Kisah Anak Pemulung Tiara dan Julia, dan Cristina Anak Buruh Tani yang Kini Bisa Bersekolah Setelah Mendapat Beasiswa Pendidikan dari PTBA

94
Ketiga gadis cilik, Tiara Aprilia (11) dan adiknya Julia Sari (7), serta Cristina (11), saat ditemui di Asrama Yayasan Al Barokah Tanjung Enim, pada Rabu (16/9). Ketiganya kini bisa bersekolah, usai mendapat beasiswa pendidikan dari PTBA Tbk.

MUARA ENIM – Senyum bahagia dan bercampur haru terlihat di raut wajah ketiga gadis cilik, Tiara Aprilia (11) dan adiknya Julia Sari (7), serta Cristina (11), saat ditemui di Asrama Yayasan Al Barokah Tanjung Enim, pada Rabu (16/9). Ketiganya kini bisa melanjutkan sekolah di bangku sekolah dasar (SD) dan meneruskan cita-citanya tanpa khawatir tidak bisa membayar biaya sekolah dan membeli buku pelajaran.

Kedua kakak beradik, Tiara dan Julia yang merupakan anak pemulung dan Cristina anak buruh tani ini bisa bersekolah setelah mendapat bantuan Program Beasiswa Pendidikan dari perusahaan pertambangan PTBA Tbk.

“Pemberian Beasiswa Pendidikan ini dilakukan terutama untuk ketiga anak-anak tersebut karena mereka memiliki perjalanan hidup yang tergolong luar biasa dan tidak banyak dimiliki anak-anak lainnya. Selain itu Tiara, Julia, dan Cristina beserta kedua orang tuanya dapat bernafas dengan lega. Sekarang jangan khawatir lagi masalah biaya sekolah maupun tempat tinggal, mereka sekarang bisa belajar dengan konsentrasi lebih baik, karena ketiga anak-anak tersebut sudah tinggal di asrama dan diasuh oleh Yayasan Al Barokah Tanjung Enim,” ungkap Manager Humas melalui Asisten 1 Humas PTBA Tbk. M. Saman, saat dikonfirmasi media portal sumateranews.co.id, Rabu (16/9).

Dikatakan Saman, pihak PTBA Tbk tidak akan berdiam diri melihat anak-anak yang memiliki keistimewaan namun tidak melanjutkan sekolahnya karena kesulitan biaya pendidikan.

“Untuk itu bersama pihak sekolah (Yayasan Al Barokah) kita tidak akan berdiam diri karena siswa-siswi istimewa ini wajib meneruskan pendidikan sekolahnya hingga meraih ilmu setinggi-tingginya dan berhasil mendapatkan Beasiswa Pendidikan dari PT Bukit Asam Tbk,” jelas Saman.

Senada juga dikatakan Yuli, selaku Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah I Tanjung Enim. Menurutnya, pihaknya bersama PTBA sudah lama menjalin kerja sama terutama dibidang pendidikan. Sasarannya pun adalah anak-anak yang orang tuanya tidak mampu membiayai khususnya anak-anak yang hampir putus sekolah.

“Kami mewakili Staf, guru SD, SMP, SMA di Muhammadiyah 1 Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, dan kedua orang tua siswa penerima dana pendidikan. Kami sangat mengucapkan banyak terima kasih kepada PT Bukit Asam tbk karena bentuk kepedulian dan perhatianya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat,” ucapnya.

Sementara seperti diketahui, dua kakak beradik Tiara dan Julia. Disaat kebanyakan anak-anak lainnya bebas dan bermain ceria menikmati masa kecilnya, namun tidak bagi Tiara dan Julia. Keduanya dituntut membanting tulang dan tak mengenal waktu ikut bekerja membantu kedua orang tuanya, yang hanya berprofesi pekerja buruh serabutan dan pemulung.

Selain bertarung dengan waktu dan kerasnya kehidupan, yang seharusnya belum mereka alami. Kedua bocah ini harus hidup dengan penuh kekurangan dan jauh dari kelayakan. Bahkan, semenjak 2 bulan terakhir di masa pandemi Covid-19 ini keduanya harus tinggal bersama kedua orang tuanya tanpa ada penerangan listrik dan air bersih di rumahnya.

Namun, kondisi itu tidak sedikitpun membuat keduanya berkeluh kesah. Bahkan, bersama saudara-saudaranya mereka lebih memilih menghabiskan waktu belasan jam, demi sesuap nasi untuk membantu ibunya mengumpulkan barang-barang bekas. Meski bernasib yang tak sebanding dengan teman-temannya, Tiara tak henti-hentinya untuk bermimpi. Bersama adiknya Julia Sari yang masih berusia 7 tahun, ia terus memberikan motivasi dan semangat untuk meneruskan pendidikan sekolah hingga menimba ilmu setinggi-tingginya.

Kondisi tak jauh berbeda juga dirasakan oleh Cristina. Diusianya yang baru menginjak 11 tahun ini, dirinya harus menjalani pengalaman hidup yang luar biasa. Sama dengan Tiara dan Julia, Cristina juga harus bekerja membanting tulang demi membantu kedua orang tuanya.

Bahkan, dengan penghasilan orang tuanya yang hanya sebagai pekerja buruh tani penggarap hasil tanaman ladang ubi milik warga, ditambah beban ekonomi yang tidak berkecukupan membuat pendidikan sekolah Cristina tersendat. Semestinya diusianya yang sekarang, Cristina harus sudah duduk di bangku Kelas 5 SD.

Cristina pun harus hidup bersama kedua orang tuanya, serta lima saudaranya dalam kondisi memprihatinkan dan ekonomi yang hanya untuk bertahan hidup. Ia juga harus tinggal tanpa ada penerangan listrik walau disekitar tempat tinggalnya banyak yang berkecukupan.

Laporan : Deka III Editor : Donni

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here