Masalah Tapal Batas dengan Kepahiang, Bupati Rejang Lebong Serahkan ke Pihak Berwenang

0
879

Sumateranews.co.id, BENGKULU – Sejak pemekaran daerah Kepahiang menjadi Daerah Otonom Baru (DOB), pada tahun 2003 yang lalu dari Kabupaten Rejang Lebong, persoalan tapal batas kedua wilayah ini sepertinya terus menjadi polemik panjang sampai sekarang. Permasalahan timbul akibat belum adanya kejelasan batas wilayah 2 kabupaten tersebut.

Bahkan meskipun telah dibangun gapura di wilayah perbatasan antara 2 kabupaten, yakni di Kelurahan Tempel Rejo, Kecamatan Curup Selatan, dan Desa Taba Mulan, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang. Namun keberadaannya masih belum menyelesaikan persoalan.

“Kita hanya mengkhawatirkan kembali timbulnya polemik, seperti yang terjadi pada puluhan tahun yang lalu,” sebut Bupati Rejang Lebong, Akhmad Hijazi, kepada pewarta, baru-baru ini.

Untuk mengantisipasi hal itu, sambung Hijazi pihaknya berharap dapat diselesaikan menurut peraturan yang berlaku dan tidak menyakiti masyarakat. “Apalagi sampai menimbulkan polemic ditengah masyarakat,” ujar Akhmad Hijazi, menambahkan.

Hijazi menuturkan, permasalahan tapal batas kedua wilayah sebenarnya bukan menjadi persoalan serius karena masih berada dalam kedaulatan dan kesatuan NKRI. Namun kembali dikatakan Hijazi, permasalahan tapal batas kedua wilayah kabupaten tetap menjadi pekerjaan rumah (PR) kedua wilayah, dan harus segera diselesaikan.

“Saat ini tim penegasan batas daerah, baik dari 2 kabupaten dan Provinsi Bengkulu masih melalukan survey dan penelusuran titik karto metrik untuk menentukan batas ke 2 kabupaten ini, dan ini belum bisa di pastikan kapan akan kelar,” imbuh ia.

Lebih lanjut ia katakan, untuk penyelesaian permasalahan pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang dan sesuai aturan yang berlaku.

“Menyerahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang, sesuai dengan aturan yang berlaku, dan tidak sampai menyakiti masyarakat,” tegas Bupati, seraya menambahkan persoalan tapal batas pihaknya menyerahkannya sepenuhnya kepada pihak berwenang.

“Meski bangunannya (gapura, red) milik rejang Lebong dan berada di Kepahiang, tetap bukan masalah karena masih berada di NKRI,” tutup Hijazi.

“Laporan : Andeka

Editor     : Donny