Laba Bersih PTBA Capai Angka Rp 4,47 Triliun

0
262

Sumateranews.co.id, JAKARTA-  PT Bukit Asam Tbk mengumumkan Kinerja Keuangan per 31 Desember 2017. Perseroan berhasil menutup tahun 2017 dengan kinerja yang sangat baik, laba usaha tercatat cemerlang sebesar Rp 5,89 Triliun (233 % dari periode sebelumnya yang hanya Rp 2, 53 Triliun) dan laba bersih berhasil menembus angka Rp 4,47 Triliun (223 % dari periode sebelumnya yang hanya Rp 2,00 Triliun).

Pencapaian kinerja ini didukung oleh kemampuan manajemen Perusahaan dalam merumuskan strategi yang efektif. Di antaranya dengan peningkatan produksi, optimasi harga jual, serta efisiensi biaya.

Pencapaian Pendapatan Usaha Rp 19,47 Triliun

Untuk tahun 2017, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp 19,47 Triliun, naik 38 % dibandingkan tahun 2016 sebesar Rp 14,05 Triliun. Peningkatan pendapatan ini adalah hasil dari upaya terus menerus yang dilakukan manajemen Perseroan dalam melakukan penetrasi pasar untuk menjual batubara Low to Medium Calorie di tengah membaiknya harga batubara dunia.

Secara volume, penjualan batubara tahun 2017 tercapai sebesar 23,63 juta ton, meningkat 2,87 juta ton atau 14 % dibandingkan penjualan tahun sebelumnya sebesar 20,75 juta ton. Komposisi penjualan masih didominasi oleh penjualan domestik sebesar 61 % dan penjualan ekspor 39 %.

Peningkatan volume penjualan FY2017 yang cukup signifikan terjadi pada penjualan domestik yaitu sebesar Rp 2,13 juta ton atau 17 % dibandingkan FY2016. Penjualan ekspor juga sedikit meningkat, yaitu sebesar 9 %. Bukit Asam-50 menjadi market brand utama untuk pasar domestik maupun pasar ekspor, dimana penjualan brand ini meningkat sebesar 1,82 juta ton untuk pasar domestik dan meningkat 2,44 juta ton untuk pasar ekspor. Selain itu, Bukit Asam-48 juga menunjukkan peningkatan 2,22 juta ton untuk pasar ekspor

Harga jual rata-rata FY2017 bergerak positif sebesar 24 %, dari Rp 658.018/tondi tahun 2016 menjadi Rp 814.216/ton di tahun 2017. Kenaikan harga jual ini seiring dengan penguatan harga batubara Newcastle maupun harga batubara thermal Indonesia (Indonesia Coal Index/ ICI) yang meningkat masing – masing sebesar 34 % dan 32 % dibandingkan harga rata-rata FY2016.

Beban pokok penjualan meningkat sebesar 14 % y-o-y seiring dengan kenaikan volume produksi yang meningkat cukup tinggi sebesar 24% atau 4,62 juta ton y-o-y.

Namun demikian, Perseroan terus melakukan upaya efisiensi biaya sepanjang FY2017, diantaranya terhadap biaya jasa penambangan yang menurun sebesar Rp 785,68 Miliar atau 26 % dan pembelian batubara yang menurun Rp 455,77 Miliar atau 70% FY2016, sehingga tercipta struktur biaya yang lebih efisien. Penurunan biaya jasa penambangan tercermin dari penurunan nisbah kupas (stripping ratio) dari 4,92 menjadi 3,55, sehingga cash cost (UPTE & termasuk royalti) turun dari Rp 655.164/ton di FY2016 menjadi Rp 641.524/ton di FY2017.

Laba Bersih Perseroan Capai Rp 4,47 Triliun

Laba bersih Perseroan FY2017 berhasil menembus angka sebesar Rp 4.476,44 Milyar atau mencapai 223 % dari FY2016 sebesar Rp 2.006,18 Milyar. Dengan EBITDA Perusahaan naik sebesar 107 % y-o-yatau naik dari Rp 3,29 Triliun menjadi Rp 6,82 Triliun.

