Kasus Penyerangan Ulama, Kapolri Bingung Bisa Serba Kebetulan

0
162
Jenderal Tito Karnavian (Foto: Net)

Sumateranews.co.id, JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku bingung dengan tiga kasus penyerangan ulama yang pelakunya sama-sama orang tak waras. Dia menilai wajar bila masyarakat menyimpan prasangka adanya upaya sistematis di balik tiga kejadian yang berdekatan waktu itu.

“Ada beberapa pertanyaan yang menggantung di kita sehingga ini penyelidikan belum selesai, kok bisa ya kebetulan tiga kasus itu, yang dua di Jawa Barat dan satu di Jawa Timur, kok orangnya gangguan jiwa semua? Sama, kami (polisi) pun bertanya,” ungkap Tito di hadapan jemaah Muhammadiyah dalam acara pengajian di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Jumat (9/3/2018).

Tito mengatakan, untuk menjawab pertanyaan itu, kepolisian terus melakukan pendalaman. Salah satunya dengan cara menarik data dari ponsel ketiga pelaku untuk mengetahui jejak komunikasi mereka apabila memang ada pihak lain yang memanfaatkan gangguan emosional para pelaku.

“Tapi itu sedang didalami. Maka itu kita dalami lagi, (data) HP-nya ditarik satu bulan ke belakang, dia berhubungan dengan siapa saja. Ini sedang berjalan. Masih berkembang,” sambung Tito.

Tak hanya itu, Tito juga merasa terganggu oleh adanya lima kasus yang melibatkan lima marbut atau penjaga masjid/musala yang dinyatakan sebagai rekayasa penyerangan ulama. Kelima marbut mengaku sengaja merekayasa seolah-olah mereka ulama yang mengalami serangan, dengan motif cari perhatian.

“Yang kedua, yang menggantung lagi di kita, ada lima kasus yang dilaporkan (ulama) dianiaya. Kok mirip semua jawaban (motif)-nya. Jawabannya karena minta perhatian, karena sebagai pengurus masjid tidak diberi kesejahteraan yang baik,” tutur dia.

“Lima-limanya sama jawabannya. Oke, saya perintahkan kepada Pak Gatot (Staf Ahli Kapolri bidang Sosial dan Ekonomi/Kasatgas Nusantara Irjen Gatot Eddy Pramono) untuk didalami,” imbuh Tito.

Jenderal bintang empat ini mengimbau kepada anggotanya agar tak mudah percaya pada pengakuan-pengakuan para pelaku rekayasa isu penyerangan ulama. Menurut Tito, penting untuk diketahui mengapa kelima pelaku sampai bersedia terlibat penyebaran berita bohong.

“Jangan percaya begitu saja. Fine, kalau dia sudah minta maaf, sudah terbukti bahwa tidak terjadi (penyerangan ulama), itu sudah bagus. Tapi kenapa mau-maunya sampai diviralkan lagi di media. Ini terus kita dalami,” ucapnya.

“Bahkan dengan izin pesantrennya, bila perlu, kita jadikan tersangka supaya ada efek deteren terhadap yang lain sekaligus biar dia ‘bunyi’ kalau memang ada pihak ketiga yang memanfaatkan dia,” lanjut Tito.

Dengan kebingungan-kebingungan ini, Tito menyimpulkan Polri belum bisa memastikan ketiadaan upaya sistematis pihak tertentu di balik maraknya isu penyerangan ulama.

“Saya tidak memastikan bahwa tidak terjadi upaya yang sistematis di darat (dunia nyata). Tapi Polri belum menemukan,” tutup dia.

 

 

Sumber : Detikcom

Editor    : Syarif