Kisah Rasulullah SAW Mengangkat Anak Korban Perang, Hikmah Tarbiyah Ramadan

0
561
Khotib Jumat, Ustad Darul Jalal S.Ag, saat berfoto bersama usai salat jumat di Masjid Baitul Makmur Sekip Madang, Palembang dengan Bilal Salahuddin Hutrizal SE, Jumat, 29 April 2022.

Isi Khotbah Jumat Masjid Baitul Makmur Sekip Madang

PALEMBANG – Di suatu hari raya, Rasulullah SAW keluar rumah untuk melaksanakan salat Idul Fitri. Diceritakan dalam kisah itu, Rasulullah melihat anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan, namun di antaranya tampak seorang anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan mereka.

“Dengan pakaian sangat sederhana dan tampak murung, ia menangis tersedu,” ucap Khotib Ustad Darul Jalal S.Ag dalam penyampaian Khutbah Jumat, 29 April 2022 di Masjid Baitul Makmur Sekip Madang, Palembang dengan Bilal Salahuddin Hutrizal SE.

Khotib Darul menjelaskan, melihat fenomena ini, Rasulullah segera menghampiri anak tersebut. “Nak, mengapa kau menangis? Kau tidak bermain bersama mereka?,” Rasulullah membuka percakapan.

“Anak kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya adalah Rasulullah,” lanjutnya.

Anak tersebut menjawab, “Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Tetapi ia gugur dalam medan perang tersebut.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut. Sambil meraba ke mana ujung cerita, Nabi mendengarkan dengan seksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak tersebut.

“Ibuku menikah lagi. Ia memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri. Kini aku tak memiliki apa pun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Aku bukan siapa-siapa. Tetapi hari ini, aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Untuk itulah aku menangis.” tutur khotib.

Mendengar penuturan ini, batin Rasulullah terenyuh. Ternyata ada anak-anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang mengalami nasib malang begini.

Khotib meneruskan, dalam kisah itu Rasulullah segera menguasai diri. Rasul yang duduk berhadapan dengan anak ini segera menggenggam lengannya.

“Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayah, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?” tanya Rasulullah,” jelas ia.

Mendengar tawaran itu, anak ini mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. “Kenapa tak sudi, ya Rasulullah?” jawab anak ini dengan senyum terbuka.

Rasulullah kemudian membawa anak angkatnya pulang ke rumah. Di sana anak ini diberikan pakaian terbaik. Ia dipersilahkan makan hingga kenyang. Penampilannya diperhatikan lalu diberikan wangi-wangian. Setelah beres semuanya, ia pun keluar dari rumah Rasulullah dengan senyum dan wajah bahagia. Melihat perubahan drastis pada anak ini, para sahabatnya pun bertanya.

“Sebelum ini kau menangis. Tetapi kini kau tampak sangat gembira?”. “Benar sahabatku. Tadinya aku lapar, tetapi lihatlah, sekarang tidak lagi. Aku sudah kenyang. Dulunya aku memang tidak berpakaian, tetapi kini lihatlah. Sekarang aku mengenakan pakaian bagus. Dulu memang aku ini yatim, tetapi sekarang aku memiliki keluarga yang sangat perhatian. Rasulullah SAW ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah adalah saudariku. Apakah aku tidak bahagia?.” Sebut Khotib.

Mendengar sahabatnya, mereka tampak menginginkan nasib serupa. “Aduh, cobalah ayah kita juga gugur pada peperangan itu sehingga kita juga diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW.”

“Waktu terus berjalan. Usia semakin bertambah. Kebahagiaan anak ini pun lenyap ketika selang beberapa tahun setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia,” ucap khotib.

Melalui kisah tersebut, khotib mengajak para jamaah untuk senantiasa berharap dengan hikmah tarbiyah Ramadan. “Mari kita santuni dan peduli dengan anak anak yatim piatu dan kaum dhuafa di sekitar kita dan kewajiban kita di antaranya mengeluarkan Zakat Fitrah dan Zakat Mal,” sebutnya.

Sementara itu, Ketua Masjid Baitul Makmur, AKBP Purn H.S.Prayitno SH menjelaskan, bahwa takmir masjid selama ramadan telah mengisi kegiatan amaliah Ramadan dengan Majlis Taklim, Bapak bapak dan Ibu Pengajian , Tadarusan, Salat Taraweh dan Witir. “Insya Allah kita melaksanakan kegiatan pembagian Zakat Fitrah/Mal kepada yang berhak menerimanya dengan dibentuknya Panitia Bazis Masjid Baitul Makmur,” tutupnya. (King)

Editor : Donni