Jaksa Tuntut Mantan Kasat Pol PP OKUT 6,5 Tahun Penjara

0
391

Sumateranews.co.id, PALEMBANG – Terkait dugaan melakukan tindak pidana korupsi dana pengamanan angkutan batu bara (kebisingan) pada tahun 2014 dan 2015 mengakibatkan negara mengalami kerugian senilai lebih kurang Rp 600 juta. Akhirnya mantan Kepala Satuan polisi Pamong Prjaja (Kasat Pol PP) Kabupaten OKU Timur, Okto Sriherjani, di tuntut Jaksa dengan hukuman 6,5 tahun penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari OKU Timur Aan Syaiful Anwar SH berpendapat bahwa terdakwa Okto Sriherjani terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi untuk memperkaya diri sendiri sebagaimana didakwa dalam pasal 2 ayat (1) Jo pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi‎.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Okto Sriherjani dengan pidana penjara selama enam tahun dan enam bulan (6,5 tahun) penjara, dan membayar pidana denda Rp300 juta dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar maka dapat diganti dengan kurungan penjara selama enam bulan”, tegas JPU dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Paluko Hutagalung SH MH, pada sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Klas IA Khusus Palembang,‎ Kamis (24/8/2017).

Tidak hanya itu bahkan JPU juga membebankan terdakwa harus membayar Uang Pengganti (UP) senilai RP 40 Juta , apabila UP tersebut tidak dibayar maka dapat diganti dengan kurungan penjara selama dua tahun.

Dalam dakwaan JPU menyimpulkan, berdasarkan audit dari inspektorat dimana kas negara mengalami kerugian mencapai Rp 699.600.000, ‎ terdakwa sendiri telah menitipkan sejumlah uang guna mengganti kerugian negara senilai RP 102 Juta.

Sedangkan terdakwa Desi Maiprastuti (36) mantan Kasubag keuangan Satpol PP Ogan Komering Ulu UKU Timur, Sumsel dituntut jaksa hukuman lima tahun enam bulan (5,6 tahun) penjara membayar denda sebanyak Rp 200 juta rupiah, apabila denda tidak dibayar diganti dengan hukuman penjara selama enam bulan. Serta uang tunai Rp24 juta dirampas sebagai penganti kerugian keuangan negara yang ditimbulkan akibat perbuatan terdakwa Desi dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama dua tahun. Sementara itu Hardy terlibat kasus yang sama, sudah divonis empat tahun enam bulan penjara.

Untuk diketahui, terungkap di pesidangan atas perbuatan ketiga terdakwa kerugian negara sekitar Rp. 600 Juta lebih. Adapun modus yang digunakan tersangka untuk mendapatkan uang adalah dengan tidak membayar atau memotong uang pengamanan mobil batu bara tersebut. Selain itu, modus lainnya adalah dengan membuat laporan fiktif.

Pada tahun 2014-2015 itu uang pengamanan sebesar Rp. 1 Miliar, namun yang dibayarkan hanya setengahnya saja. Dalam pertanggungjawaban mereka membuat laporan dibayarkan semua.

 

 

Laporan : SU

Editor    : Syarif

sumatranews.co.id1 id : 10717 Under Article