarakat.

Kebutuhan pokok tersebut meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan yang harus dijamin oleh negara. Pemimpin dalam Islam harus benar-benar memastikan masing-masing individu dalam masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok tersebut.

Inilah prioritas utama yang diperhatikan negara, selain juga menjamin setiap kepala keluarga bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dalam Islam, pemimpin adalah penanggung jawab urusan dan kemaslahatan rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas hal itu di hadapan Allah SWT. Nabi saw. bersabda :“Seorang iman (pemimpin) pengatur dan pemelihara urusan rakyatnya; dia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya”(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian hanya sistem Islam yang mampu memberikan pelayanan sebaik baiknya kepada rakyat, salah satu diantaranya memberikan asupan gizi yang cukup bagi rakyatnya. Karena itu semua merupakan tanggung jawab negara. Dalam sirah pun di ceritakan bagaimana seorang khalifah Umar bin Khatab setiap malam datang tidak pernah tidur nyeyak. Hal ini terjadi karena beliau khawatir jika masih ada anggota masyarakatnya kelaparan.

Oleh karena itu, jika ingin menyelamatkan generasi dari bahaya gizi buruk dan mendapatkan keberkahan hidup maka solusi yang sangat rasional adalah meninggalkan sistem kapitalisme dan mengambil Islam secara menyeluruh. Allah SWT berfirman, “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al A’raf : 96).

Allahu A’lam Bi Showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here