Mengungkap Asal Muasal Desa Polorejo Babadan Ponorogo

358
Inilah capil milik Mbah Syaridin yang telah menjadi batu. Pada malam tertentu terkadang keluar cahaya lalu menghilang. (foto: imam)

Sumateranews.co.id, PALEMBANG- Mbah Syaridin yang dimakamkan di Pemakaman Maron Desa Ngunut  Kecamatan  Babadan Ponorogo Jatim dikenal sebagai babat alas desa setempat bersama sahabat kentalnya yang sesama pejuang ‘’Laskar Pangeran Diponegoro’’ bernama Mbah Brotonegoro.

Berdasarkan cerita tetua yang ada, saat ini keturunan Mbah Syaridin masih hidup, dan salah satunya adalah penulis sendiri Imam Ghazali (51) sebagai keturunan kelima dari Dinasti Syaridin. Penulis sendiri tinggal di Palembang yang merupakan anak dari H. Soewandi yang telah wafat 1,5 tahun lalu dan dimakamkan di TPU Puncak Sekuning.

Menelusuri jejak Desa Polorejo Kecamatan Babadan Ponorogo sekaligus mengungkap sejarah desa sebagai nuasa pembelajaran sejarah buat generasi mendatang bukanlah hal gampang. Sebab cerita tanpa didukung bukti sejarah yang ada hanyalah menghasilkan berita angan bernuansa fiksi.

Tapi berdasarkan sumber dari Mbah Sunar yang juga tokoh masyarakat Desa Polorejo, maka sejarah Desa Polorejo pun kian terungkap.

Menurut Mbah Sunar (termasuk keturunan keempat dari Mbah Syaridin), semasa hidup Mbah Syaridin dikenal sebagai salah satu bala tentara Pangeran Diponegoro yang melarikan diri, lalu mengasingkan diri dan membabat Desa Polorejo saat ini bersama Mbah Brotonegoro. ‘’Tidak tahu kapan pastinya. Tapi tak lama kekalahan Pangeran Diponegoro dari Belanda, maka banyak pengikutnya melarikan diri karena tak mau bekerja sama dengan penjajah. Nah salah satunya ya Mbahmu Syaridin pun melarikan diri,’’ tutur Mbah Sunar kepada penulis yang menemuinya di Desa Polorejo pertengahan Februari 2019 lalu.

Dari fakta yang ada, saat melarikan diri, Syaridin ditemani rekannya bernama Mbah Brotonegoro. Lalu keduanya berpisah. Mbah Brotonegoro memutuskan diri untuk mengasingkan diri bersama kudanya menuju Desa Banaran hingga ke puncak gunung karena terus dikejar Belanda dan meninggal   di sana. Bahkan makamnya pun hingga kini dijadikan wisata religi.

Sementara Mbah Syaridin memutuskan tinggal di Desa Polorejo. Makamnya berada di Pemakaman Maron Desa Ngunut  Kecamatan Babadan Ponorogo yang merupakan pemakaman umum. Di komplek pemakaman itu juga ada makam H. Suparlan keturunannya yang keempat yang merupakan adik kandung dari Mbah Soewandi yang dimakamkan di TPU Puncak Sekuning Palembang.

Untuk peninggalan Mbah Syaridin sendiri hingga kini masih ada dua buah yakni berupa capil atau topi yang sudah menjadi batu. Capil batu itu salah satunya sudah tertimbun tanah, tapi satunya lagi masih dapat dilihat karena berada di pekarangan belakang rumah Laely Kuriana di Desa Polorejo yang merupakan anak ke-5 H. Suparlan.

Sesekali, kata Joko (anak pertama H. Suparlan) di sekitar batu keluar cahaya lalu menghilang. ‘’Tapi apa arti dan benda apa yang bercahaya itu, hingga kini belum ada yang mengungkap,’’ ujar Joko kepada penulis.

Meski Capil Batu peninggalan Mbah Syaridin kini masih utuh tapi belum dilakukan pemeliharaan sebagaimana layaknya benda cagar budaya. ‘’Kami berharap, pemerintah ataupun pihak yang berkompenten dapat melakukan perawatan terhadap Capil Batu itu,’’ cetus Joko.

Sementara itu, sumber lain mengatakan bahwa sejarah Desa Babadan (sekarang menjadi kecamatan) tidak lepas dari sejarah perang Diponegoro. Konon setelah perang Diponegoro usai, sebagian pengikutnya ditangkap dan diasingkan ke Makassar.

Melihat hal itu, banyak prajuritnya melarikan diri menuju arah barat untuk menghindari kejaran pasukan Belanda ataupun menolak kerja sama dengan kolonial Belanda waktu itu. Salah satu dari sekian banyaknya prajurit yang meninggalkan Goa Selarong dan sekitarnya adalah Sontowinoyo. Di kemudian hari lebih dikenal dengan Santonoyo. Sekitar tahun 1832 Sontonoyo sampai di daerah yang sekarang dikenal dengan sebutan Babadan.

Diduga pelarian Santonoyo juga diikuti oleh Mbah Brotonegoro dan Mbah Syaridin. Lalu mereka berpencar, Santonoyo tetap berada di Desa Babadan, Mbah Brotonegoro ke Desa Banaran, dan Mbah Syaridin ke Desa Polorejo. Wallahualam bissawab.

 

Laporan/Posting : Imam Ghazali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here