FY2017       FY2016

Gross Profit Margin (GPM)      44%      31 %

Operating Profit Margin (OPM)    30%      18 %

Net Profit Margin (NPM)  23 %     14 %

Berdasarkan jumlah saham beredar yang telah dikurangi dengan Treasury Stock, Perseroan membukukan laba per lembar saham untuk periode FY2017 sebesar Rp 425,- atau naik 124 % dari kondisi tahun lalu sebesar Rp 190,-

Aset dan Kewajiban Perseroan Aset konsolidasian per 31 Desember 2017 tercatat sebesar Rp 21,98 Triliun, naik sebesar 3,41 Triliun atau 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 18,57 Triliun. Total kewajiban mengalami sedikit kenaikan hanya sebesar 2 % atau Rp 163 Miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Posisi kas dan setara kas FY2017 sebesar 3,55 Triliun atau hanya menurun 3 % dibandingkan FY2016 sebesar Rp 3,67 Triliun. Kenaikan aset dipengaruhi oleh bertambahnya piutang usaha sebesar Rp 3,05 Triliun, seiring dengan peningkatan penjualan domestik.

Sasaran Tahun 2018

Perseroan merencanakan produksi batubara sebesar 25,54 juta ton untuk tahun 2018, yang mengalami kenaikan 17% dari rencana tahun sebelumnya sebesar 21,92 juta ton.

Angkutan Kereta Api

PT Kereta Api Indonesia menyatakan komitmennya akan mengangkut batubara PTBA dari lokasi tambang sebesar 23,10 juta ton, dengan porsi masing-masing sebesar 19,40 juta ton menuju Pelabuhan Tarahan di Bandar Lampung dan 3,70 juta ton menuju Dermaga Kertapati di Palembang. Angkutan tersebut telah meningkat 13 % dari target tahun 2017 sebesar 20,50 juta ton.

Penjualan

FY2018, Perseroan menargetkan untuk meningkatkan penjualan menjadi sebesar 25,88 juta ton dengan komposisi 53 % atau 13,74 juta ton untuk memenuhi pasar domestik dan 47 % atau 12,15 juta ton untuk pasar ekspor.Target penjualan domestik sedikit mengalami penurunan yaitu sebesar 5 %, sedangkan penjualan ekspor mengalami kenaikan cukup signifikan yaitu sebesar 62 % dari target FY2017.

Secara total, target penjualan FY2018 meningkat sebesar 3,91 juta ton atau 18% dibandingkan target FY2017 yang hanya sebesar 21,97 juta ton.

Peningkatan target ditopang oleh rencana penjualan ekspor untukbatubara medium to high calorieke premium market seiring dengan semakin membaiknya harga batubara, demandbatubara juga menunjukkan growth yang positif khususnya di wilayah ASEAN dimana akan  beroperasinya sejumlah PLTU baru.

Upaya Efisiensi

Perusahaan terus melakukan upaya efisiensi serta investasi yang diprioritaskan kepada aktivitas yang menunjang operasional tambang. Di antaranya, untuk menekan biaya produksi penambangan, Perusahaan mengakuisisi perusahaan jasa pertambangan PT Satria Bahana Sarana (SBS) melalui anak perusahaan PT Bukit Multi Investama (BMI) pada tanggal 21 Januari 2015. PT SBS sudah beroperasi sejak tahun 2015 dengan kemampuan produksi yang terus meningkat. Target produksi tahun 2017 adalah sebesar 36 Juta BCM yang meningkat menjadi 38 Juta BCM pada tahun 2018.

Investasi

Untuk tahun 2018, Perseroan menganggarkan sebesar Rp 6,55 Triliun yang terdiri dari Rp 1,43Triliun untuk investasi rutin dan sisanya Rp 5,12 Triliun untuk investasi pengembangan.

Proyek Pengembangan

PLTU Mulut Tambang Banko Tengah  Sumsel 8

Proyek PLTU Sumsel 8 (Banko Tengah 2×600 MW) yang berada di Muara EnimSumatera Selatan akansegera dibangun oleh PTBA bersama China Huadian. Pada Maret 2015, Perseroan melalui anak perusahaan PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) telah menandatangani Loan Agreementsenilai USD 1,2 miliar bersama The Export-Import Bank Of China (CEXIM).

Progress saat ini adalah telah ditandatanganinya amandemen Power Purchase Agreement (PPA)dengan PLN tanggal 19 Oktober 2017 mengenai perubahan pembangunan jalur transmisi High Voltage Direct Current (HVDC) menjadi jalur transmisi Extra High Voltagesepanjang45 Km dari New Aurduri, Jambi ke Muara Enim, Sumatera Selatan dan PLN telah menunjuk PT Waskita Karya sebagai pelaksananya.Konstruksi direncanakanakan dimulai tahun 2018 dengan teknologi Boiler Supercritical yang lebih efisien dan ramah lingkungan.Selanjutnya akan dilakukan amandemen kontrak Engineering Procurement Construction (EPC), kontrak Operations and Maintenance (O&M) dan Coal Supply Agreement(CSA).

