Kasus Traficking Terus Merebak, Bukti Sistem Kapitalis Tak Mampu Lindungi Perempuan

72

Oleh : Hj. Padliyati Siregar ST (Ketua Komunitas Peduli Generasi Palembang)

DILANSIR dari sebuah media di Jakarta,  Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membenarkan ada perempuan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga menjadi korban perdagangan manusia di China. Setelah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bertemu Presiden Joko Widodo, Kamis (18/7/2019) kemarin serta melaporkan dugaan perdagangan manusia, Retno langsung menghubungi Duta Besar China yang ada di Jakarta untuk mengonfirmasi informasi itu. Ternyata benar, ada sebanyak 15 perempuan asal Indonesia yang diduga menjadi korban perdagangan manusia.

Namun, Retno mengakui, ada perbedaan pandangan antara hukum Indonesia dengan hukum di China mengenai persoalan tersebut. Retno menjelaskan, para wanita itu dikirim ke China untuk menikah dengan lelaki asal Negeri Tirai Bambu itu dengan imbalan sejumlah uang. Hukum di Indonesia berpandangan bahwa peristiwa itu dikategorikan sebagai bentuk perdagangan manusia. Apalagi, pemerintah Indonesia sudah memiliki bukti kuat bahwa mereka adalah benar korban perdagangan manusia. Sementara hukum China berpandangan bahwa hal tersebut merupakan masalah keluarga. Retno pun terus berupaya membawa persoalan ini ke ranah hukum Indonesia.

Saat ini, pemerintah Indonesia masih fokus memulangkan para wanita tersebut ke Indonesia. Diketahui, sudah ada wanita yang berhasil dipulangkan. Untuk mencegah hal semacam ini terjadi kembali, Retno mengatakan Kemenlu akan aktif berkomunikasi dan menggelar sosialisasi ke daerah asal para WNI tersebut. Kemenlu akan memberikan pemahaman agar masyarakat, terutama wanita, untuk waspada apabila menemukan tawaran untuk menikah di luar negeri.

Fakta lain juga membuktikan  bahwa kasus human traficking, International Organization for Migration (IOM) menyebut dalam 10 tahun terakhir, ada 8.515 orang WNI yang menjadi korban pedagangan manusia atau human trafficking. Itu pun hanya kasus yang terlaporkan dan hanya mencakup kasus buruh migran. Sementara yang tidak terlaporkan, termasuk yang terjadi pada bentuk-bentuk human traficking di luar kasus buruh migran, jumlahnya ditengarai jauh lebih banyak. Hingga bisa dipastikan angka tersebut hanya merupakan fenomena puncak gunung es. Kenyataannya jauh lebih mengerikan dibanding data yang di publikasikan.

Persoalan perempuan dan generasi terus bergulir, frekuensinya terus meningkat dan secara kualitatif semakin mengerikan. Eksploitasi perempuan, pergaulan bebas, prostitusi, narkoba, aborsi, kekerasan, perselingkuhan, perceraian, perdagangan perempuan dan anak, pornografi, pedofilia,  hingga pembunuhan kerap menjadi berita yang mencengangkan. Kejadiannya semakin bervariasi. Adapun Islam, memosisikan perempuan di tempat yang bergengsi, dan posisi inilah yang berhak dia peroleh sebagai manusia yang bermartabat. Posisi itu adalah ummu wa robbatul bait (ibu dan manajer rumah tangga). Selain itu di dalam Islam, perempuan adalah kehormatan yang harus dijaga. Islam memberikan hak-hak yang sama kepada perempuan seperti halnya pada laki-laki, karena perempuan adalah saudara kandung laki-laki. Islam pun menetapkan hukum-hukum yang memelihara hak-hak perempuan, menjaga kemuliaan, dan menjaga potensi/ kemampuannya.

Kapitalisme Merusak Perempuan

Siapa pun yang menggunakan akal sehatnya pasti akan percaya rusaknya sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan saat ini. Penerapan sistem kapitalis-sekuler telah membawa seluruh manusia ke dalam kesengsaraan, termasuk perempuan. Sistem ini memaksa perempuan bekerja untuk bisa hidup. Sistem ini tidak mewajibkan pada suami atau orangtua (ayah) memberikan nafkah kepadanya, sehingga perempuan menjadi sengsara. Akibatnya perempuan lalai kepada anak-anak dan keluarganya. Terlebih lagi, ketika perempuan bekerja di tengah-tengah masyarakat, mengalami pelecehan atas kehormatannya.

Hal-hal inilah yang kita saksikan di negeri-negeri barat, bahkan negeri-negeri Islam yang terpengaruh kapitalis barat. Semuanya berada dalam kondisi kehidupan yang buruk. Sebagai contoh di Indonesia, perempuan terjun ke dunia kerja dan  banyak dari perempuan telah menyibukkan dirinya (menenggalamkannya dalam kesibukan) sehingga dia tidak bisa menjaga tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Demikian juga, laki-laki yang terpengaruh kapitalis telah berlepas  tangan untuk menafkahi perempuan dan  membantu kehidupan perempuan, sehingga  perempuan terpaksa masuk ke dunia kerja.

