Khilafah, Obat Untuk Dunia

608
Ismawati (Aktivis Dakwah Muslimah)

Oleh : Ismawati (Aktivis Dakwah Muslimah)

Sudah hampir 6 bulan dunia dihadapkan dengan pandemi virus corona. Bahkan virus ini menjangkit negeri kita, Indonesia. Pandemi ini mengakibatkan dunia dan Indonesia mengalami krisis ekonomi. Klaim lambannya pemerintah menangani kasus ini dinilai akan mampu menghantarkan Indonesia ke jurang krisis yang semakin dalam.

Dilansir dari Republika.co.id pada tanggal 27 April 2020. Kepala ekonom CIMB Niaga, Adrian Panggabean, menilai krisis ekonomi 2020 memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan krisis 1997-1998. Beliau mengatakan, ada tiga dimensi besar yang saling berhubungan satu sama lain tentang krisis ekonomi 2020. Yakni pertama, wabah covid-19. Kedua kebijakan sosio-politik untuk menekan penyebaran covid-19 melalui kebijakan social distancing ditentukan oleh kemampuan negara di dunia untuk mengatasi covid-19 dan physical distancing terkait bagaimana dan berapa lama durasinya. Ketiga, pengaruh negatif bagi perekonomian dunia.

Pandemi virus corona betul-betul mematikan perekonomian dunia. Negara adidaya pun tak mampu mengatasi krisisnya. Virus kecil ini mampu membuat negara tak berdaya. Bahkan, China dan Amerika menjadi negara yang paling banyak tertular virusnya. China misalnya, meski dikatakan sudah pulih keadaannya, tetap saja dibayang-bayangi gelombang kedua yang mungkin bisa bertambah parah.

Sistem kapitalisme yang digadang-gadang mampu mengatasi pandemi, nyatanya semakin lemah tak berdaya. Alhasil, kebijakan new normal dipaksakan, alih-alih untuk menyembuhkan ekonomi yang semakin sakit, justru bertambahnya kasus baru yang terus meningkat. Begitukah makna hidup berdampingan dengan corona?

/ Kapitalis Semakin Jelas  Kegagalannya /

Corona seolah membuka mata dunia. Kegagahan ideologi kapitalisme yang diemban negara saat ini tak mampu memutus rantai penyebaran corona. Bahkan, penularannya semakin massif dan tak tekendali. Bisa menginfeksi siapa saja yang dikehendaki. Tak memandang tua atau muda, semua bisa terpapar.

Solusi yang ditawarkan dalam ideologi kapitalis tak juga dapat menghantarkan pada solusi hakiki. Justru, ekonomi semakin menunjukkan tanda-tanda resesi. Bahkan bukan hanya kesehatan yang terdampak, juga ada krisis lain yakni krisis pangan hingga krisis keuangan.

Lihat saja bagaimana penanganan wabah corona yang terkesan setengah hati. Menerapkan karantina wilayah tapi kebutuhan pokok masyarakat tak tercukupi. Alhasil, masih banyak masyarakat keluar rumah bekerja meskipun protokol kesehatan ditaati. Sebab, apabila tak bekerja, kebutuhan sehari-hari tak terpenuhi.

Karantina saja hanya dilakukan beberapa wilayah, sementara akses keluar masuk warga Negara asing dibuka lebar. Padahal, peluang masuknya virus sangat besar dari sana.

Tidakkah corona memberi sebuah pelajaran. Bahwa apabila tidak menerapkan prinsip syariah dalam menyelesaikan wabah, justru akan menimbulkan masalah-masalah baru. Dalam hal makanan misalnya, islam telah memerintahkan manusia untuk memakan makanan yang halal lagi thayyib, bukan asal enak, unik dan mengenyangkan saja. Termasuk menjaga kebersihan dan adab-adab makan lainnya. Maka, pentingnya kembali kepada islam, sebagai jalan satu-satunya mengembalikan tatanan kehidupan. Rusaknya ideologi kapitalis adalah tanda bahwa ideologi ini harus diganti.

Tantangan menghadirkan kembali ideologi yang shahih yakni sistem islam memang sangat berat. Karena pasti ada musuh-musuh yang selalu menghadangi jalan perjuangan ini. Seperti dengan jumawa mengatakan “Orang Corona solusinya dikasih obat, bukan Khilafah”. Padahal, yang sakit bukan hanya manusia saja. Tapi sistem yang mengatur kehidupan negara pun ikut sakit. Maka harus diberi obat yang mujarab. Artinya, tidaklah cukup mengembalikan kesembuhan individu secara fisik, tapi kesembuhan negara dengan tata kelolanya agar diatur sesuai dengan syariat islam secara kaffah (keseluruhan).

/ Cara Islam Atasi Masalah /

Adalah islam sebagai satu-satunya jalan kebangkitan. Karena islam bukan sekedar agama ritual tapi juga mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Ingatlah bahwa bumi kita adalah milik Allah SWT. Maka, sudah selayaknya kita tunduk pada aturan dari sang pencipta. Yakni dengan mewujudkan sistem pemerintahan islam (Khilafah) untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Karena Khilafah bersumber dari wahyu bukan nafsu.

Sepanjang sejarahnya, Khilafah merupakan sistem pemerintahan yang telah terbukti berdiri selama 1300 tahun dan selalu menerapkan konsep syariah islam dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya, bahkan dalam penyelesaian wabah pernah terjadi didalam islam.

Ketika terjadi wabah di massa pemerintahan Khalifah Umar Bin Khathtab tepatnya pada tahun 18 Hijriyah. Wabah Tha’un terjadi di Amawas, yang kemudian menyebar cepat ke dataran rendah Yordania hingga terus menginfeksi orang-orang yang ada disana. Sang Khalifah memerintahkan untuk tidak memasuki kawasan yang terkena wabah atau menerapkan lockdown total. Karena berdasarkan sabda Nabi SAW :

“Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya, kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada disana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.”

Inilah hukum syara’ dalam islam, mengunci daerah yang terdampak wabah untuk menghindari tersebarnya virus semakin besar. Dan kepada daerah yang dikunci akan dicukupkan kebutuhan pokoknya, sehingga mereka bisa fokus dalam upaya penyembuhan.

Khilafah merupakan ajaran islam berasal dari sang pencipta. Oleh karena itu, tak pantas kita sebagai muslim menghalang-halangi berdirinya Khilafah. Karena tegaknya Khilafah adalah sebuah keniscayaan bahkan tidak akan ada yang mampu menghalangi kembalinya sistem yang shahih ini. Maka, Khilafah adalah solusi bagi dunia. Karena menerapkan tatanan kehidupan yang benar adalah jika sistem yang berdiri atasnya sesuai syariat islam.

Wallahu a’lam bishowab.

New Subject

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here