PLTU Mulut Tambang Peranap

PTBA akan membangun PLTU dengan kapasitas 2×300 MW di Kabupaten Indragiri Hulu Riau yang memanfaatkan lebih dari 4 juta ton batubara per tahunnya dari tambang PTBA di Peranap.PLTU menggunakan teknologi proven yang akan dapat membangkitkan tenaga listrik dengan harga kompetitif sesuai aturan Pemerintah dan ditargetkan akan mulai beroperasi pada tahun 2023.

PLTU Mulut Tambang Sumsel 6

PTBA bekerjasama dengan PLN akan membangun PLTU dengan kapasitas 2×300 MW di Tanjung Enim yang memanfaatkan lebih dari 3 juta ton batubara per tahunnya dari tambang PTBA di Tanjung Enim.Rencana mulai beroperasi pada tahun 2022.

PLTU  Halmahera Timur

Proyek PLTU Halmahera Timur kapasitas 2×40 MW merupakan salah satu proyek sinergi BUMN, dalam hal ini PTBA sebagai perusahaan energi akan menyediakan pasokan energi listrik bagi pabrik baru Feronikel milik ANTAM yang berlokasi di Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara.

PLTU  Kuala Tanjung

Proyek sinergi BUMN lainnya adalah PLTU Kuala Tanjung kapasitas 2x350MW yang merupakan proyek strategis PTBA bersama INALUM untuk menyediakan pasokan energilistrik bagi pabrik ekspansi Aluminium Smelter II milik INALUMyang berada di kawasan Industri Sei Mangkei. PLTU iniditargetkan dapat mulai beroperasi pada tahun 2021.

Proyek Coal Gasification

Selain melalui sinergi BUMN, untuk pengembangan PLTU, PTBA juga bersinergi dengan Pertamina, Pupuk Indonesia dan Chandra Asri Petrochemical melalui pengembangan teknologi gasifikasi untuk mengkonversi batubara menjadi syngas. Syngas merupakan bahan baku yang diproses menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai bahan bakar, urea sebagai pupuk, dan Polypropylene sebagai bahan baku plastik. Kebutuhan batubaranya diperkirakan lebih dari 5 juta ton per tahun dan direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2022.

Proyek CBM (Coal Bed Methane)

Proyek CBM berlokasi dalam wilayah pertambangan batubara Tanjung Enim, Sumatera Selatan.Proyek ini akan berproduksi dengan kapasitas 25 MMSCF (Million Standard Cubic Feetper Day)atau setara untuk membangkitkan tenaga listrik 100 MW dengan cadangan potensial sebesar 0,8 TCF (Trillion Cubic Feet).

Proyek Angkutan Batubara

Untuk optimasi pengangkutan batubara, PTBA bekerjasama dengan PT KAI mengembangkan proyek angkutan batubara jalur kereta api baru yang terdiri dari:

  • Tanjung Enim – Simpang -Perajin dengan kapasitas 10 juta ton/tahunbeserta pelabuhan baru Perajin yang rencana beroperasi pada tahun 2022.
  • Tanjung Enim – Srengsem dengan kapasitas 20 juta ton/tahun dan rencana beroperasi tahun 2022
  • Tanjung Enim ke Lampung (Bukitasam Transpacific Railways – BATR) yangrencana beroperasi tahun 2022 dengan kapasitas tahun ke-1 (7,5 juta ton), tahun ke-2 (15 juta ton), tahun ke-3 s/d 14 (25 juta ton), tahun ke-15 (27,5 juta ton), tahun ke-16 s/d 20 (30 juta ton)

Selanjutnya kerjasama juga dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas jalur kereta yang sudah ada (existing) meliputi:

  • Double track jalur selatan dari Tiga Gajah – Baturaja – Martapura sepanjang 34,33 km
  • Double track jalur utara Prabu – Lembak – Payakabung – Kertapati sejauh 42,67 km beserta pengembangan fasilitas muat tongkang Dermaga Kramasan dengan kapasitas 5 juta ton/tahun.

Laporan            : Rel/Idham/Novita

Editor/Posting : Imam Ghazali