Kisah Wari dan Tukang Kebun Sekolah

0
553
SONY DSC

Saat itu, di tahun 1977, langit Bumi Seganti Setungguan seakan tak bersahabat. Jalan-jalan banyak yang tergenang, penyakit pilek dan demam mulai merambah satu-dua warga. Salah satunya adalah tukang kebun SD Santo Yosef Lahat. Sebut saja Mang Herman, begitu dia biasa disapa oleh para siswa di sana.
Namun meski kurang sehat, Mang Herman tetap bekerja seperti biasa. Dia tak mau sekolah di tempatnya bekerja kotor dan tumbuh semak belukar sebagaimana jalan-jalan desa saat itu.

Tampak sesekali, Mang Herman menahan sakit di lambungnya, lalu batuk. Kebetulan saat itu jam sekolah masih berlangsung. Semua siswa belajar di kelas masing-masing. Saat itu, Wari kecil kebetulan mau ke kamar kecil. Tanpa sengaja dia melihat Mang Herman yang tampak pucat dan lesu. Meski tak sempat menegur karena keburu mau buang air kecil, keadaan Mang Herman menjadi pikiran Wari saat itu.
Keesokan harinya, Wari kecil membawa bungkusan makanan dan obat-obatan untuk penyakit demam. Bekal itu dia minta kepada orang tuanya dan sedikit mengambil uang tabungannya. ‘’Ini Mang Herman ada makanan dan obat-obatan, mungkin berguna buat Mamang biar cepat sembuh ya,’’ ujar Wari kecil polos seraya menjulurkan lengan kanannya.
Dengan mata berkaca-kaca dan tangan gemetaran, Mang Herman tak kuasa menolak bungkusan tersebut. Usai memberi bungkusan, Wari langsung belajar seperti anak lainnya, sementara si Mang Herman sempat termangu-mangu. Lalu dia mencari tempat untuk membuka bungkusan tersebut.

Dengan senyum tersungging, tanpa basa-basi, Mang Herman menikmati makanan yang diberikan dan minum obat yang ada. Sementara sebagian makanan lagi dibawanya pulang buat anaknya yang masih kecil.
Dua hari kemudian, Mang Herman kelihatan sehat seperti sediakala. Dia mencari anak kecil yang telah memberikannya bungkusan. Ternyata si anak kecil tersebut adalah Saifudin Aswari Ri’fai yang di masa mendatang akan menjabat Bupati Lahat selama dua periode. Atau sekitar 31 tahun setelah kejadian itu, Wari menyandang pangkat Bupati Lahat, mulai tahun 2008—hingga sekarang (dua periode).
Bahkan karena kecintaannya terhadap rakyat jelata dan Bumi Seganti Setungguan serta Sumsel, maka kini Aswari bersama Irwansyah bersatu untuk menjadi orang nomor 1 dan orang nomor 2 di Sumsel.

Mengenai kedekatan Wari tersebut kembali diceritakan oleh Pak Mistam saat acara jumpa dan pamit dengan sahabat lama, Rabu (24/1/2018) lalu. Pak Mistam sendiri adalah salah satu guru SD si Wari kecil saat itu. “Wari ini orangnya kreatif dan suka bergaul dengan semua kalangan, bahkan sampai yang tua. Kemudian dia sangat menghormati gurunya, bahkan tukang kebun aja. Jadi kedekatan dengan masyarakat bawah itu memang tidak dibuat-buat,” aku Mistam, usai menghadiri acara pamit cuti dari Bupati Lahat di Lahat, Rabu (24/1/2018).
Hal yang juga dikatakan Safarudin (56) yang merupakan kawan kecil Bupati Lahat dua periode itu di kampung halamannya, Desa Sukaratu. Dia mengatakan Aswari kecil sudah memiliki sikap mengayomi, terlihat saat ia berinteraksi dengan teman-temannya.
Kedekatan Wari dengan semua kalangan, termasuk tukang kebun dan kerabat menunjukkan bahwa bakat calon Sang Pemimpin Sumsel tersebut benar-benar memiliki jiwa asah, asih, dan asuh serta penuh rasa penganyoman terhadap sesama. Bakat, sifat, dan jiwa yang demikian itulah yang akan dibutuhkan Sumsel untuk lebih maju dan senantiasa membawa perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Amin.
Laporan/Penulis : Ig
Editor/Posting : Imam Ghazali

sumatranews.co.id1 id : 10717 Under Article