Kesal, Sertifikat Tanah Tak Kunjung Terbit, Warga Desa Sinar Harapan Mulya Datangi Polres OKI

27
Kesal, Sertifikat Tanah Tak Kunjung Terbit, Warga Desa Sinar Harapan Mulya Datangi Polres OKI
Ernani, Warga Desa Sinar Harapan Mulya, saat mendatangi Polres OKI, Kamis (25/2/2021). Ernani mengaku kesal, lantaran sertifikat tanah melalui Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) miliknya tak kunjung terbit dari pihak ART/BPN Kabupaten OKI.

OKI – Diduga kesal, lantaran sertifikat tanah melalui Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) miliknya tak kunjung terbit dari pihak ART/BPN Kabupaten OKI, seorang warga Desa Sinar Harapan Mulya, yakni Ernani mendatangi Mapolres OKI, Kamis (25/02/2021).

Menurut Ernani, kejadian tersebut juga dialami puluhan warga lainnya. Ia pun mengungkapkan, mengaku tertipu oleh oknum mantan kadesnya, karena telah menyetorkan uang dengan besaran bervariasi mulai dari Rp 1,6 juta sampai Rp 3,6 juta untuk pembuatan sertifikat itu. Padahal biaya PTSL sendiri dipatok pemerintah hanya sebesar Rp 200 ribu.

Kendati rela membayar dengan harga tinggi, namun sertifikat lahan yang ditunggu tak kunjung terbit dari pihak ART/BPN Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dari 2017 hingga sekarang. “Kami merasa tertipu oleh oknum mantan kepala desa ini,” ungkap Ernani, saat ditemui di Mapolres OKI, Kamis (25/2/2021).

Dikatakan Ernani, dirinya bersama warga lainnya sudah berupaya menanyakan perihal sertifikat tanah mereka yang belum juga terbit. “Tapi saat ditemui yang bersangkutan tidak ada itikad baik, justru berkilah kalau dirinya tidak makan uang yang mereka setor itu melainkan uang tersebut disetor dengan oknum bernama M (inisial, red) padahal dia, yang memungut langsung dana tersebut, beserta bukti materai,” jelas Ernani, kesal.

Ernani melanjutkan, karena merasa tidak puas dan tidak ada kejelasan kapan terbitnya sertifikat lahan mereka, diapun mendatangi kantor ART/BPN Kabupaten OKI, menemui petugas PTLS. “Kata pak B (inisial) sertifikat akan diterbitkan, namun kami dengan masyarakat lainnya harus kembali menyetor dana Rp 200 ribu lagi,” ucapnya.

Akhirnya sambung Ernani, mereka pun menyepakati permintaan tersebut. “Besoknya saya bawah uang dengan warga, agar sertifikat kami dibuatkan, tapi pada saat di loket pendaftaran berubah dari kesepakatan, pihak ART/BPN minta satu berkas Rp 2,8 juta jelas kami tidak mau, dari kesepakatan awal Rp 200 ribu per berkas, justru naik Rp 2,8 juta,” terangnya.

Terpisah Kepala ART/BPN Kabupaten OKI, Moch Zamili, saat dikonfirmasi awak media terkait pemasalahan itu menjelaskan, bahwa yang bersangkutan (Ernani) pernah menemui dirinya terkait hal tersebut.

Menurut Zamili, ada 200 berkas PTSL yang masuk pada tahun 2017 lalu milik masyarakat Desa Sinar Harapan Mulya. Dia katakan, dari hasil verifikasi, sebanyak 65 berkas yang dikembalikan tidak bisa diproses karena tidak mencukupi syarat.

“Sisanya bisa diterbitkan sertifikatnya,” terang Zamili.

Zamili kembali menyebutkan, 65 berkas itu tidak bisa diterbitkan,termasuk milik rombongan ibu Ernani, dan berkas sudah dikembalikan pada tahun 2017 lalu. “Jadi saya rasa bukan kesalahan dari ART/BPN,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, jika warga ingin membuat sertifikat tersebut, harus mengikuti pendaftaran jalur biasa. “Bisa saja diterbitkan tapi lewat jalur biasa, karena program PTSL sudah tidak ada, itu saja solusinya,” jelasnya.

Terakhir, Zamili juga menyarankan kepada warga untuk menanyakannya langsung kepada oknum kades yang semula memungut biaya tersebut.(SMSI OKI)

Editor : Donni

sumatranews.co.id1 id : 10717 Under Article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here