Di Indonesia ada jutaan perempuan yang menjadi pekerja buruh industri, pertanian, dan sisanya masuk dalam sektor perdagangan. Perempuan eksis dalam karir sebagai tekhnisi, dokter, guru dan  profesi lainnya, sebagaimana juga terdapat jutaan buruh migran yang pergi ke Malaysia, Negara teluk dan negeri Syam. Mayoritas dari buruh migran ini tidak memperoleh hak-hak secara sempurna. Upah mereka umumnya lebih kecil dari laki-laki. Mereka tidak mendapatkan layanan kesehatan yang memadai, khususnya ibu-ibu hamil dan menyusui. Apalagi didapati para  buruh migran ini banyak yang  buta huruf sehinggaT seringkali mendapatkan eksploitasi/penganiayaan, pelecehan seksual dan perlakuan yang tidak layak. Bahkan beberapa dari mereka disiksa dan dibunuh.

Seluruh fenomena di atas merupakan  bagian yang terjadi di negara barat,dan kondisi ini di bawa oleh pembebek tsaqofah barat ke negerinya. Di negeri-negeri islam banyak sekali program yang digencarkan dalam rangka target menghancurkan keluarga muslim melalui penyebaran tsaqofah yang rusak kepada kalangan perempuan.

Sistem kapitalis-demokrasi telah berbohong dalam undang-undang yang mengklaim menjaga hak-hak perempuan dan menyetarakan antara perempuan dan laki-laki.  Padahal hal ini tidak pernah terjadi sampai sekarang di negara-negara barat.

Islam Menjaga Kehormatan Perempuan

Sejarah Islam telah memperlihatkan model cemerlang yang mengungkap peran muslimah dalam mengoreksi penguasa. Adalah seorang muslimah yang menggugat  khalifah Umar bin Khaththab ketika Umar menetapkan pembatasan mahar, dengan membacakan surat an-Nisaa: 20. Kemudian Umar menarik keputusannya, seraya mengatakan: Perempuan itu benar dan Umar Salah!

Pada masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, ketika seorang Muslimah jilbabnya ditarik oleh salah seorang Romawi, ia segera menjerit dan meminta tolongan kepada Khalifah: Wa Islama wa mu’tashima!, “Di mana Islam dan di mana Khalifah Mu’tashim?”. Ketika mendengar jeritan perempuan muslimah tersebut,  Khalifah serta-merta bangkit dan memimpin sendiri pasukannya  untuk membela kehormatan seorang muslimah yang dinodai oleh seorang pejabat kota tersebut (waktu itu masuk dalam wilayah kekaisaran Romawi).

Kepala Negara Daulah Khilafah Islamiyah ini mengerahkan ratusan ribu tentaranya ke Amuria-perbatasan antara Suria dan Turki.  Sesampainya di Amuria, beliau meminta agar orang Romawi pelaku kezaliman itu diserahkan untuk diadili. Saat penguasa Romawi menolaknya, beliau pun segera menyerang kota, menghancurkan benteng pertahanannya dan menerobos pintu-pintunya hingga kota itu pun jatuh ke tangan kaum muslimin.

Khalifah Umar bin Khaththab suatu saat mendengar keluhan seorang perempuan yang ditinggal suaminya berperang, beliau pun bertanya kepada putrinya, Hafshah Ummul Mukminin tentang lamanya istri sanggup ditinggal suaminya. Hafshah menjawab bahwa perempuan sanggup  menahannya selama empat bulan. Setelah itu Umar pun menurunkan keputusannya kepada panglima perang, agar mengumumkan kepada tentara yang sudah berkeluarga untuk kembali kepada istri mereka setelah empat bulan. Inilah pertama kalinya keluar qanun (undang-undang) Islam  terhadap prajurit Islam.

Inilah model cemerlang kehidupan kaum muslimin bagi penjagaan mereka terhadap perempuan dengan memposisikan mereka sebagai kehormatan yang wajib dijaga.  Rasulullah pun telah mewasiatkan untuk menjaga perempuan dan memperlakukannya dengan baik.  Sabda Rasulullah : Perlakukanlah perempuan dengan baik (HR Muslim).

Islam pun menetapkan bahwa memelihara kehormatan perempuan hukumnya wajib. Orang-orang yang terbunuh karena mempertahankan kehormatannya adalah syahid akhirat, artinya memperoleh pahala syahid mujahid di jalan Allah. Sabda Rasululah ﷺ: “Barang siapa yang terbunuh (dibunuh) demi keluarga, maka dia syahid “(HR. Nasai)

Maka, tidak mungkin bagi perempuan bisa menikmati kebahagiaan, ketenangan dan memperoleh hak-haknya secara menyeluruh kecuali dengan penerapan syariah Islam secara kafaah. Syari’ah kaffah tidak akan tegak kecuali dengan Khilafah Islam yang telah dikabarkan oleh Rasulullah  dalam riwayat Ahmad (…”kemudian akan ada khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”), sebagaimana juga yang telah dijanjikan Allah Rabul Izzati dalam Surat An-Nur: 55. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here